Kisah Nabi Harun yang Selalu Setia Menemani Dakwah Nabi Musa

Posted on

Kisah Nabi Harun yang Selalu Setia Menemani Dakwah Nabi Musa – Pada kesempatan ini akan membahas mengenai Kisah Nabi Harun. Yang mana dalam pembahasan kali ini menjelaskan sebuah kisah Nabi Harun AS saudara yang selalu setia menemani dakwah Nabi Musa AS. Untuk lebih jelasnya simak artikel Duta Dakwah mengenai Kisah Nabi Harun berikut ini.

Kisah Nabi Harun yang Selalu Setia Menemani Dakwah Nabi Musa

Kisah Nabi Harun mungkin beberapa orang tidaklah banyak yang mengetahui kisahnya. Hal ini disebabkan bahwa Nabi Harun sendiri ditugaskan menjadi nabi bersamaan dengan saudaranya nabi Musa Alaihi Salam.

Didalam kisah Nabi Musa bahwa Nabi Harun sebenarnya juga ada disana turut setia mendampingi saudaranya saat melakukan dakwah kepada penduduk Mesir terutama Firaun. Sebab kedua Nabi ini diutus bersama untuk kaum yang sama, maka kisah nabi Harun pun tidaklah jauh berbeda dengan kisah Nabi Musa As.

Dikatakan bahwa Nabi Harun dilahirkan terlebih dahulu dari pada Nabi Musa. Hal inilah yang membuat Nabi Harun terhindar dari perintah Firaun yang menyuruh untuk membunuh anak laki-laki pada masa Nabi Musa dilahirkan.

Nabi Harun Diangkat Menjadi Nabi

Kisah Nabi Harun yang Selalu Setia Menemani Dakwah Nabi Musa

Saat Nabi Mus diangkat menjadi Nabi, Allah SWT memerintahkan Nabi Musa agar menemui Firaun dan memberikan dakwah padanya. Maka Nbi Musa pun menyanggupinya.

Namun, sebelum berangkat nabi Musa berdoa kepada Allah SWT untuk meminta bantuan. Sebagaimana dalam firman Allah SWT QS. Thaha ayat 25-35 yakni :

قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ ۙ  وَيَسِّرْ لِيْٓ اَمْرِيْ ۙ  وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّنْ لِّسَانِيْ ۙ  يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ ۖ   وَاجْعَلْ لِّيْ وَزِيْرًا مِّنْ اَهْلِيْ ۙ هٰرُوْنَ اَخِى ۙ اشْدُدْ بِهٖٓ اَزْرِيْ ۙ وَاَشْرِكْهُ فِيْٓ اَمْرِيْ ۙ كَيْ نُسَبِّحَكَ كَثِيْرًا ۙ وَّنَذْكُرَكَ كَثِيْرًا ۗ اِنَّكَ كُنْتَ بِنَا بَصِيْرًا

Artinya : “Dia (Musa) berkata, “Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku, teguhkanlah kekuatanku dengan (adanya) dia, dan jadikanlah dia teman dalam urusanku, agar kami banyak bertasbih kepada-Mu, dan banyak mengingat-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Melihat (keadaan) kami.”

Atas permintaan Nabi Musa itulah, Allah SWT memberikan wahyu dan mengangkat Nabi Harun sebagai Nabi untuk mendampingi Nabi Musaa dalam menyebarkan dakwahnya.

Baca Juga :  Kisah Nabi Ilyasa Saat Berdakwah Kepada Kaum Bani Israil

وَوَهَبْنَا لَهٗ مِنْ رَّحْمَتِنَآ اَخَاهُ هٰرُوْنَ نَبِيًّا – ٥٣

Artinya : “Dan Kami telah menganugerahkan sebagian rahmat Kami kepadanya, yaitu (bahwa) saudaranya, Harun, menjadi seorang nabi.” QS. Maryam ayat 53.

Nabi Musa pun lalu pulang ke keluarganya dan memberitahukan kepada Nabi Harun apa yang telah terjadi. Agar Nabi Harun setuju untuk ikut menyampaikan dakwah kepada firaun dan kaumnya.

Nabi Harun yang mendengar akan kabar tersebut mersa senang dan setuju untuk ikut bersama dengan saudaranya tersebut untuk pergi berdakwah.

Kelebihan Nabi Harun

Dengan keberadaan Nabi Harun sebagai rekan Nabi Musa membuat beban yang ditanggung Nabi Musa terasa lebih ringan. Dipilihnya Nabi Harun oleh Nabi Musa bukan tanpa sebab.

Nabi Harun dikenal sebab kecakapannya dalam berbicara, Nabi Musa mengakui sendiri akan kelebihan yang dimiliki oleh saudaranya. Sebagai mana telah dijelaskan dalam firman Allah QS. Al Qashasas ayat 34, yakni:

وَاَخِيْ هٰرُوْنُ هُوَ اَفْصَحُ مِنِّيْ لِسَانًا فَاَرْسِلْهُ مَعِيَ رِدْءًا يُّصَدِّقُنِيْٓ ۖاِنِّيْٓ اَخَافُ اَنْ يُّكَذِّبُوْنِ – ٣٤

Artinya : “Dan saudaraku Harun dia lebih fasih lidahnya daripadaku, maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku untuk membenarkan (perkataan)ku; sesungguhnya aku khawatir mereka akan mendustakanku.”

