Bagaimana Hukum tidak Percaya Pada Hari Akhir?

Bagaimana Hukum tidak Percaya Pada Hari Akhir? – Pada kesempatan in Dutadakwah akan membahas tentang Hari Akhir. Dalampembahasan kali ini tentang bagaimana hukum bagi seseorang yang tidak percaya pada hari akhir. Untuk lebih jelasnya silahkan simak ulasan berikut ini dengan seksama.

Bagaimana Hukum tidak Percaya Pada Hari Akhir?

Hari akhir adalah hari dimana proses pengadilan dimulai menuju proses kehidupan yang kekal. Pada hari tersebut, segalanya akan terbayar dengan adil sesuai dengan yang dilakukan selama di dunia. Perbuatan baik dan beribadah kepada Allah tentu mendapat kebaikan di surga dan sebaliknya. Adzab menanti bagi orang orang yang senang berbuat zalim dan tidak menyembah Allah.

Saudarku seiman, tentunya hal ini harus kita percaya sebab sudah ada ketentuan. Dan penjelasan lengkapnya dalam syariat islam, namun sobat, jika ada orang yang tidak percaya, bagaimana hukumnya? tentu keyakinan memang hak masing masing dan keyakinan adalah hidayah dari Allah.

1. Percaya Hari Akhir Termasuk Rukun Iman

Percaya dengan hari akhir dan dan hukum tidak percaya pada hari akhir adalah haram, hukumnya wajib bagi setiap muslim karena merupakan salah satu di antara enam rukun iman. Bahkan, di antara rukun iman yang enam, iman kepada hari akhir dan dan hukum tidak percaya pada hari akhir adalah haram merupakan salah satu yang banyak dibicarakan di dalam ayat-ayat makkiyyah dan yang banyak didakwahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di awal-awal masa kenabian beliau.

2. Percaya Hari Akhir adalah Hal Mendasar

Keimanan atau hikmah beriman kepada hari akhir dan hukum tidak percaya pada hari akhir adalah haram. Beriman pada hari akhir merupakan hal yang sangat penting dan paling mendasar di dalam Islam. Terdapat banyak sekali ayat yang menyatakan wajibnya percaya dengan hari akhir. Adapun hukum tidak percaya pada hari akhir adalah haram.

Bahkan di dalam banyak ayat pula, Allah menyebutkan keimanan kepada Allah dan keimanan kepada hari akhir. Sebagaimana diterangkan dalam Surat An Nisa’ ayat 162, Allah berfirman;

وَالْمُقِيمِينَ الصَّلَاةَ  ۚ  وَالْمُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالْمُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أُولَٰئِكَ سَنُؤْتِيهِمْ أَجْرًا عَظِيمًا

Artinya; “Dan orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan yang beriman kepada Allah dan hari kemudian. Orang-orang itulah yang akan Kami berikan kepada mereka pahala yang besar”.

Digandengkannya keimanan kepada Allah dan keimanan kepada hari akhir. Lantas hukum tidak percaya pada hari akhir ialah haram itu menunjukkan betapa pentingnya keutamaan iman kepada hari akhir.

3. Tidak Percaya Kepada Hari Akhir Berarti Tidak Beriman Kepada Allah

Berimannya kepada hari Akhir ialah mengimani apa-apa yang telah disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian juga beriman pada apa yang terjadi setelah kematian sesuai ayat tentang kematian dalam islam. Hukum beriman kepada hari Akhir adalah wajib. Allah dan Rasul-Nya sering menyebutkan tentang iman kepada Allah dan hari Akhir, hal ini menunjukkan pentingnya beriman kepada hari Akhir. Beriman kepada Allah berarti beriman kepada permulaan dan beriman kepada tempat kembali.

Orang yang tidak beriman kepada hari Akhir berarti ia tidak beriman kepada tempat kembali, dan itu ialah dosa besar dalam islam. Orang yang tidak beriman kepada hari Akhir berarti ia tidak beriman kepada Allah. Disebut sebagai hari Akhir karena tidak ada hari lagi setelahnya dan itulah akhir perjalanan hidup manusia.

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ  ۖ  وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ  ۚ  وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ

Artinya; “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh (dalam kehidupan) di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zhalim, dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki”. (Surat Ibrahim Ayat 27).

