Hukum Shalat di Pesawat (Bagian Pertama)

Hukum Shalat di Pesawat (Bagian Pertama) – Pada kesempatan kali ini Dutadakwah hadir untuk menjawab pertanyaan tentang sholat di Pesawat menurut versi empat Madzhab.

Hukum Shalat di Pesawat (Bagian Pertama)

Untuk lebih jelasnya yuk kita  baca saja sampai habis ulasan kami berikut ini:

Sholat di Pesawat

Shalat di pesawat adalah pelaksanaan ibadah shalat fardhu lima waktu yang dilakukan oleh umat Muslim—baik jamaah haji, umrah, maupun penumpang umum—ketika Pesawat terbang sedang mengudara dalam perjalanannya.

Hukum Sholat di Pesawat

Hukum salat di atas pesawat sejatinya menyimpan ruang ikhtilaf (perbedaan pendapat) yang cukup luas di kalangan ulama. Untuk membedah dan memahaminya secara utuh, kami akan menguraikannya dari berbagai sudut pandang—yang pada akhirnya, keputusan akhir kembali kepada kemantapan hati Anda masing-masing.

Kami sendiri memiliki kecenderungan pendapat hukum tertentu. Anda tentu bebas untuk sejalan atau justru berbeda haluan dengan kami. Pilihan sikap kami tersebut telah kami sematkan rapi pada bagian kesimpulan di akhir pembahasan.

Sebagai gambaran awal, beberapa potret pendapat yang berkembang di antaranya: ada yang mengharuskan syarat ketat saat menghadap kiblat, ada yang memberikan kelonggaran penuh, dan ada pula sudut pandang lainnya. Agar tidak terjebak pada kesimpulan yang setengah-setengah, yuk, simak uraian lengkapnya hingga tuntas!

Pertanyaan Calon Jaamaah Haji

Assalamu’alaikum Ustadz, Jama’ah calon haji di zaman serba canggih ini nyaris tidak ada yang menggunakan kapal laut lagi yang ada adalah pesawat udara, lantas bagaimana hukum dan tata cara sholat di pesawat udara?

Jawaban Sholat di Pesawat:

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.

Kehadiran para Dhuyufur-Rahman membawa keberkahan. Pertanyaan yang diajukan ini sangat luar biasa dan mendalam. Mengingat keterbatasan ilmu yang saya miliki, izinkan saya menjawabnya dengan merujuk langsung pada buku Ringkasan Fiqih Haji karya saya sendiri, M. Asmawi, ZA.

Agar esensi dan akurasinya tetap terjaga, berikut adalah jawaban utuh yang kami kutip tanpa perubahan sedikit pun:

Pesawat Pada Zaman Nabi

Jadi Pada zaman nabi dan shohabat tidak ada pesawat udara, begitu juga zaman Para Ulama salafus-sholih, kemudian dalam beberapa kitab fiqih yang sudah saya baca belum ditemukan juga Fasal yang khusus membahas sholat di pesawat udara, akan tetapi saya membaca dalam buku panduan haji yang diterbitkan oleh Kementerian Agama RI terbitan tahun 2005, halaman : 94-95 adalah sebagai berikut:

Hukum shalat dalam pesawat selama perjalanan terbagi kepada dua pendapat:

  1. Tidak sah salat di pesawat yang sedang terbang dengan alasan:
    a) Sulit mendapatkan (tidak tersedia) air untuk wudhu maupun debu yang memenuhi syarat untuk tayamum( صَعِيْدًا طَيِّبًا )
    b) Shalatnya tidak menapak bumi ( إِسْتِقْرَارٌ فِيْ الْأَرْضِ ) karena pesawat terbang tidak menyentuh bumi.

Ulama yang mengatakan tidak sah sholat adalah Imam Hanafi dan Imam Malik walaupun bagi Imam Hanafi harus diqadha di lain waktu setibanya di darat. Bagi yang samasekali tidak melaksanakan sholat dianjurkan berdzikir.

