√ Sholat Tahiyatul Masjid, Dalil Niat, Waktu dan Prakteknya

Posted on

Sholat Tahiyatul Masjid, Dalil Niat, Waktu dan Prakteknya – Pada kesempatan kali ini kami Duta Dakwah akan menerangkan tentang Sholat Sunnah Tahiyatul Masjid, Hukum Waktu dan Caranya. Sholat itu ada dua kategori: ada kategori wajib juga ada ktegori sunnah. Tahiyatul Masjid adalah masuk kategori sunnah. Demikian juga dengan sholat sunaah yang diluar sunnah Rawatib, Sholat sunnah ada tiga kategori yaitu: Muakad, Sangat Mukad dan ghoer Muakad.

Sholat Tahiyatul Masjid, Dalil Niat, Waktu dan Prakteknya

Untuk lebih jelasnya mari kita ikuti saja penjelasan Dutadakwah mengenai perihal Sholat tahiyatul Masjid berikut ini:

Mukodimah

السّلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيْمِ، الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَبَعْدُ

Segala Puji milik Allah, Sholawat dan Salam-Nya semoga senantiasa tercurahkan atas Rosulillahi sollallahu ‘alaihi wa sallam.

Hukum Sholat Tahiyatul Masjid

Mengenai Hukum Sholat Tahiyatul Masjid Menurut keterangan Sekh Nawai yang tertulis dalam kitab Nihayatuz Zain beliau mengataka sebagai berikut:

Loading...

وَهِيَ رَكْعَتَانِ قَبْلَ الْجُلُوْسِ لِكُلِّ دَاخِلٍ مُتَطَهِّرٍمُرِيْدِ الْجُلُوْسِ فِيْهِ لَمْ يَشْتَغِلْ بِهَا عَنِ الْجَمَاعَةِ وَلَمْ يَخَفْ فَوْتَ رَاتِبَةٍ، وَلَا تُسَنُّ لِلْخَطِيْبِ إِذَا خَرَجَ لِلْخُطْبَةِ، وَلَا لِمَنْ دَخَلَ آخِرَ الْخُطْبَةِ بِحَيْثُ لَوْ فَعَلَ التَّحِيَّةَ فَاتَهُ أَوْلُ الْجُمْعَةِ مَعَ الْإِمَامِ

Artinya: “Sholat tahiyatul masjid adalah sholat dua rakaat sebelum duduk bagi orang yang masuk masjid dalam keadaan suci dan menghendaki duduk, serta tidak khawatir ketinggalan sholat berjama’ah dan Sholat sunnah rawatib. Sholat tahiyatul masjid tidak disunnahkan bagi khotib yang hendak langsung berkhutbah, dan tidak disunnahkan pula bagi orang yang masuk masjid di saat khutbah terakhir, yang bisa dipastikan kalau mengerjakan tahiyatul masjid, maka awal sholat Jum’at bersama imam akan terlambat.” (Kutipan dari Kitab Nihayatuz Zain tentang Sunnah yang mempunyai sebab, halaman: 104)

Berdasarkan uraian beliau tersebut, berarti Sholat Tahiyatul masjid ada tiga keadaan yang tidak dianjurkan untuk mengerjakan sholat sunnah tahiyatul masjid yaitu:

  1. Ketika sholat berjamaah sudah akan dimulai. Misalnya saja, pada saat masuk masjid muadzin sudah qomat atau sudah hampir penyelenggaraan sholat berjamaahi. Dalam situasi seperti ini, maka tidak dianjurkan untuk sholat tahiyatul masjid, sebab pasti bisa ketinggalan berjamaahnya.
  2. Tidak dianjurkan sholat tahiyatul masjid bagi khotib yang akan langsung naik mimbar untuk menyampaikan khutbah. Seperti contoh; waktu Sholat Jum’at sudah masuk, dan khotib baru masuk masjid, maka pada keadaan seperti ini bagi khotib sebaiknya langsung khutbah daripada Sholat tahiyatul masjid.
  3. Kalau pada hari Jum’at kita terlambat datang ke masjid sedangkan khutbah Jum’at sudah hampir rampung, maka pada kondisi seperti ini juga sebaiknya tidak Sholat tahiyatul masjid. Sebab apabila mengerjakan Sholat tahiyatul masjid, khawatir Sholat Jum’atnya ketinggalan.
Baca Juga :  √ Khutbah Jum’at Tentang Kewajiban Sholat Lanjutan Bagian Kedua