Nabi Harun telah diberi anugera oleh Allah SWT berupa kefasihan dalam berbicara. Dikatakan bahwa cara berbicara yang dimiliki oleh Nabi Harun sangat tenang, mudah dipahami dan lembut. Nabi Harun pandai menata setiap perkataannya yang membuat banyak orang senang berbicara dengan beliau.

Selain itu juga Nabi Harun juga dikenal memiliki pendirian yang sangat kuat dan tegas. Dengan kelebihan inilah yang membuatnya ditetapkan sebagai juru bicara Nabi Musa.

Berdakwah Bersama Nabi Musa

Selanjutnya Nabi Musa dan Nabi Harun pergi untuk berdakwah menuju Firaun dan kaumnya. Namun sebab karena sifat yang dimiliki Firaun pada saat itu terkenal kejam. Maka Nabi Musa dan Nabi Harun berdoa kepada Allah SWT untuk diberikan perlindungan.

قَالَا رَبَّنَآ اِنَّنَا نَخَافُ اَنْ يَّفْرُطَ عَلَيْنَآ اَوْ اَنْ يَّطْغٰى. قَالَ لَا تَخَافَآ اِنَّنِيْ مَعَكُمَآ اَسْمَعُ وَاَرٰى. فَأْتِيٰهُ فَقُوْلَآ اِنَّا رَسُوْلَا رَبِّكَ فَاَرْسِلْ مَعَنَا بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ ەۙ وَلَا تُعَذِّبْهُمْۗ قَدْ جِئْنٰكَ بِاٰيَةٍ مِّنْ رَّبِّكَ ۗوَالسَّلٰمُ عَلٰى مَنِ اتَّبَعَ الْهُدٰى. اِنَّا قَدْ اُوْحِيَ اِلَيْنَآ اَنَّ الْعَذَابَ عَلٰى مَنْ كَذَّبَ وَتَوَلّٰى.

Artinya : “Keduanya berkata, “Ya Tuhan kami, sungguh, kami khawatir dia akan segera menyiksa kami atau akan bertambah melampaui batas,” Dia (Allah) berfirman, “Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku bersama kamu berdua, Aku mendengar dan melihat.

Baca Juga :  Kisah Nabi Hud As Berdakwah Di Tengah-Tengah Kaum Aad

“Maka pergilah kamu berdua kepadanya (Fir‘aun) dan katakanlah, “Sungguh, kami berdua adalah utusan Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil bersama kami dan janganlah engkau menyiksa mereka. Sungguh, kami datang kepadamu dengan membawa bukti (atas kerasulan kami) dari Tuhanmu. Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk. Sungguh, telah diwahyukan kepada kami bahwa siksa itu (ditimpakan) pada siapa pun yang mendustakan (ajaran agama yang kami bawa) dan berpaling (tidak mempedulikannya).”

Dengan perlindungan Allah SWT, kedua saudara tersebut berangkat untuk menyebarkan ajaran gama Islam kepada kaumnya dan kepada Firaun.

Amanah untuk Nabi Harun

Kisah Nabi Harun yang mungkin banyak diingat yaitu saat Nabi Musa menerima wahyu dari Allah SWT berupa Kitab Taurat. Dalam menerima wahyu, Nabi Musa harus pergi berdiam diri di sebuah bukit yang bernama Bukit Tursina selama 40 hari.

Sebelum Nabi Musa pergi, ia memberikan amanat kepada Nabi harun untuk menggantikannya mengawasi dan memimpin Bani Israil. Namun setelh kepergian Nabi Musa untuk memperoleh wahyu justru dimanfaatkan oleh seseorang bernama Samiri.

Samiri mencoba untuk membujuk Bani Israil kembali menyembah berhala dengan membuat berhala dan melakukan tipu muslihat terhadap berhala tersebut. Melihat kaumnya yang kembali menyembah berhala, Nabi Harun pun memperingatkan dan berusaha mencegah kaumnya agar tidak menyekutukan Allah SWT.

Nabi harun berkata bahwa berhala itu adalah suatu cobaan bagi kaumnya sebagaimana telah difirmankan dalam QS. Thaha ayat 90, yakni:

وَلَقَدْ قَالَ لَهُمْ هٰرُوْنُ مِنْ قَبْلُ يٰقَوْمِ اِنَّمَا فُتِنْتُمْ بِهٖۚ وَاِنَّ رَبَّكُمُ الرَّحْمٰنُ فَاتَّبِعُوْنِيْ وَاَطِيْعُوْٓا اَمْرِيْ

Artinya : “Dan sungguh, sebelumnya Harun telah berkata kepada mereka, “Wahai kaumku! Sesungguhnya kamu hanya sekedar diberi cobaan (dengan patung anak sapi) itu dan sungguh, Tuhanmu ialah (Allah) Yang Maha Pengasih, maka ikutilah aku dan taatilah perintahku.”

