Delapan Asnaf Mustahiq Zakat Yang Perlu Kita Ketahui

Delapan Asnaf Mustahiq Zakat Yang Perlu Kita Ketahui – Pada Materi Kultum Sebelumnya kami sudah sampaikan Kultum Ramadhan Tentang; Membagikan Zakat Fitri. Dan pada kesempatan kali ini Duta Dakwah akan menyampaikan matero Kultum Ramadhan Tentang; Delapan Asnaf Mustahiq Zakat Yang Perlu Kita Ketahui. Materi ini In Syaa Allah akan kami sampaikan secara ringkas.

Delapan Asnaf Mustahiq Zakat Yang Perlu Kita Ketahui

Yang berhaq menerima zakat yang lazim disebut dengan kata “Mustahiq Zakat”  itu banya sebagaimana diterangakan dalam al-quran. Untuk lebih jelasnya sebaiknya antum silahkan baca materi Kultum Duta Dakwah dibawah ini dengan Seksama.

Materi Kultum

بسم الله الرّحمن الرّحيم السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ

الـحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَـمِيْنَ ، وَالعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ ، فَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِـمِيْنَ ؛ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ وَالـمُرْسَلِيْنَ ،نَبِيِّنَا وَحَبِيْبِنَا مُـحَمَّدٍ أَرْسَلَهُ اللهُ رَحْـمَةً لِلْعَالَمِيْنَ ، وَعَلَى اَلِهِ أَزْوَاجِهِ الطَّاهِرَاتِ أُمَّهَاتِ الـمُؤْمِنِيْنَ ، وَعَلَى آلِهِ الطَّيِّبِيْنَ وَأَصْحَابِهِ الغُرِّ الـمَيَامِيْنِ ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ

Segala Puji Bagi Allah, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi besar Muhammad s.a.w. Bapak-bapak dan Ibu-ibu Kaum Muslimin wal-Muslimat Rahimakumullah, pada kesempat Kultum kali ini kami akan sampaikan mengnai delapan asnaf mustahiq zakat.

Dalil Asnaf yang Delapan

Firman Allah SWT dalam surat at-taubah ayat 60:

اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ * بسم الله الرّحمن الرّحيم : إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاء وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِّنَ اللّهِ وَاللّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ، التوبة : 60

Artinya: Aku berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk, Dengan menyebut nama Allah yang maha Pengasih lagi maha Penyayang. Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Taubah : 60)

Penyaluran Zakat ke Delapan Asnaf

Penyaluran Zakat demikian juga diterangkan dalam kitab fiqih Fathul-qorib sebagi berikut:

وَتُدْفَعُ الزَّكَاةُ إِلَى الْأَصْنَافِ الثَّمَانِيَّةِ الَّذِيْنَ ذَكَرَهُمُ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْعَزِيْزِ فِيْ قَوْلِهِ تَعَالَى {إِنَّما الصَّدَقَاتُ للْفُقَرَاءِ وِالمسَاكِينِ وَالعَامِلِينَ عَلَيْها وَالمؤَلَّفةِ قُلُوبُهمْ وَفي الرِّقابِ وَالغَارِمِينَ وَفي سَبيلِ الّلهِ وَابْنِ السَّبيلِ} (سورة التوبة: الآية: 60) الخ… وَهُوَ ظَاهِرٌ غَنِيٌ عَنِ الشَّرْحِ إِلَّا مَعْرِفَةَ الْأَصْنَافِ الْمَذْكُوْرَةِ

Zakat diberikan kepada delapan golongan yang telah disebutkan oleh Allah SWT di dalam kitab-Nya yang mulia di dalam firman-Nya, “shadaqah hanya di haki oleh orang-orang fakir, orang-orang miskin, orang-orang yang memproses shodaqah, orang-orang yang di lulutkan hatinya, budak, gharim, sabilillah, ibn sabil” sampai akhir. Firman Allah SWT ini telah jelas dan tidak perlu untuk dijelaskan lagi kecuali penjelasan untuk mengetahui golongan-golongan tersebut.

