Bertasbih, Menghitungnya dengan tangan dan yang selainnya

Bertasbih, Menghitungnya dengan tangan dan yang selainnya – Baiklah Pembaca yang kami banggakan, kali ini Dutadakwah akan manyampaikan materi tentang bertasbih. Bertasbih dan menghitung tasbih dengan alat hitung apa saja yang sudah biasa digunakan.

Bertasbih, Menghitungnya dengan tangan dan yang selainnya

Bartasbih adal mengucapkan lafadz “Subhanallah”. Alat penghitung tasbih juga sudah menjadi bahasa umum dinamakan “Tasbih”. Uraia yang secara rinci akan kami sampaikan di bawah ini.

Mukadimah

السّلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بِسْمِ اللهِ  الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، الحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، الصَّلَاةُ وَ السَّلامُ  عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ:  أَمَّا بَعْدُ

Alhamdulillah Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maha Suci Allah. Shalawat Salam semoga tetap tercurah ke haribaan Nabi Agung Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa sallam. Pembaca yang dirahmati Allah Hadanallahu wa Iyyakum Aamiin. Barangkali pembaca sering mendengar bahwa menghitung Tabih, Tahmid dan Tahlil mengunakan Tasbih dianggap “Bid’ah Dholalah”. Oleh Karena itu maka akan kami terangkan secara ringkas di bawah ini.

Bertasbih

Bertasbih itu adalah mengucapkan amalan “Subhanallah” diabaca beulang-ulang. Mebaca Subahnallah kapan saja waktunya itu baik. Biasanya Bacaan Tasbih itu digabungkan dengan Tahmid dan tahlil sperti contoh berikut;

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ وَلَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ وَلَا حَوْلَ وَ لَا قُوَّةَ اِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ 

Demikian Juga ketika diwirid setelah shalat biasa dibaca “Subhanallah” 33 kali, “Al-hamdullillah” 33 kali, dan “Allahu Akbar” 33 kali. Dan untuk menetukan hitungan pada umumnya memake alat hitung baiak dengan ruas jari tangan ataupun dengan “Tasbih”. Bagi Saudaraku yang biasa mengunakan Tasbih alat penhitung dzikir baik yang terbuat dari kayu dan lain sebagainya, kami harap jangan terpangaruh oleh orang yang melarang dengan alas an bid’ah.

Tasbih Alat Penghitung Tasbih, Tahhmid dan Tahlil

Alat penghitung wirid yang kita lazim disebut dangan penamaan “Tasbih” akan kami sampaikan ketarngannya kuhusus bab tasbih. Keterang yang kami sampaikan ini adalah kutpan dari Kitab Nailul-Authar. Adapun kutipannya adlah sebagai berikut;

Menghitung Tasbih Dengan Ruas Jari Tangan

Bab Bolehnya Menghitung Tasbih

باب جواز عقد التسبيح باليد وعده بالنوى ونحوه نيل الأوطار جلد ١ صحيفة : ٥٧٥

Bab Bolehnya menghitung tasbih dg tangan, kerikil dan sbagainya.

Pada hadits nomor 1056 tertulis sebagai berikut;

١٠٥٦. عَنْ يُسَيْرَةَ وَكَانَتْ مِنَ الْمُهَاجِرَاتِ قَالَتْ: «قَالَ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ: عَلَيْكُنَّ بِالتَّهْلِيلِ وَالتَّسْبِيحِ وَالتَّقْدِيسِ وَلاَ تَغْفُلْنَ فَتُنْسَيْنَ الرَّحْمَةَ، وَاعْقِدْنَ بِالأَنَامِلِ فَإِنَّهُنَّ مَسْؤُولاَتٌ مُسْتَنْطَقَاتٌ» رواه أحمد والترمذي وأبو داود.

BArtinya: Dari Yusairah, salah seorang wanita yang berhijrah, ia berkata, “Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda kepada kami. Hendaklah kalian membaca tahlil, tasbih dan taqdis, dan janganlah kalian lengah sehingga terluputkan dari rahmat. Hitunglah dengan jari-jari tangan ; kerena sesungguhnya mereka itu akan ditanya dan pasti akan berbicara. (HR. Ahmad, At-Tirmidzi dan Abu Daud)

Menghitung Tasbih Dengan Beberapa Krikil

Pada hadits nomor 1057 tertulis sebagai berikut;

١٠٥٧.    وَعَنْ سَعَدَ بِنْ أَبِيْ وَقَاصٍ: «أَنَّهُ دَخَلَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ عَلَى امْرَأَةٍ وَبَيْنَ يَدَيْهَا نَوىً أَوْ حَصَى تُسَبِّحُ بِهِ فَقَالَ: أُخْبِرُكِ بِمَا هُوَ أَيْسَرُ عَلَيْكِ مِنْ هَذَا أَوْ أَفْضَلُ، سُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا خَلَقَ فِي السَّمَاءِ، وَسُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا خَلَقَ فِي الأَرْضِ، وَسُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا بَيْنَ ذَلِكَ، وَسُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا هُوَ خَالِقٌ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ مِثْلَ ذَلِكَ، وَالحَمْدُ لِلَّهِ مِثْلَ ذَلِكَ، وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ مِثْلَ ذَلِكَ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ مِثْلَ ذَلِكَ» رواه أبو داود والترمذي

Artinya: Dari Sa’d bin Abu Waqash, bahwasanya ia bersama Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam,  masuk ke tempat seorang wanita, sementara di hadapan wanita itu terdapat sejumlah kerikil, ia sedang bertasbih dengan menggunakan kerikil tersebut. Beliau pun bersabda, “Maukah aku beritahukan kepadamu dengan yang lebih mudah bagimu daripada ini, atau yang lebih utama?

