Mukmin yang kuat, itu lebih dicintai Allah daripada yang lemah

Mukmin yang kuat, itu lebih dicintai Allah daripada yang lemah – Melalui Artikel ini Dutadakwah akan menerangkanya sesuai hadits yang kami baca. Dan untu lebih jelasnya mari kit abaca saja uraiannya di bawah ini.

Mukmin yang kuat, itu lebih dicintai Allah daripada yang lemah

Sebagai mukmin yang semestinya tidak boleh lemah. Yang dimaksudkan lemah di sini lemah iman, lemah dalam beribdah dang seumpamnya. Untuk lebih terangnya silahk baca hadits di bawah ini.

Mukadimah

السّلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحَمْدُ للهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ:  أَمَّا بَعْدُ

Segala Puji bagi Allah Subhanahu wa ta’ala. Shalawat dan Salam semoga tetap tercurah kepada Nabi Agung Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa sallam. Pembaca yang rahimakumullah. Pada halaman ini kami akan membicarakan tentang Mukmin yang kuat dan mukmin yang lemah.

Mukmin yang kuat lebih dicintai Allah daripada yang lemah

Kekuatan iman dan taqwa mesti dijaga oleh setiap mukmin mukminat. Karena dengan Iman yang kuat itu yang bisa menumpaskan nafsu yang jahat. Mukmin yang kuat lebih dicintai oleh Allah, sebagaimana dalam hadits diterangkan;

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم: الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ، وَفِيْ كُلِّ خَيْرٌ، اِحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِالله وَلاَ تَعْجِزْ ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّيْ فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَرَ اللَّهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ؛ فَإِنَّ لَوْ تُفْتِحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ، رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Makna Hadits Mukmin yang kuat

Artinya: Dari Abu Hurairah r.a. katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda;

“Orang mu’min yang kuat adalah lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada orang mu’min yang lemah. Namun keduanya itu pun sama memperolehi kebaikan.

Berlombalah untuk memperoleh apa saja yang memberikan kemanfaatan padamu dan mohonlah pertolongan kepada Allah dan janganlah merasa lemah. Jikalau engkau terkena oleh suatu mushibah, maka janganlah engkau berkata;

“Andaikata saya mengerjakan begini, tentu akan menjadi begini dan begitu”. Tetapi berkatalah: “Ini adalah takdir Allah dan apa saja yang dikehendaki olehNya tentu Dia melaksanakannya”, sebab sesungguhnya ucapan “andaikata” itu membuka pintu godaan syaitan”. (Riwayat Muslim).

Pengertian hadits

Hadits tersebut memuat beberapa perihal besar dan ungkapan yang berpengertia luas. Misanya seperti menetapkan sifat Mahbbah bagi Allah Ta’ala. Sifat Mahabbah ini terhubung erat dengan hamba yang dicintainNya serta yang mencintaiNya.

Hadits tersebut memberikan pengertian bahwasanya Cintanya Allah sangat bergantung pada kehendakNya.

Mahabbah Allah Ta’ala terhadap makhlukNya itu berbeda-beda, sebagaimana halnya Allah mencintai terhadap Mukmin yang kuat dan mukmin yang lemah. Ungkapan dalam hadits inin pula memuat keyakinan hati atau (‘aqidah qalbiyyah), Aqwal dan Af’al sepertihalnya plihan Ahlus sunnah waljam’ah.

Iman itu terdiri lebih dari tujuh puluh cabang, dan yang tertinggi adalah “Laa Ilaaha Illalllah (لا اله إلا الله)”. Dan serendah-rendahnya adalah mnyingkirkan duri di jalan

Jalan ke Syurga dan ke Neraka

Ada istilah sering kita mendengar bahwa menuju jalan Syurga itu penuh dengn duri. Sedangkan kalau menuju jalan ke Neraka itu seperti jalan Tol.

Karena Syurga dikeliling dengan segala kebencian, Sedangkan Neraka dikelilingi dengan segala kesenangan. Trenyata juga perihal ini diterangkan dalam sebuah hadits.

وَعَنْهُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: حُجِبْتُ النَّارَ بِالشَّهَوَاتِ، وَحُجِبْتُ الْجَنَّةَ بِالْمَكَارِهَ, مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ 

Artinya: Dan” Abu Hurairah r.a. pula bahawasanya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

“Ditutupilah neraka dengan berbagai kesyahwatan – keinginan -dan ditutupilah syurga itu dengan berbagai hal yang tidak disenangi.” (Muttafaq ‘alaih)

Dalam sebuah riwayat, dari Muslim disebutkan dengan mengjunakan kata huffat (حُفَّتْ) sebagai ganti kata hujibat, sedang ertinya adalah sama, iaitu bahawa antara seseorang dengan neraka (atau syurga) itu ada tabirnya, maka jikalau tabir ini dilakukannya, tentulah ia masuk ke dalamnya.