FAKIR

فَالْفَقِيْرُ فِيْ الزَّكَاةِ هُوَ الَّذِيْ لَا مَالَ لَهُ وَلَا كَسْبَ يَقَعُ مَوْقِعاً مِنْ حَاجَتِهِ، أَمَّا فَقِيْرُ الْعَرَايَا فَهُوَ مَنْ لَا نَقْدَ بِيَدِهِ

Maka adapun orang yang faqir di dalam zakat adalah orang yang tidak memiliki harta dan tidak memiliki pekerjaan yang bisa mencukupi kebutuhannya. Adapun orang yang faqir di dalam pembahasan ‘araya, maka dia adalah orang yang tidak memiliki nuqud (uang).

MISKIN

وَالْمِسْكِيْنُ مَنْ قَدَرَ عَلَى مَالٍ أَوْ كَسْبٍ يَقَعُ كُلُّ مِنْهُمَا مَوْقِعاً مِنْ كِفَايَتِهِ، وَلَا يَكْفِيْهِ كَمَنْ يَحْتَاجُ إِلَى عَشَرَةِ دَرَاهِمَ، وَعِنْدَهُ سَبْعَةٌ

Miskin adalah orang yang memiliki harta atau pekerjaan, masing-masing dari keduanya sudah agak mencukupi tapi masih kurang, seperti orang yang membutuhkan sepuluh dirham namun dia hanya memiliki tujuh dirham.

AMIL ZAKAT

وَالْعَامِلُ مَنْ اِسْتَعْمَلَهُ الْإِمَامُ عَلَى أَخْذِ الصَّدَقَاتِ وَدَفْعِهَا لِمُسْتَحِقِّيْهَا

Amil adalah orang yang dipekerjakan oleh imam untuk mengambil sedekah dan menyerahkan pada orang-orang yang berhak menerimanya.

MUALAF (YANG DILUNAKKAN) HATINYA

وَالْمُؤَلَّفَةُ قُلُوْبُهُمْ وَهُمْ أَرْبَعَةُ أَقْسَامٍ: أَحَدُهَا مُؤَلَّفَةُالْمُسْلِمِيْنَ وَهُوَ مَنْ أَسْلَمَ، وَنِيَّتُهُ ضَعِيْفَةٌ فَيُتَأَلَفُ بِدَفْعِ الزَّكَاةِ لَهُ، وَبَقِيَةُ الْأَقْسَامِ مَذْكُوْرَةٌ فِيْ الْمَبْسُوْطَاتِوَالْمُؤَلَّفَةُ قُلُوْبُهُمْ وَهُمْ أَرْبَعَةُ أَقْسَامٍ: أَحَدُهَا مُؤَلَّفَةُالْمُسْلِمِيْنَ وَهُوَ مَنْ أَسْلَمَ، وَنِيَّتُهُ ضَعِيْفَةٌ فَيُتَأَلَفُ بِدَفْعِ الزَّكَاةِ لَهُ، وَبَقِيَةُ الْأَقْسَامِ مَذْكُوْرَةٌ فِيْ الْمَبْسُوْطَاتِ

Mualaf qulubuhum, golongan ini ada empat bagian. Salah satunya adalah muallaf muslimin, yaitu orang yang baru masuk Islam dan niatnya masih lemah di dalam Islam, maka ia dilunakkan dengan memberikan zakat padanya. Untuk bagian-bagian yang lain dijelaskan di dalam kitab-kitab yang luas pembahasannya.

BUDAK MUKATAB

وَفِيْ الرِّقَابِ وَهُمْ الْمُكَاتَبُوْنَ كِتَابَةً صَحِيْحَةً، أَمَّا الْمُكَاتَبُ كِتَابَةً فَاسِدَةً، فَلَا يُعْطَى مِنْ سَهْمِ الْمُكَاتَبِيْنَ

Wafirriqab, mereka adalah budak-budak mukatab yang melakukan akad kitabah yang sah. Sedangkan budak mukatab yang melakukan akad kitabah yang tidak sah, maka ia tidak diberi bagian budak-budak mukatab.