Dalil Shoalat Tahiyatul Masjid

وَعَنْ أَبِي قَتَادَةَ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ اَلْمَسْجِدَ فَلَا يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Artinya: Dari Abu Qotadah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Jika seseorang di antara kamu memasuki masjid maka janganlah ia duduk kecuali setelah sembahyang dua rakaat. Muttafaq Alaihi. (Kutipan dari Kitab Bulugul-Marom, Bab al-Masajid)

Perbedaan Tentang Hukum Sholat Tahiyatul Masjid

Para ulama sepakat tentang disyariatkannya Sholat tahiyatul masjid ini, akan tetapin mereka berbeda pendapat tentang hukumnya. Sebagian ulama berpendapat, seperti Imam asy-Syaukani rahimahullah, ia berpendapat hukumnya wajib. Sedangkan jumhur ulama berpendapat hukumnya Sunnah.

Dalil para ulama yang mewajibkan tahiyyatul masjid adalah perintah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk melakukannya, seperti dalil di atas:

إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ اَلْمَسْجِدَ فَلَا يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ

Yang artinya: “Jika seseorang di antara kamu memasuki masjid maka janganlah ia duduk kecuali setelah sembahyang dua rakaat”.

Hadits tersebut adalah perintah. Dan setiap perintah pada asalnya hukumnya wajib. Begitu juga larangan Nabi SAW terhadap orang yang masuk masjid untuk duduk sebelum Sholat dua rakaat, padahal setiap larangan asalnya haram, inilah alasan tahiyyatul masjid hukumnya wajib.

Adapun ulama yang berpandangan Sunnah, menyatakan adanya dalil-dalil yang memalingkan perintah tahiyyatul masjid kepada Sunnah, sebagaimana dalam hadits berikut:

عَنْ أَبِي وَاقِدٍ اللَّيْثِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَمَا هُوَ جَالِسٌ فِي الْمَسْجِدِ وَالنَّاسُ مَعَهُ إِذْ أَقْبَلَ ثَلَاثَةُ نَفَرٍ فَأَقْبَلَ اثْنَانِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَذَهَبَ وَاحِدٌ قَالَ فَوَقَفَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَمَّا أَحَدُهُمَا فَرَأَى فُرْجَةً فِي الْحَلْقَةِ فَجَلَسَ فِيهَا وَأَمَّا الْآخَرُ فَجَلَسَ خَلْفَهُمْ وَأَمَّا الثَّالِثُ فَأَدْبَرَ ذَاهِبًا فَلَمَّا فَرَغَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَلَا أُخْبِرُكُمْ عَنْ النَّفَرِ الثَّلَاثَةِ أَمَّا أَحَدُهُمْ فَأَوَى إِلَى اللَّهِ فَآوَاهُ اللَّهُ وَأَمَّا الْآخَرُ فَاسْتَحْيَا فَاسْتَحْيَا اللَّهُ مِنْهُ وَأَمَّا الْآخَرُ فَأَعْرَضَ فَأَعْرَضَ اللَّهُ عَنْهُ: صحيح البخاري، حديث رقم: 66، صحيفة: 28، بَابُ مَنْ قَعَدَ حَيْثُ يَنْتَهِي بِهِ الْمَجْلِسُ

Artinya: Dari Abu Waqid al-Laitsi, sesungguhnya ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang duduk di dalam masjid dan orang-orang berada di sekeliling beliau, tiba-tiba datang tiga orang, yang dua orang maju kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sedangkan yang satu orang pergi. Dua orang tersebut berdiri di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Satu orang dari keduanya melihat celah pada halaqah (lingkaran duduk), lalu dia duduk di sana. Adapun yang lain, dia duduk di belakang orang-orang. Sedangkan orang yang ketiga, dia berbalik pergi. Tatkala Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah selesai, beliau n bersabda: “Tidakkah kuberitahukan kepada kamu tentang tiga orang tadi. Adapun seseorang dari mereka, dia singgah kepada Allah, maka Allah menyambutnya. Sedangkan orang yang lain, dia malu kepada Allah, maka Allah juga malu kepadanya. Dan orang yang lain lagi, dia berpaling, maka Allah juga berpaling darinya”. [HR Bukhri no. 66, Halaman 28 bab Man Qo’ada haitsu yantahi bihil majlis].

