Bayar Fidyah Wathi Luar Farji Versi Empat Madzhab Empat

Bayar Fidyah Wathi Luar Farji Versi Empat Madzhab Empat – Pada kesempatan kali ini Dutadakwah. akan menuliskan tentang Pengertian Dam Fidyah Bayar Fidyah tersebut Versi Empat Madzhab  secara Ringkas. Dalam Risalah ini kami hanya membahas tetntang fidyah wathi di luar farji. Adapun Dam yang lainnya akan kami tuliskan pada Risalah selanjutnya.

Bayar Fidyah Wathi Luar Farji Versi Empat Madzhab Empat

Untuk lebih jelasnya mengenai Bayar Fidyahtersebut, mari kita ikuti uraian berikut ini:

Mukodimah

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ

Segala Puji bagi Allah SWT, Shalawat dan salamnya semoga tetap tercurah ke haribaan Nabi Agung Muhammad saw, keluarga dan shahabatnya semua, Amiin…

Fidyah Wathi luar farji Versi Empat Madzhab

Maksud dari Fidyah tersebut artinya adalah fidyah hubungan intim suami istri bukan menggunakan jalan yang biasa. Mengenai denda pelanggaran tersebut terdapat perbedaan menurut empat madzhab. Untuk lebih rialnya berikut ini rinciannya:

Madzhab Hanafi

فِدْيَةُ الْوَطْءِ دُوْنَ الْفَرْجِ  عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ : إِذَا جَامَعَ دُوْنَ الْفَرْجِ. أَوْ لَمِسَ بِشَهْوَةٍ، أَوْ عَانَقَ، أَوْ قَبَّلَ، أَوْ بَاشَرَ عَلَيْهِ الْفِدْيَةُ، وَيَسْتَوِي فِيْهِ الْعَمْدُ وَالسَّهْوُ. وَلَا يَفْسُدُ حَجُّهُ، سَوَاءٌ أَنْزَلَ أَوْ لَمْ يَنْزُلْ

Fidyah Wathi di luar farji Menurut Madzhab Hanafi: Apabila ia telah berjimak di luar farji atau ia menyentuh dengan nafsu syahwat atau ia merangkul, atau mengecup atau bersentuhan maka atasnya wajib membayar fidyah, dan hukumnya sama saja baik sengaja ataupun lupa. Dan hajinya itu tidak rusak (tidak batal) baik ia keluar sperma atau tidak.

Madzhab Maliki

عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ :  يَفْسُدُ الْحَجُّ بِمُقَدَمَاتِ الْجِمَاعِ إِنْ أَنْزَلَ، وَإِنْ لَمْ يَنْزُلْ، فَفِيْ الْقُبْلَةِ خَاصَّةً مُطْلَقًا هَدْيٌ، وَكَذَلِكَ كُلُّ تَلَذُذٍ خَرَجَ بِسَبَبِهِ مَذِيٌّ، وَكَذَلِكَ الْمُلَاعَبَةُ الطَّوِيْلَةُ، وَالْمُبَاشَرَةُ الْكَثِيْرَةُ، وَمَا عَدَا ذَلِكَ مِنَ التَّلَذُذِ فَلَيْسَ فِيْهِ إِلَّا التَّوْبَةُ وَالْإِسْتِغْفَارُ،

Menurut Madzhab Maliki: Hajinya bisa rusak (yakni batal hajinya) disebakan dengan pemanasan jimak jika itu sampai keluar sperma. Namun apabila tidak sampai keluar sperma, khususnya dalam mencium, maka secara mutlak itu harus memotong “hadyi”, (satu ekor kambing yang cukup untuk kurban) demikian juga setiap macam kenikmatan yang menyebabkan keluarnya madzi. Begitu juga mainan yang berlama-lama, sentuhan yang banyak, termasuk juga yang lain dari pada itu semua dari segala kenikmatan, maka tidak ada lain baginya kecuali harus bertaubat dan beristighfar.