Akan tetapi upaya yang dilakukan oleh Nabi Harun untuk menyadarkan kaumnya tidak dipedulikan oleh kaumnya. Mereka tetap akan menyembah berhala yang menyerupai sapi itu sampai Nabi Musa kembali.

Kembalinya Nabi Musa

Akhirnya, Nbi Musa pun kembali dengan membawa wahyu berupa Kitab Taurat. Melihat akan kaumnya yang kembali menyembah berhala membuat Nabi Musa marah dan menegur saudaranya yakni Nabi Harun. Sebagaimana diterangkan dalam QS. Thaha ayat 92-93, yakni :

قَالَ يٰهٰرُوْنُ مَا مَنَعَكَ اِذْ رَاَيْتَهُمْ ضَلُّوْٓا ۙ اَلَّا تَتَّبِعَنِۗ اَفَعَصَيْتَ اَمْرِيْ

Artinya : “Dia (Musa) berkata, “Wahai Harun! Apa yang menghalangimu ketika engkau melihat mereka telah sesat, (sehingga) engkau tidak mengikuti aku? Apakah engkau telah (sengaja) melanggar perintahku?”

Baca Juga :  Kisah Nabi Luth As Dan Turunnya Azab Untuk Kaum Sodom

Dikisahkan juga bahwa Nabi Musa marah dan kemudian mendatangi Nabi harun dan menarik janggutnya.

قَالَ يَبْنَؤُمَّ لَا تَأْخُذْ بِلِحْيَتِيْ وَلَا بِرَأْسِيْۚ اِنِّيْ خَشِيْتُ اَنْ تَقُوْلَ فَرَّقْتَ بَيْنَ بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ وَلَمْ تَرْقُبْ قَوْلِيْ – ٩٤

Artinya : “Dia (Harun) menjawab, “Wahai putra ibuku! Janganlah engkau pegang janggutku dan jangan (pula) kepalaku. Aku sungguh khawatir engkau akan berkata (kepadaku), ‘Engkau telah memecah belah antara Bani Israil dan engkau tidak memelihara amanatku.’” QS. Thaha ayat 94.

Akibatnya janggut yang dipegang oleh Nabi Musa berubah warnanya menjadi putih dan janggut yang tidak dipegang oleh nabi Musa tetap berwarna hitam. Sejak saat itulah janggut Nabi harun mempunyai dua warna yakni Hitam dan putih.

Kemudian pergilah nabi Musa menemui Samiri dan beliau berkata :

قَالَ فَمَا خَطْبُكَ يٰسَامِرِيُّ – ٩٥

Artinya : “Dia (Musa) berkata, “Apakah yang mendorongmu (berbuat demikian) wahai Samiri?”. QS. Thaha ayat 95.

Lalu Samiri menjawab,

قَالَ بَصُرْتُ بِمَا لَمْ يَبْصُرُوْا بِهٖ فَقَبَضْتُ قَبْضَةً مِّنْ اَثَرِ الرَّسُوْلِ فَنَبَذْتُهَا وَكَذٰلِكَ سَوَّلَتْ لِيْ نَفْسِيْ – ٩٦

Artinya : “Dia (Samiri) menjawab, “Aku mengetahui sesuatu yang tidak mereka ketahui, jadi aku ambil segenggam (tanah dari) jejak rasul lalu aku melemparkannya (ke dalam api itu), demikianlah nafsuku membujukku.” QS. Thaha ayat 96.

Akhirnya nabi Musa pun mengusir Samiri dan berjanji akan menghancurkan berhala yang dibuatnya dan akan dihanyutkan kedalam laut.

قَالَ فَاذْهَبْ فَاِنَّ لَكَ فِى الْحَيٰوةِ اَنْ تَقُوْلَ لَا مِسَاسَۖ وَاِنَّ لَكَ مَوْعِدًا لَّنْ تُخْلَفَهٗۚ وَانْظُرْ اِلٰٓى اِلٰهِكَ الَّذِيْ ظَلْتَ عَلَيْهِ عَاكِفًا ۗ لَنُحَرِّقَنَّهٗ ثُمَّ لَنَنْسِفَنَّهٗ فِى الْيَمِّ نَسْفًا – ٩٧

Artinya : “Dia (Musa) berkata, “Pergilah kau! Maka sesungguhnya di dalam kehidupan (di dunia) engkau (hanya dapat) mengatakan, ‘Janganlah menyentuh (aku),’. Dan engkau pasti mendapat (hukuman) yang telah dijanjikan (di akhirat) yang tidak akan dapat engkau hindari, dan lihatlah tuhanmu itu yang engkau tetap menyembahnya. Kami pasti akan membakarnya, kemudian sungguh kami akan menghamburkannya (abunya) ke dalam laut (berserakan).” QS. Thaha ayat 97.

Demikian penjelasan mengenai Kisah Nabi Harun yang Selalu Setia Menemani Dakwah Nabi Musa, semoga dapat bermanfaat dan menambah wawasan Anda.