Baca Juga :  √ Bacaan Niat Sholat Ghoib, Doa dan Tata Caranya

Jelas dalam hadits ini, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkan kedua orang di atas untuk berdiri dan melakukan Sholat tahiyatul masjid, sehingga hadits ini memalingkan perintah menuju pada mustahab (disukai).

Waktu Tahiyatul Masjid

Waktu Pelaksanaan untuk Sholat Tahiyatul Masjid adalah apabila yang bersangkutan sudah memasuki masjid dan sebelum duduk. Jika sudah duduk maka waktu tahiyatul masjid sudah habis, sebagaimana hadits berikut:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ ، قَالَ : أَخْبَرَنَا مَالِكٌ ، عَنْ عَامِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ ، عَنْ عَمْرِو بْنِ سُلَيْمٍ الزُّرَقِيِّ، عَنْ أَبِي قَتَادَةَ السَّلَمِيِّ : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ المَسْجِدَ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يَجْلِسَ

Artinya: Telah menceritakan kepada kami  Abdullah Ibnu Yusup, belia baerkata: Telah menceritakan kepada kami Malik dari ‘Amir bin ‘Abdillah bi Az-Zubair, dari ‘Amr bin Sulaim az-Zuraiqi,dari Abi Qotadah as-Salami: Bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Jika seseorang di antara kamu memasuki masjid maka ruku’lah (sholatlah) dua rakaat sebelu ia duduk”. (HR. Al-Bukhori no: 444) dikutip dari Shohe al-Bukhori, Halaman: 122, jilid 1, Bab Idz Dakhola Ahadukumul-Masjida.

Drai hadits tersebutu dapat diketahui bahwa waktu sholat tahiyatul-masjid masuk setelah memasuki majid dan habis setelah duduk, namun bagaimana jika terjadi lupa atau tidak tahu? Maka berikut uraiannya:

Pertama: pelaksanaan sholat Tahiyatul Masjid adalah ketika masuk ke masjid dan sebelum duduk. Adapun jika ia sengaja duduk, maka tidak di syari’atkan untuk mengerjakan sholat tahiyatul masjid. Hal itu dikarenakan telah kehilangan kesempatan

Kedua: Adapun jika ia masuk masjid dan langsung duduk karena tidak tahu atau lupa dan belum mengerjakan sholat Tahiyatul Masjid, maka ia tetap disyari’atkan untuk mengerjakan sholat tahiyatul masjid, seba yang bersakutan masuk dalam kategori ‘udzur (baik karena lupa atau karena tidak tahu) maka bagi orang yang terjadi seperti ini statusnya tidak hilang kesempatan untuk megerjakan sholat tahiyatul masjid, dengan syarat jarak antara duduk dengan waktunya tidak terlalu lama.

Ketiga: Apabila ada orang yang masuk ke Masjid sementara adzan sedang dikumandangkan, maka yang orang tersebut semestinya lebih mengutamakan menjawab adzan dan menunda sebentar untuk sholat Tahiyatul Masjid, sebab menjawab adzan itu lebih penting. Lain halnya apabila ia masuk ke masjid pada hari jum’at bertepatan dengan kumandang adzan untuk khutbah, maka dalam keadaan seperti ini dahulukan sholat tahiyatul masjid ketimbang menjawab adzan sebab supaya biasa mendengarkan materi khutbah yang akan dikhutbahkan. Karena mendengarkan khutbah itu jauh lebih lebih penting.

Keempat: Jika ada orang yang masuk ke masjid sedangkan imam posisi sedang berkhutbah, maka dalam kondisi seperti ini masih tetap disunnahkan untuk mengerjakan sholat Tahiyatul Masjid namun lebih diringankan sholatnya, artinya sholat diperpendek jangan baca suratan yang panjang. Hal ini dilakukan karena ada perintah Rasulullah s.a.w.:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ ، قَالَ : بَيْنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ، إِذْ جَاءَ رَجُلٌ ، فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَصَلَّيْتَ ؟ يَا فُلَانُ قَالَ : لَا ، قَالَ : قُمْ فَارْكَعْ .