GHARIM (PUNYA HUTANG)

وَالْغَارِمُ عَلَى ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ: أَحَدُهَا مَنْ اِسْتَدَانَ دَيْناً لِتَسْكِيْنِ فِتْنَةٍ بَيْنَ طَائِفَتَيْنِ فِيْ قَتِيْلٍ لَمْ يَظْهَرْ قَاتِلُهُ، فَتَحْمِلُ دَيْنَهُ بِسَبَبِ ذَلِكَ، فَيُقْضَى دَيْنُهُ مِنْ سَهْمِ الْغَارِمِيْنَ غَنِياً كَانَ أوْ فَقِيْراً، وَإِنَّمَا يُعْطَى الْغَارِمُ عِنْدَ بَقَاءِ الدَّيْنِ عَلَيْهِ، فَإِنْ أَدَاهُ مِنْ مَالِهِ أَوْ دَفَعَهُ اِبْتِدَاءً لَمْ يُعْطَ مِنْ سَهْمِ الْغَارِمِيْنَ، وَبَقِيَةُ أَقْسَامِ الْغَارِمِيْنَ فِي الْمَبْسُوْطَاتِ

Gharim ada tiga bagian. Salah satunya adalah orang yang berhutang untuk meredam fitnah di antara dua golongan dalam masalah orang yang terbunuh dan tidak jelas pembunuhnya, maka ia menanggung hutang sebab itu semua. Maka hutangnya dilunasi dari bagian gharimin, baik ia adalah orang yang kaya atau fakir. Gharim hanya bisa diberi bagian ketika hutangnya masih ada. Jika ia telah melunasi hutang dari hartanya sendiri atau telah memberikan hartanya sejak awal, maka ia tidak diberi dari bagian gharimin. Untuk bagian gharimin yang lain telah dijelaskan di dalam kitab-kitab yang diperluas pembahasannya.

FI SABLILILLAH (MUJAHID)

وَأَمَّا سَبِيْلُ اللهِ فَهُمْ الْغَزَّاةُ الَّذِيْنَ لَا سَهْمَ لَهُمْ فِيْ دِيْوَانِ الْمُرْتَزِقَةِ بَلْ هُمْ مُتَطَوِّعُوْنَ بِالْجِهَادِ

Adapun sabilillah, maka mereka adalah para pejuang yang tidak memiliki bagian pasti di dalam buku besar negara, bahkan mereka berjihad suka rela hanya karena Allah Swt.

IBNU SABIL (MUSAFIR)

وَأَمَّا اِبْنُ السَّبِيْلِ فَهُوَ مَنْ يُنْشِىءُ سَفَراً مِنْ بَلَدِ الزَّكَاةِ، أَوْ يَكُوْنُ مُجْتَازاً بِبَلَدِهَا، وَيُشْتَرَطُ فِيْهِ الْحَاجَةُ وَعَدَمُ الْمَعْصِيَةِ وَقَوْلُهُ (وَإِلَى مَنْ يُوْجَدُ مِنْهُمْ) أَيْ الْأَصْنَافِ فِيْهِ إِشَارَةٌ إِلَى أَنَّهُ فُقِدَ بَعْضُ الْأَصْنَافِ، وَوُجِدَ الْبَعْضُ تُصَرَّفُ لِمَنْ وُجِدَ

فَإِنْ فَقِدُوْا كُلُّهُمْ حُفِظَتْ الزَّكَاةُ حَتَّى يُوْجَدُوْا كُلُّهُمْ أَوْ بَعْضُهُمْ(وَلَا يَقْتَصِرُ) فِيْ إِعْطَاءِ الزَّكَاةِ (عَلَى أَقَلِّ مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ كُلِّ صِنْفٍ) مِنَ الْأَصْنَافِ الثَّمَانِيَةِ (إِلَّا الْعَامِلَ) فَإِنَّهُ يَجُوْزُ أَنْ يَكُوْنَ وَاحِداً إِنْ حَصَلَتْ بِهِ الْكِفَايَةُ، وَإِذَا صُرِّفَ لِاِثْنَيْنِ مِنُ كُلِّ صِنْفٍ غَرَمَ لِلثَالِثِ أَقَلَّ مُتَمَوِّلٍ وَقِيْلَ يَغْرُمُ لَهُ الثُّلُثُ

Adapun ibnu sabil, maka dia adalah orang yang melakukan perjalanan dari daerah yang sedang memproses zakat, atau melewatinya. Ibnu sabil disyaratkan harus dalam keadaan membutuhkan dan tidak melakukan kemaksiatan. Perkataan mushannif “dan di berikan pada orang-orang yang di temukan dari kedelapan golongan” memberi isyarah bahwa sesungguhnya ketika sebagian golongan tidak ada dan yang ada hanya sebagian saja, maka zakat diserahkan pada golongan yang ada.