Kesempurnaan dalam beribadah

Sebagaiman diterangkan dalam salahsatu hadits kami kutp dari Riyadhush-sholihin sebagai berikut:

 عَنْ أَبِيْ عَبْدِ اللَّهِ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم ذَاتَ لَيْلَةٍ فَافْتَتَحَ الْبَقَرَةَ، فَقُلْتُ يَرْكَعُ عِنْدَ المْائَةِ، ثُمَّ مَضَى، فَقُلْتُ يُصَلِّي بِهَا فِيْ رَكْعَةٍ، فَمَضَى، فَقُلْتُ يَرْكَعُ بِهَا، ثُمَّ افْتَتَحَ النِّسَاءَ فَقَرَأَهَا، ثُمَّ افْتَتَحَ آلِ عِمْرَانَ فَقَرَأَهَا، يَقْرَأُ مُتَرَسِلًا: إِذَا مَرَّ بِآيَةٍ فِيْهَا تَسْبِيْحٌ سَبَّحَ، وَإِذَا مَرَّ بِسُؤَالٍ سَأَلَ، وَإِذَا مَرَّ بِتَعُوْذٍ تَعَوَّذَ، ثُمَّ رَكَعَ فَجَعَلَ يَقُوْلُ: سُبْحَانَ رَبِيَ الْعَظِيْمِ، فَكَانَ رُكُوْعُهُ نَحْوًا مِنْ قِيَامِهِ، ثُمَّ قَالَ : سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ، ثُمَّ قَامَ قِيَامًا طَوِيْلًا قَرِيْبًا مِمَّا رَكَعَ، ثُمَّ سَجَدَ فَقَالَ:  سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى، فَكَانَ سُجُوْدُهُ قَرِيْبًا مِنْ قِيَامِهِ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Makna Hadits kesempurnaan dalam ibadah

Artinya: Dari Abu Abdillah, iaitu Hudzaifah bin al-Yaman, al-Anshari yang terkenal sebagai penyimpan rahsia Rasullah ﷺ, radhiallahu ‘anhuma, katanya; “Saya bersembahyang beserta Nabi ﷺ pada suatu malam maka beliau membuka dalam rakaat pertama dengan surat al-Baqarah.

Saya berkata; “Beliau ruku’ pada ayat keseratus, kemudian berlalulah”. Saya berkata: “Beliau bersembahyang dengan bacaan tadi itu dalam satu rakaat, kemudian berlalu”.

Selanjutnya saya berkata: “Beliau ruku’ dengan bacaan di atas itu, kemudian membuka dalam rakaat kedua dengan surah an-Nisa’ lalu membacanya, kemudian membuka lagi sebagai lanjutan-nya surah ali Imran, kemudian membacanya.

Beliau ﷺ membacanya itu dengan rapi sekali tidak tergesa-gesa jikalau melalui ayat yang di dalamnya mengandung pentasbihan memahasucikan beliaupun mengucapkan tasbih, jikalau melalui ayat yang mengandung suatu permohonan, beliau pun memohon, jikalau melalui ayat yang menyatakan berta’awwudz mohon perlindungan kepada Allah dari sesuatu yang tidak baik, beliau pun berta’awwudz mohon perlindungan.

Kemudian beliau ﷺ ruku’ dan di situ beliau mengucapkan; Subhana rabbiyal ‘azhim. Ruku’nya adalah sebanding saja dengan berdirinya, yakni perihal lamanya hampir persamaan belaka selanjutnya beliau mengucapkan; Sami’allahu iiman hamidah.

Rabbana lakal hamd”, lalu berdiri dengan berdiri yang lama mendekati ruku’nya tadi. Seterusnya beliau bersujud lalu mengucapkan:. Subhana  rabbial a’la,  maka  sujudnya  itu  mendekati  pula akan berdirinya tentang lama waktunya”. (Riwayat Muslim)

Contoh Mahbbahnya Rasulullah kepada Robnya.

عَنْ اِبْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً فَلَمْ يَزلْ قائِمًا حَتَّى هَمَمْتُ بِأَمْرٍ سُوءٍ. قِيْلَ: مَا هَممْت؟ قَالَ: هَممْتُ أَنْ أَجْلِس وَأَدعهُ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Artinya: Dari Ibnu Mas’ud r.a., katanya: “Saya bersembahyang beserta Rasulullah s.a.w. pada suatu malam, maka beliau memperpanjangkan berdirinya, sehingga saya bersengaja untuk melakukan sesuatu yang tidak baik”.

Ia ditanya: “Dan apakah hal yang tidak baik yang engkau sengajakan itu?”

Ibnu Mas’ud r.a. menjawab: “Saya bersengaja hendak duduk saja dan meninggalkan beliau – tidak terus berma’mum padanya”. (Muttafaq ‘alaih)

Mukmin yang kuat, itu lebih dicintai Allah daripada yang lemah
Mukmin yang kuat, itu lebih dicintai Allah daripada yang lemah

Demikian Penjelasan Materi singkat tentang; Mukmin yang kuat, itu lebih dicintai Allah daripada yang lemah Semoga dapat terinspirasi dari inti uraian tersebut. Mohon Abaikan saja uraian kami ini, jika pembaca tidak sependapat.Terima kasih atas kunjungannya. Wallahu A’lamu bish-showab.