Madzhab Syafi’i

عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ إِذَا وَطِئَهَا دُوْنَ الْفَرْجِ، أَوْ قَبَّلَ، أَوْ لَمِسَ بِشَهْوَةٍ، فَعَلَيْهِ فِدْيَةُ الْأَذَى، وَلَا يَفْسُدُ حَجُّهُ سَوَاءٌ أَنْزَلَ أَوْ لَمْ يَنْزُلْ.  وَالْإِسْتِمْنَاءُ عِنْدَهُمْ كَالْمُبَاشَرَةِ فِيْمَا دُوْنَ الْفَرْجِ، وَلَا فِدْيَةَ فِيْ السَّهْوِ وَالنِّسْيَانِ، وَكَذَلِكَ الْقُبْلَةُ وَاللَّمْسُ بِغَيْرِ شَهْوَةٍ

Menurut Madzhab Syafi’i: Tatkala  ia telah terjadi Fidyah Wathi Luar Farji, atau mencium, menyentuh dengan syahwat, maka wajib atasnya mebayar fidyatul-adza. Hajinya tidak rusak (tidak batal) baik sampai keluar sperma ataupun tidak. Bersenang-senag (Mastur basi / onani) menurut madzhab Syafi’i itu hukumnya sama dengan bersentuhan dengan area yang di luar parji.

Tidak wajib Fidyah Karena sebab lupa, demikian juga mencium dan menyentuh yang tidak dengan syahwat.

"Bayar

Madzhab Hambali

Dalam Madzhab Hambali mengenai Fidyah Wathi Luar Farji diterangkan sebagai berikut:

عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ إِذَا وَطِئَهَا دُوْنَ الْفَرْجِ، أَوْ قَبَّلَ، أَوْ لَمِسَ بِشَهْوَةٍ، فَعَلَيْهِ فِدْيَةُ الْأَذَى، وَلَا يَفْسُدُ حَجُّهُ سَوَاءٌ أَنْزَلَ أَوْ لَمْ يَنْزُلْ.  وَالْإِسْتِمْنَاءُ عِنْدَهُمْ كَالْمُبَاشَرَةِ فِيْمَا دُوْنَ الْفَرْجِ، وَلَا فِدْيَةَ فِيْ السَّهْوِوَعِنْدَ الْحَنَابِلَةِ إِذَا وَطِىءَ دُوْنَ الْفَرْجِ فَلَمْ يَنْزُلْ: فَعَلَيْهِ دَمٌ، وَإِنْ أَنْزَلَ : فَعَلَيْهِ بَدَنَةٌ، وَفِيْ فَسَادِ حَجِّهِ إِذَا أَنْزَلَ رِوَايَتَانِ

Menurut Madzhab Hanbali: Apabila ia Fidyah Wathi Luar Farji kemudian tidak keluar sperma, maka wajib atasnya membayar dam, jika keluar sperma, maka dia wajib memotong unta, dan tentang kerusakan hajinya jika keluar sperma maka itu ada dua riwayat.

فِدْيَةُ الْوَطْءِ فِي الْفَرْجِ عَلَيْهِ بَدَنَةٌ : عِنْدَ الْجُمْهُوْرِ، وَقَدْ سَبَقَ الْكَلَامُ فِيْهِ

Fidyah Wathi dalam farji wajib atasnya unta satu menurut jumhur- ‘ulama, keterangan ini sudah lebih dulu diterangkan.

Demikian ulasan tentang : Bayar Fidyah Wathi Luar Farji Versi Empat Madzhab Empat Semoga dapat memberikan manfaat untuk calon Jama’ah Haji. Untuk mengetahui Dam karena Pelanggaran berikutnya bisa lihat di sini : Denda membunuh Hewan buruan Versi Empat Madzhab 5 Kami Duta Dakwah Mengucapkan Terimakasih atas Kunjungannya. Jazakumullahu Khoiran Katsiro.

بِاللهِ التَّوْفِيْقُ وَالْهِدَايَةُ و الرِّضَا وَالْعِنَايَةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