Jika semuanya tidak ada, maka zakat disimpan dulu hingga semuanya atau sebagian golongan telah ditemukan. Di dalam menyerahkan zakat, tidak diperkenankan hanya diberikan pada orang yang kurang dari tiga orang dari setiap golongan dari kedelapan golongan tersebut. Kecuali amil, maka sesungguhnya amil bisa saja hanya satu orang jika memang sudah mencukupi kebutuhan. Jika zakat hanya diberikan pada dua orang dari setiap golongan, maka wajib memberi ganti rugi dengan minimal barang yang berharga pada orang ketiga. Ada yang berpendapat, bahwa orang ketiga diberi ganti rugi sepertiga dari yang telah diberikan pada dua orang tersebut.

Yang Tidak Berhak Menerima Zakat

  وَخَمْسَةٌ لَا يَجُوْزُ دَفْعُهَا) أَيْ الزَّكَاةِ (إِلَيْهِمْ الْغَنِيُّ) بِمَالٍ أَوْ كَسْبٍ (وَالْعَبْدُ وَبَنُوْ هَاشِمٍ وَبَنُوْ الْمُطَلِّبِ) سَوَاءٌ مُنِعُوا حَقُّهُمْ مِنْ خُمُسِ الْخُمُسِ أَوْ لَا، وَكَذَا عِتْقَاؤُهُمْ لَا َيَجُوْزُ دَفْعُ الزَّكَاةِ إِلَيْهِمْ)

 Golongan Yang Tidak Berhak Menerima Zakat Ada lima golongan yang tidak diperkenankan memberikan zakat pada mereka, yaitu:

  1. Orang yang kaya dengan harta atau pekerjaan.
  2. Dan budak (yang bukan budak mukatab).
  3. Bani Hasyim
  4. dan Bani Muthallib. Baik mereka tidak mau menerima haknya dari bagian khumusil khumus, ataupun mau menerima.
  5. Begitu juga budak-budak yang dimerdekakan oleh mereka (Bani Hasyim dan Bani Muthallib), tidak boleh memberikan zakat pada mereka.

وَيَجُوْزُ لِكُلِّ مِنْهُمْ أَخْذُ صَدَقَةِ التَّطَوُّعِ عَلَى الْمَشْهُوْرِ (وَالْكَافِرُ) وَفِيْ بَعْضِ النُّسْخِ وَلَا تَصِحُ لِلْكَافِرِ (وَمَنْ تَلْزَمُ الْمُزَكِّيْ نَفَقَتُهُ لَا يَدْفَعُهَا) أَيْ الزَّكَاةِ (إِلَيْهِمْ بِاِسْمِ الْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِيْنِ) وَيَجُوْزُ دَفْعُهَا اِلَيْهِمْ بِاِسْمِ كَوْنِهِمْ غَزَاةً أَوْ غَارِمِيْنَ مَثَلاً

Masing-masing dari mereka diperkenankan untuk menerima sedekah sunnah menurut qaul masyhur. Dan orang kafir. Dalam sebagian redaksi menggunakan bahasa, “tidak sah memberikan zakat pada orang kafir”. Dan Orang yang wajib dinafkahi oleh orang yang mengeluarkan zakat, maka ia tidak boleh memberikan zakat pada mereka (orang-orang yang dinafkahi) atas nama orang-orang fakir dan miskin. Dan boleh memberikan zakat pada mereka dengan status semisal mereka adalah para pejuang atau gharim

Inilah yang dapat kami sampiakan, kurang dan lebihnya kami mohon ma’af. Terimakasih atas segala perhatian dan mohon ma’af atas segala khilaf dan kekurangan.

بِاللهِ التَّوْفِيْقُ وَالْهِدَايَةُ و الرِّضَا وَالْعِنَايَةُ ثُمَّ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ

Demikian ulasan materi Kultum tentang; Delapan Asnaf Mustahiq Zakat Yang Perlu Kita Ketahui – Semoga materi ini dapat memberikan manfaat untuk kita semua. Kami ucapkan Terimakasih atas kunjungannya.