Dam Atau Fidyah Pakaian Versi Empat Madzhab 3

r Dam Atau Fidyah Pakaian Versi Empat Madzhab 3 – Pada kesempatan kali ini Duta Dakwah. akan menuliskan tentang Bayar Dam Fidyah Pakaian Versi Empat Madzhab secara Ringkas. Dalam Risalah ini kami hanya membahas tetntang Bayar Dam Fidyah Pakaian. Adapun Dam yang lainnya akan kami tuliskan pada Risalah selanjutnya.

Dam Atau Fidyah Pakaian Versi Empat Madzhab 3

Untuk lebih jelasnya mengenai Bayar Dam Atau Fidyah Pakaian, mari kita ikuti uraian berikut ini:

Mukodimah

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ

Segala Puji bagi Allah SWT, Shalawat dan salamnya semoga tetap tercurah ke haribaan Nabi Agung Muhammad saw, keluarga dan shahabatnya semua, Amiin…

Dam Atau Fidyah Pakaian Versi Empat Madzhab

Dam memakai pakaian ini berlaku hanya untuk laki-laki, karena yang dimaksudkan dengan dam pakaian adalah jama’ah haji atau umroh pria yang dalam keadaan masih berihrom belum tahalul kemudian dia memakai pakaian berjahit apapun jenisnya baik baju, celana, peci, menutup kepala dengan peci, topi atau yang lainnya, (Untuk perempuan, Larangan berpakaian ini tidak berlaku kecuali apabila perempuan tersebut menutup muka dengan cadar, sebab menutup muka dengan cadar itu haram bagi wanita ihrom kecuali karena takut fitnah). Palnggaran ini disebut dengan kategori Dam Takhyir dan Taqdir, namun ketentuannya terdapat perbedaan, oleh karenanya mari kita simak pebedaannya berikut ini:

Fidyah Pakaian

فِدْيَةُ اللِّبَاسِ

إِذَا لَبِسَ الْحَرَمُ مِمَّا يُمْتَنَعُ عَلَيْهَ – وَسَبَقَ أَنْ ذَكَرْنَاهُ – : يَلْزِمُهُ فِيْ ذَلِكَ التَّالِي

Membayar Fidyah Pakaian, Jika seorang yang berihram memakai pakaian berjahit, maka ia harus melakukan hal sebagai berikut:

Mazhab Hanafi

عِنْدَ الْحَنَفِيَّةَ

لَا يَلْزِمُهُ دَمٌّ، إِلَّا إِذَا لَبِسَ يَوْمًا كَامِلًا، أَوْ لَيْلَةً كَامِلَةً، لِأَنَّ الْيَوْمَ الْكَامِلَ مُظِنَّةُ الْاِنْتِفَاعِ بِاللَّبْسِ، وَإِنْ كَانَ أَقَلَّ مِنْ ذَلِكَ، فَعَلَيْهِ صَدَقَةٌ : نِصْفُ صَاعٍ مِنْ بُرٍّ، أَوْ صَاعٍ مِنْ تَمَرٍ، أَوْ شَعِيْرٍ

Menurut Mazhab Hanafi: Dia tidak harus membayar dam kecuali jika memakainya sehari penuh atau semalaman penuh karena dengan memakai sehari penuh itu, kemungkinan besar ia merasakan manfaat pakaian itu, Jika memakainya kurang dari itu, ia harus membayar sedekah setengah sha’ gandum/ beras atau satu sha’ kurma atau juwawut.

Pertama: Menurut rincian yang saya fahami (Asmawi) membaca dalam Naylul-Author bahwa : (satu) uqiyah itu sama dengan 40 dirham. Jadi 5 uqiyah itu sama dengan 200 dirham (595 gr perak) Wallahu a’lam.

Ke dua: (satu) wasaq = 60 sho’.  1 sho’ = 4 mud.  1 mud = 544 gram. Jadi kalau ½ sha’ berarti = 2 mud, kalau 2 Mud kali 544 gram = 1088 gram. Dan kalau 1 sha’ berati = 2176 gram atau 2,2 kg. Dan ada perbedaan pendapat dalam peralihan pada timbangan indonesia, adapun yang lebih umum di indonesia, satu sha’ itu adalah 2,5 kg. Dan kalau saya membaca dalam kitab Al-Tadzhib, satu sha’ itu = 2400 gram atau 2,4 kg.) Wallahu ‘alam.