  1. Pendapat kedua mengatakan sah salat dalam pesawat yang sedang terbang, dengan alasan
    a) Kewajiban sholat dibebankan sesuai dengan ketentuan waktu dan di mana saja berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits sebagai berikut:

إِنَ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمًؤْمِنِيْنَ كِتَابًا مَوْقُوْتَا (النساء : ١٠٣) أَيْنَمَا تُدْرِكُمُ الصَّلَاةَ فَصَلُّوْا : الحديث

b) Keadaan darurat tidak menghilangkan kewajiban sholat sesuai kemampuan, baik tanpa wudhu ataupun tayamum : فَاقِدُ الطَّهُوْرَيْنِ maupun tempat dan situasi.

Ulama yang mengatakan sah sholat adalah Imam Ahmad dan Imam Syafi’i, walaupun
Imam Syafi’i mewajibkan I’adah (mengulangi) setibanya di darat karena
sholatnya di pesawat hanya lihiur-matil waktu

Adapunbeberapa risalah yang sudah saya pelajari (Asmawi) Tentang Sholat Fardhu ialah sebagai berikut:

Saya (Asmawi) mempelajari dari beberapa kitab kuning seperti Fathul Mu’in, Nihaytuzen, Kifayatu-akhyar, Al-Majmu’ Syarah Muhadzab, Madzahibul-Arba’ah dan yang lainnya tentang syarat-syarat sholat itu hampir sama, kecuali dalm Madzahibul-Arba’ah memang ada perbedaan, tapi kalimat : (إِسْتِقْرَارٌ فِيْ الْأَرْضِ) tidak saya temukan dalam syarat sahnya sholat, yang ada hanya seperti ini:

Syarat Sholat Madzhab Maliki

1-           الْمَالِكِيَّةُ قَالُوْا : تَنْقَسِمُ شُرُوْطُ الصَّلَاةِ إِلَى ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ،  شُرُوْطِ وُجُوْبِ فَقَطْ، وَشُرُوْطِ صَحَةٍ فَقَطْ، وَ شُرُوْطُ وُجُوْبِ وَ صَحَةٍ مَعًا، ۞ فَشُرُوْطُ الْوُجُوْبِ فَقَطْ فَهُوَ أَمْرَانِ، أحدهما : الْبُلُوْغُ، فَلَا يَجِبُ عَلَى الصَّبِيِّ، وَلَكِنْ يُؤْمَرُ بِهَا لِسَبْعِ سِنِيْنَ، وَيُضْرَبُ عَلَيْهَا لِعَشْرٍ ضَرْبًا خَفِيْفًا لِيَتَعُوْدَ عَلَيْهَا

Artinya: Al-Malikyah berkata :  Syarat sholat terbagi menjadi tiga. (1) syarat wajib saja. (2) Syarat sahnya saja dan (3) syarat wajib dan sah bersamaan.  ۞

Pertama: Untuk syarat wajib saja ini ada dua perkara :  Pertama: Baligh, jadi tidak masuk syarat wajib sholat bagi anak kecil, akan tetapi ia harus diperintahkan untuk mendirikan sholat pada usia tujuh tahun, dan dipukul atas meninggalkan sholat pada usia sepuluh tahun dengan pukulan ringan agar dia kembali menegakkan sholat.

ثَانِيْهِمَا : عَدَامُ اْلإِكْرَاهِ عَلَى تَرْكِهَا، كَأَنْ يَأْمُرَهُ ظَالِمٌ بِتَرْكِ الصَّلَاةِ، وَإِنْ لَمْ يَتْرُكْهُ سَجَّنَهُ، أَوْ ضَرَبَهُ، أَوْقَتَلَهُ، أَوْ وُضِعَ الْقَيِّدُ فِيْ يَدِهِ، أَوْ صَفَعَّهُ عَلَى وَجْهِهِ بِمَلَأٍ مِنَ النَّاسِ، إِذَا كَانَ هَذِهِ يَنْقُصُ قَدْرُهُ، فَمَنْ تَرَكَ الصَّلَاةَ مُكْرَهًا فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ، بَلْ لَا تَجِبُ عَلَيْهِ مَادَامَ مُكْرَهًا، لِأَنَّ الْمُكْرَهَ غَيْرُ مُكَلَّفٍ، كَمَا قَالَ ﷺ (رُفِعَ عَنْ أُمَّتِيْ الْخَطَاءُ وَالنِّسْيَانُ وَمَا اسْتُكْرَهُوْا  عَلَيْهِ) [نقلتها مختصرا من مذاهب الأربعة تألبف عبد الرحمن الجزيري مجلد الأول صحيفة : 142 في شروط الصلاة]