4. Dalil tidak Percaya pada Hari Akhir adalah Dosa

Sebagaiman Firman Allah SWT dalam QS. Al-Anbiya : 47 .

وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا  ۖ  وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا  ۗ  وَكَفَىٰ بِنَا حَاسِبِينَ

Artinya: “Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.”

Kemudian Firman Allah SWT dalam QS. Al-Insan : 20.

وَإِذَا رَأَيْتَ ثَمَّ رَأَيْتَ نَعِيمًا وَمُلْكًا كَبِيرًا

Artinya : “Dan apabila kamu melihat di sana (surga), niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar.”

Dan Firman Allah SWT dalam QS. Al-Waqi’ah : 56

هَٰذَا نُزُلُهُمْ يَوْمَ الدِّينِ

Artinya: “Itulah hidangan untuk mereka pada hari Pembalasan.”

Juga Firman Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah : 8

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ

Artinya; “Di antara manusia ada yang mengatakan; “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian” pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman”.

Lantas Firman Allah SWT dalam QS. Az-zumar : 68.

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ  ۖ  ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَىٰ فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ

Artinya : “Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing).”

Firman Allah SWT dalam QS Taha : 124

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ

Artinya : “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.”

5. Kesimpulan Hukum Tidak Percaya pada Hari Akhir

Sebagai Muslim, kita harus ingat akan kematian, cepat atau lambat, kita akan sampai pada waktunya. Dan mati itu sendiri bukanlah akhir dari segalanya, tapi justru kematian itu adalah awal dari kehidupan yang panjang. Mati adalah kehidupan akhirat yang merupakan pertanggung jawaban dan hasil dari kehidupan dunia yang fana.

Dan mereka berkata:

وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ  ۚ  وَمَا لَهُمْ بِذَٰلِكَ مِنْ عِلْمٍ  ۖ  إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ

Artinya: “Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” (QS. Al-Jatsiah 24).

Sebab itu jelas bahwa hukum tidak percaya pada hari akhir adalah haram. Banyak ayat Al Qur’an yang menjelaskan, seseorang yang tidak percaya hari akhir tandanya tidak percaya pada Al Qur’an dan tidak percaya pada Allah SWT.

Manusia wajib percaya hari akhir agar jauh dari sengsara dunia akherat

Manusia yang tidak meyakini kehidupan akhirat akan mengakibatkan dirinya masuk jurang kesengsaraan di akhirat kelak. Akibat manusia merasa bebas dengan aturan dengan prinsip tidak menghiraukan aturan, hingga menjadi faktor timbulnya kerusakan moral masyarakat.

Tidak mempercayai hari akhir

Dengan tidak percaya pada hari akhir mengakibatkan hidup hanya fokus pada duniawi. Akibatnya pandangan yang akan dituju pada imbalannya hanya bersifat duniawi. Dan segala sesuatu, baik atau tidak, bermanfaat atau mudharat itu selalu dilihatnya dari kaca mata duniawi. Kesemuanya itu sifatnya materi, sehingga sangat berkembang pemikiran dan prilakunya yang menunjukkan sikap materialis.

Percaya pada hari akhir ialah wajib

Begitu pentingnya keimanan kepada adanya hari akhirat atau kehidupan sesudah kematian. Muslim harus berusaha untuk selalu ingat kepada kematian. Salah satu alternatif kita bisa melakukannya dengan ta’ziah kepada orang yang mati, mengurus jenazah, ziarah kubur termasuk menjenguk orang sakit. Demikian juga membaca riwayat hidup orang-orang yang bercita-cita tinggi untuk mati di jalan Allah.

Melaksanakan berbagai peribadatan di dalam islam merupakan di antara cara-cara untuk ingat akan mati. Pada kesimpulannya kematian seseorang merupakan nasihat pada kita bahwa cepat atau lambat kita pasti mati.

 

Bagaimana Hukum tidak Percaya Pada Hari Akhir
Bagaimana Hukum tidak Percaya Pada Hari Akhir

Demikian ulasan singkat tentang Bagaimana Hukum tidak Percaya pada Hari Akhir?. Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan untuk kita semua. Terimakasih.