Subhaanallah ‘adada maa khalaqa fis samaa’i Wa subhaanallah ‘adada maa khalaqa fil ardhi Wa subhaanallah ‘adada maa baina dzaalika: Wa subhaanallah ‘adada maa huwa khaaliq. Wallaahu akbar mitslu dzaalik. Wal hamdu lillaahi mitslu dzaalik. Wa laa ilaaha illallaahu mitslu dzaalik. Wa laa haula walaa quwwata iIlaa billaahi mitslu dzaalik.

Artinya:  [Maha Suci Allah sebanyak bilangan apa yang diciptakan di langit. Maha Suci Allah sebanyak bilangan apa yang diciptakan di bumi. Maha Suci Allah sebanyak bilangan apa yang ada di antara keduanya. Maha Suci Allah sebanyak bilangan apa yang Dia penciptanya. Allah Maha Besar seperti itu pula. Sega/a puji bagi Allah seperti itu pula. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah seperti itu pula. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dart (pertolongan) Allah seperti itu pula).” (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi)

Bertasbih dengan alat hitung krikil 4000 biji

١٠٥٨.    وَعَنْ صَفْيَةَ قَالَتْ:  «دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَبَيْنَ يَدَيَّ أَرْبَعَةُ آلاَفِ نَوَاةٍ أُسَبِّحُ بِهَا فَقَالَ : لَقَدْ سَبَّحْتَ بِهَذَا، أَلاَّ أُعَلِمُكَ بِأَكْثَرَ مِمَّا سَبَّحْتَ بِهِ؟ فَقَالَتْ: عَلِّمْنِي، فَقَالَ قُولِي: سُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ خَلْقِهِ» رواه الترمذي

Dari Shafiyyah, ia berkata, “Rasulullali Shollallahu ‘alaihi wa sallam, masuk ketempatku; sementara di hadapanku terdapat empat ribu kerikil, aku sedang bertasbih dengan menggunakannya. Lalu beliau bertanya Engkau bertasbih dengan ini? Maukah aku ajarkan kepadamu yang lebih banyak dari apa yang telah engkau tasbihkan itu? ‘” Lalu beliau mengajariku. Beliau bersabda, “Ucapkanlah, ‘Subhaanallaah ‘adada khalqihi’ [Maha Suci Allah sebanyak bilangan makhluk-Nyai,” (HR Tirmidzi)

Pendapat dari Pensyarah Nailu-Authar

Pensyarah Rahimahullah Ta’ala mengatakan; Hadits pertama menunjukkan disyariatkannya menghitung bacaan tasbih dengan jari, dan ini lebih utama daripada dengan tasbih dan kerikil. Kedua hadits lainnya menunjukkan bolehnya menghitung bacaan tasbih dengan kerikil, demikian juga dengan tasbih, demikian ini karena adanya persetujuan Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam, terhadap kedua wanita tersebut dan tidak adanya pengingkaran beliau. Sedangkan petunjuk beliau kepada yang lebih utama tidak menafikan bolehnya hal tersebut.

Pendapat Tim Dutadakwah

Kami berpendapat bahwa “Tasbih” yakni alat penghitung Tasbih, Taqdis, Tahmid dan Talil itu bukan sekedar boleh, tapi itu “penting”. Mengapa Tasbih itu penting?, karena untuk mengingatkan jumlah yang ditentukan. Memang ada yang lebih utama seperti dengan menggunakan ruas jari tangan, tapi itu bisa bagi yang sudah biasa. Sedangkan bagi sebagian orang ada yang tidak merasa khusyu’ jika tidak menggunakan Tasbih sebagai alat hitung.

Jangan dianggap sepele Tasbih yang dipake Ulama untuk menghitung jutaan Tahlil, Tasbih, Tadzkir, Takdis dan berbagai wirid yang lainnya!!. Semua itu adalah untuk mngagungkan Allah dan itu pasti jika Allah menghendaki maka akan diberikan ma’unah ’an karomah.

Bertasbih, Menghitungnya dengan tangan
Bertasbih, Menghitungnya dengan tangan

Demikian ulasan ringkas tentang; Bertasbih, Menghitungnya dengan tangan dan yang selainnya Semoga bermanfaat. Mohon utnuk diabaikan saja uraian kami ini, jika pembaca tidak sependapat.Terima kasih atas kunjungannya. Wallahu A’lamu bish-showab wa billahit-taufiq.