Kedua: Tidak ada pemaksaan untuk meninggalkan sholat. Seperti halnya ia diperintah oleh orang dzolim agar meninggalkan sholat, bila ia tidak meninggalkannya, maka ia dipenjarakan, atau dipukulnya, dibunuhnya, tangannya diborgol atau mukanya ditamparin dihadapan orang banyak, Apabila ini terjadi maka berkuranglah kemampuannya. Jadi barang siapa meninggalkan sholat karena dipaksa, maka dia tidak berdosa, bahkan tidak ada kewajiban sholat selama dia masih dipaksa. Karena sesungguhnya orang yang dipaksa seperti ini berarti dia tidak mukalaf, sebagaimana sabda Nabi s.a.w.: “diangkat (tidak dicatat dosanya) dari umatku, iatu salah, lupa dan apa yang mereka dipaksanya.

وَشُرُوْطِ الصَحَةِ فَقَطْ : فَهُوَ خَمْسَةٌ، الطَّهَارَةُ مِنَ الْحَدَثَ، الطَّهَارَةُ مِنَ الْخُبُثِ، وَالْإِسْلَامُ، وَاسْتِقْبَالُ الْقِبْلَةِ، وَسَتْرُ الْعَوْرَةِ

Yang Kedua: Dan Adapun Syarat sahnya saja, maka itu ada lima : 1.Suci dari hadats, 2.Suci dari najis, 3.Islam, 4.Meghadap qiblat dan 5.menutup aurat.

وَ شُرُوْطُ الْوُجُوْبِ وَ الصَحَةِ مَعًا، فَهُوَ سِتَّةٌ : بُلُوْغُ دَعْوَةِ النَّبِيِ ﷺ، فَمَنْ لَمْ تَبْلُغْهُ الدَّعْوَةُ لَا تَجِبُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَ لَا تَصِحُ مِنْهُ إِذَا فُرِضَ وَصَلَّى، وَالْعَقْلُ، وَدُخُوْلُ وَقْتِ الصَّلَاةِ، وَأَنْ لَا يَفْقِدَ الطَّهُوْرَيْنِ، بِحَيْثُ  لَا يَجِدُ مَاءً، وَ لَا شَيْئًا يَتَيَمَّمُ بِهِ، وَعَدَمُ النَّوْمِ وَالْغَفْلَةِ، وَالْخُلُوُ مِنْ دَمِ الْحَيْضِ وَالنِّفَاسِ، [نقلتها مختصرا من مذاهب الأربعة تألبف عبد الرّحمن الجزيري مجلد الأول صحيفة : 142 في شروط الصلاة]

Yang Ketiga: Dan Adapun Syarat wajib dan sahnya, maka itu ada enam : 1.Sampainya da’wah Nabi s.a.w., maka barang siapa yang tidak sampai kepadanya da’wahnya nabi ini, maka atasnya tidak wajib sholat, dan tidak sah pula sholat dari padanya tatkala ia dipardukan dan kemudian ia sholat. 2.dan ber’aqal. 3.Masuknya waktu sholat. 4.dan tidak sunyinya dua kesucian. Dengan sekiranya ia tidak menemukan air, juga tidak ada sesuatupun maka dia bertayamum dengan tanah yang baik. 5.Tidak dalam keadaan tidur dan lupa. 6.Dan bersih dari darah haid dan nifas. {Keterangan ini saya kutip secara ringkas dari Madzahibul-arba’ah Taklip Abdur Rohman Al-Jaziri Jilid 1 halaman : 142}

Syarat Sholat Maddzhab Syafi’i

– الشَّافِعِيَّةُ قَسَّمُوْا شُرُوْطَ الصَّلَاةِ إِلَى قِسْمَيْنِ فَقَطْ : شُرُوْطُ وُجُوْبِ، وَشُرُوْطِ صَحَةٍ

Artinya: As-Syafi’iyah membagi syarat-syarat sholat itu hanya dua bagian saja : Pertama: syarat-syarat wajib sholat dan kedua: syarat-syarat sahnya sholat.