Artinya: dari Jabir bin Abdillah, beliau berkata: dikala nabui s.a.w. sedang berkhutbah pada hari jum,’at tiba-tiba data seorang laki-laki, lalu nabi s.a.w. berkata kepadanya: “apakah kamu sudah sholat hai pulan?” laki-laki ityu menjawab: “tidak” beliau s.a.w. bersabda: “berdirilah dan sholatlah”. HR. Muslim. Kutipan dari Shoheh Muslim jilid 1 halaman: 382 bab at-Tahyiah wal-Imamu yakhthub. No. hadits: 875

Baca Juga :  √ Niat Sholat Hajat, Doa, Pengertian dan Tatacaranya Lengkap

Catatan: Mengenai hadits tersebut tentang kisah seorang laki-laki  masuk masjid pada hari jum’at dan diperintah sholat setelah duduk, dalam hal ini ada perbedaan pandangan. Apakah sholat tersebut maksudnya tahiyatul masjid? Atau sholat sunnah qobliyah jum’at. Wallahu ‘alam, yang jelas waktu untuk Sholat Tahyatal-Masjid jika yang bersangkutan itu sudah duduk maka waktu tahiyatal-Masjid sudah habis. dan wallahu ‘alam yang pasti shoalat sunnah tersebut adalah sah, oleh karenanya untuk perkara tersebut  catatannya kita kembalikan saja kepada Allah SWT.

Kelima: Mengenai Sholat Tahiyatul masjid kami Duta dakwah mengikuti penjelasan Syekh Nawawi al-Bantani sebagaimana yang kami tulis di atas. Dengan demikian status hukum Sholat Tahiyatul-masjid adalah tetap sunnah dan pelaksanaannya mesti disesuaikan dengan keadaan, walau demikian kita tetap saling menghargai dengan adanya pendapat yang misalnya berbeda. Wallahu ‘alam.

Niat Sholat Tahiyatul Masjid

بسم الله الرّحمن الرّحيم : أُصَلِّي سُنَّةً تَحِيَّةَ الْمَسْجِدِ رَكْعَتَيْنِ لِّلّٰهِ تَعَالَى اللهُ أَكْبَرْ

Bismillahir rohmanir rohiim: Usholi Sunnatan- Tahiyatal Masjidi Rok’ataini lillahi ta’ala Allahu Akbar.

Artinya: Dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang: Saya niat sholat Sunnah tahiyatul masjid dua roka’at karena Allah Ta’ala Allahu-Akbar

Sholat Tahiyatul Masjid
Sholat Tahiyatul Masjid

Praktek Sholat Sunnah Tahiyatul Masjid

Sebelum Takbir baca dulu niat, bagi saudaraku yang biasa mengcapkan niat kecuali yang tidak biasa, adapun niatanya adalah sebagai berikut:

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بسم الله الرّحمن الرّحيم : أُصَلِّي سُنَّةً تَحِيَّةَ الْمَسْجِد رَكْعَتَيْنِ لِّلّٰهِ تَعَالَى اللهُ أَكْبَرْ باچ إفتتاح، كمودييان باچ فاتحة، تروس باچ : بسم الله الرّحمن الرّحيم * قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ * لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ * وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ * وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ * وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ * لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

ركوع، إعتدال، سجود، دودك دي أنترا دوا سجود، سجود، برديري، باچ فاتحة، تروس باچ : بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللَّهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ ﴿٤﴾،   ركوع، إعتدال، سجود، دودك دي أنترا دوا سجود، سجود، دودك ترأخير، تشهد، سلام، سٓلٓسَيْ

Jika Shlotnya mau diperingan, maka suratannya yang dibaca setelah Fatihah cukup baca surat al-Ikhlas saja baik pada rakaat pertama maupun rakaat kedua.

Demikian ulasan kami tentang: Sholat Tahiyatul Masjid, Dalil Niat, Waktu dan Prakteknya – Semoga dapat memberikan manfaat untuk kita semua. Terimakasih atas kunjungannya.

بِاللهِ التَّوْفِيْقُ وَالْهِدَايَةُ و الرِّضَا وَالْعِنَايَةُ ثُمَّ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