وَقَالَ أَبُوْ يُوْسُفَ : إِنْ لَبِسَ أَكْثَرَ مِنْ نِصْفِ يَوْمٍ فَعَلَيْهِ دَمٌّ

Imam Abu Yusuf berkata: “Jika ia memakai pakaian itu lebih dari masa setengah hari, ia wajib membayar dam.”

Mazhab Maliki

عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ

تَجِبُ عَلَيْهِ الْفِدْيَةُ إِذَا انْتَفَعَ بِذَلِكَ اللَّبْسِ مِنْ حَرٍّ، أَوْ بَرَدٍ، أَوْ طَالَ زَمَنُ لَبْسِهِ، كَيَوْمٍ كَامِلٍ . فَلَوْ لَبِسَ وَنَزَعَهُ ،أَوْ لَمْ يَنْتَفِعْ بِلَبْسِهِ مِنْ حَرٍّ، أَوْ بَرَدٍ لَيْسَ عَلَيْهِ فِدْيَةٌ

Menurut Mazhab Maliki: Ia wajib membayar fidyah jika mengambil manfaat dari pakaian itu (untuk menahan panas atau dingin) atau masa pakainya cukup lama (seharian penuh). Jadi, jika kita memakai pakaian terusebut lalu meninggalkannya atau sama sekali tidak memanfaatkan pakaian itu dari rasa dingin atau panas, tidak ada kewajiban baginya membayar fidyah.

Mazhab Syafi’i dan Hambali

عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ

أَنَّ الْفِدْيَةَ بِاللَّبْسِ لاَ تَتَقَدَرُ بِطُوْلِ زَمَنِ اللَّبْسِ، أَوْ قَصْرِهِ، أَوْ بِالْإِنْتِفَاعِ، فَإِنْ لَبِسَ عَامِدًا مُخْتَارًا : لَزِمَتْهُ الْفِدْيَةُ، سَوَاءٌ قَصِرَ زَمَانُ اللَّبْسِ، أَوْ طَالَ

Menurut Mazhab Syafi’i dan Hambali: Sesungguhnya memakai pakaian itu tidak diukur dengan lama atau pendeknya waktu pemakaian, melainkan dengan pemanfaatannya. Jika ia memakai dengan secara sengaja dan sadar (baik sebentar ataupun lama), ia tetap harus membayar fidyah.

Bayar Dam Atau Fidyah Pakaian
Bayar Dam Atau Fidyah Pakaian

Fidyah Memakai Wewangian (Farfum)

فِدْيَةُ الطَّيِبِ يَجِبُ عِنْدَ الْأَئِمَةِ الْأَرْبَعَةِ بِاِتِفَاقِهِـمُ الْفِدْيَةَ بِاسْتِخْدَامِ الطَّيِّبِ عَمْدًا . وَلَا تَجِبُ عَلَى النَّاسِيِ وَالْجَاهِلِ، عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ. وَعِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ وَالْمَالِكِيَّةِ : كَالْعَامِدِ وَقَدْ سَبَقَ الْكَلَامُ عَلَى الطَّيِّبِ فِيْ بَابِ سَابِقِ . وَفِدْيَتُهُ : هِيَ فِدْيَةُ الْأَذَى

Membayar Fidyah Wewangian/ Parfum: Berdasarkan kesepakatan empat imam mazhab, wajib membayar fidyah jika memakai wewangian secara sengaja dan tidak wajib bagi orang yang lupa dan tidak tahu menurut kalangan ulama mazhab Syafi’i dan Hambali. Akan tetapi menurut ulama mazhab Hanafi dan Maliki seseorang yang lupa itu sama setatus hukumnya dengan orang yang sengaja. Telah lebih dulu dibicarakan tentang Wewangian/ Parfum, pada bab terdahulu, Fidyahnya adalah fidyah pelanggaran

Demikian ulasan tentang : Dam Atau Fidyah Pakaian Versi Empat Madzhab 3 Semoga dapat memberikan manfaat untuk calon Jama’ah Haji. Untuk mengetahui Dam karena Pelanggaran berikutnya bisa lihat di sini : Bayar Fidyah Wathi di luar farji Versi Empat Madzhab 4 Kami Duta Dakwah Mengucapkan Terimakasih atas Kunjungannya. Jazakumullahu Khoiran Katsiro.

بِاللهِ التَّوْفِيْقُ وَالْهِدَايَةُ و الرِّضَا وَالْعِنَايَةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