أَمَّا شُرُوْطُ الْوُجُوْبِ عِنْدَهُمْ فَهِيَ سِتَّةٌ  : بُلُوْغُ دَعْوَةِ النَّبِيِ ﷺ، وَالْإِسْلَامُ، وَالْعَقْلُ،  وَ الْبُلُوْغُ، وَالنِّقَاءُ مِنْ دَمِ الْحَيْضِ وَالنِّفَاسِ، وَسَلَامَةُ الْحَوَاسِ، وَلَوْ السَّمْعُ ، أَوِالْبَصَرُ فَقَط

Adapun syarat-syarat wajib sholat menurut As-Syafi’iyah itu ada enam : 1. Sampainya da’wah Nabi s.a.w., 2.Islam, 3.Ber’aqal, 4.Baligh, 5.Bersih darih darah haid dan nifas, 6.Selamat dari segala noda, (tidak ideot) walau itu Pendengaran atau penglihatan saja.

أَمَّا شُرُوْطُ الصَحَةِ فَهِيَ سَبْعَةٌ  :  أَحدُهَا : طَهَارَةُ الْبَدَنِ مِنَ الْحَدَثَيْنِ. ثَانِهَا : طَهَارَةُ الْبَدَنِ وَالثَّوْبِ، وَ الْمَكَانِ مِنَ الْخُبُثِ، ثَالِثُهَا :  سَتْرُ الْعَوْرَةِ، رَابِعُهَا : اِسْتِقْبَالُ الْقِبْلَةِ، خَامِسُهَا : الْعِلْمُ بِدُخُوْلِ الْوَقْتِ وَلَوْ ظَنًّا، سَادِسُهَا : الْعِلْمُ بِالْكَيْفِيَّةِ، سَابِعُهَا : تَرْكُ الْمُبْطِلِ

Adapun syarat-syarat sahnya sholat menurut As-Syafi’iyah itu ada tujuh : 1.Sucinya badan dari hadats besar dan kecil, 2.Suci badan, pakaian dan tenpat dari najis, 3.Menutup aurat, 4.Menghadap qiblat, 5.Tahu masuknya waktu sholat walau dengan perkiraan. 6.Tahu cara peraktek sholat, 7.Meninggalkan yang membatalkan sholat.

Syarat Sholat Madzhab  Hanafi

الْحَنَفِيَّةُ قَسَّمُوْا شُرُوْطَ الصَّلَاةِ إِلَى قِسْمَيْنِ : شُرُوْطُ وُجُوْبِ، وَشُرُوْطِ صَحَةٍ كَالشَّافِعِيَّةِ، أَمَّا شُرُوْطُ الْوُجُوْبِ عِنْدَهُمْ فَهِيَ خَمْسَةٌ : بُلُوْغُ دَعْوَةِ النَّبِيِ ﷺ، وَالْإِسْلَامُ، وَالْعَقْلُ، وَ الْبُلُوْغُ، وَالنِّقَاءُ مِنَ الْحَيْضِ  وَالنِّفَاسِ، وَكَثِيْرُ مِنَ الْحَنَفِيَّةِ لَمْ يَذْكُرْ بُلُوْغَ دَعْوَةِ النَّبِيِ ﷺ اِكْتِفَاءً بِاشْتِرَاطِ الْإِسْلَامِ

Madzhab Hanafi mereka membagi syarat-syarat sholat kepada dua bagian : Yaitu 1.Syarat Wajib sholat dan2.Syarat sahnya sholat seperti halnya Al-Syafi’iyah, Adapun syarat-syarat wajib sholat menurut Al-Hanfiyah itu ada lima : 1. Sampainya da’wah Nabi s.a.w., 2.Islam, 3.Ber’aqal, 4.Baligh, 5.Bersih darih darah haid dan nifas. Dan banyak di kalangan ulama Hanafiyah yang tidak menyebutkan tentang Sampainya da’wah Nabi s.a.w., karena mereka menganggap cukup dengan mensyaratkan islam.

أَمَّا شُرُوْطُ الصَحَةِ فَهِيَ سِتَّةٌ  :  طَهَارَةُ الْبَدَنِ مِنَ الْحَدَثِ وَالْخُبُثِ. وَطَهَارَةُ وَالثَّوْبِ مِنَ الْخُبُثِ،  وَطَهَارَةُ الْمَكَانِ مِنَ الْخُبُثِ، وَ  سَتْرُ الْعَوْرَةِ، وَ النِّيَّةُ، وَاِسْتِقْبَالُ الْقِبْلَةِ

Adapun syarat-syarat sahnya sholat menurut Al-Hanafiyah itu ada enam : 1.Sucinya badan dari hadats dan najis, 2.Suci pakaian dari najis, 3.Suci Tempat dari najis, 4.Menutup aurat. 5.Niyat, 6.Menghadap qiblat.

Madzhab Hambali

الْحَنَابِلَةُ، لَمْ يَقْسِمِ الْحَنَابِلَةُ شُرُوْطَ الصَّلَاةِ إِلَى شُرُوْطَ الْوُجُوْبِ وَ لَا فِيْ شُرُوْطِ الصَّحَةِ، كَغَيْرِهِمْ بَلْ عَدُّوْا شُرُوْطَ تِسْعَةً، وَهِيَ الْإِسْلَامُ، وَالْعَقْلُ، وَالتَّمْيِيْزُ، وَالطَّهَارَةُ مِنَ الْحَدَثِ مَعَ الْقُدْرَةِ، وَسَتْرُ الْعَوْرَةِ، وَاجْتِنَابُ النَّجَاسَةِ بِبَدَنِهِ وَثَوْبِهِ وَبَقْعَتِهِ، وَالنِّيَّةُ، وَاسْتِقْبَالُ الْقِبْلَةِ، وَدُخُوْلُ الْوَقْتِ، وَقَالُوْا إِنَّهَا جَمِيْعَهَا شُرُوْطٌ لِصَحَةِ الصَّلَاةِ.

Artinya: Al-Hanabilah, Ulama madzhab Hanbali tidak membagi syarat-syarat sholat sampai ada syarat wajib dan syarat sah seperti yang lainnya, bahkan mereka menghitung syarat-syarat sholat sampai sembilan: Yaitu 1.Islam, 2.Ber’aqal, 3.Tamyiz, 4.Suci dari hadats disertai mampu, 5.Menutup aurat, 6.Menjauhi najis pada badan, pakaian dan tempatnya, 7.Niyat, 8.Menghadap qiblat, 9.Masuk waktu. Merka berkata : Bahwasanya kesemuanya itu adalah syarat-syarat untuk sahnya sholat.

نقلتها مختصرا من مذاهب الأربعة تأليف عبد الرّحمن الجزيري مجلد الأول صحيفة : 142 – 144 في شروط الصلاة

{Keterangan ini saya kutip secara ringkas dari Madzahibul-arba’ah Taklip Abdur Rohman Al-Jaziri Jilid 1 halaman : 142 s/d 144}

Hukum Sholat di Pesawat 1
Hukum Sholat di Pesawat 1

Di sini jika kita perhatikan uraian dari empat Madzhab kelihatannya tidak satupun yang mengatakan : (إِسْتِقْرَارٌ فِيْ الْأَرْضِ) Menapak bumi, namun demikian pembahasan saya tidak hanya sampai di sini melainkan saya membaca lagi masih dari Madzahibul-arba’ah tentang sholat pardu di atas Perahu, kendaraan dan sebangsanya :

Saudaraku Seiman, dalam uraian di bagaian pertama ini belum dapat kami simpulkan meskipun sudah banya pendapat yang kami tulis, akan tetapi jika pembaca mau menyimpulkan sendiri kami persilahkan, karena masing-masing kita punya pilihan dan punya kemantapan hati masing-masing. Sementara demikian dulu yang dapat kami uraikan untuk lebih tuntasnya maka alangkah baiknya membaca lanjutnannya di link berikut: Hukum Sholat di Pesawat Bagian ke 2 Demikian Uraian Duta Dakwah mengenai: Hukum Shalat di Pesawat (Bagian Pertama) Semoga bermanfa’at, dan kami ucapkan terimakasih atas kunjungnnya.

بِاللهِ التَّوْفِيْقُ وَالْهِدَايَةُ و الرِّضَا وَالْعِنَايَةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