√ Tingkah laku sebagian Perempuan

Posted on

Tingkah laku sebagian Perempuan Penjelasan diantara tingkah laku sebagian perempuan, Duta Dakwah akan menuliskannya menukil dari “Syarah ‘Uqudullujain”, uraian ini uantu bacaan Keluarga, in syaa allah uraian ini menjadi masukan bagi semua keluarga dan bisa mengamalkan sesuai kemampuannya. Sehingga tercapai kebahagiaan dunia dan akhirat amiin.

Tingkah laku sebagian Perempuan

Pembahasan mengenai Tingkah laku sebagian Perempuan ini kami hanya menukil dari Kitab kecil yang bernama “’Uqudullujain”. Tulisan ini adalah lanjutan yang ke 32, Dan untuk lebih jelasnya mengenai hal ini mari kita baca bersama uraiannya berikut ini:

Mukodimah

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ

الـحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَـمِيْنَ ، وَالعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ ، فَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِـمِيْنَ ؛ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ وَالـمُرْسَلِيْنَ ،نَبِيِّنَا وَحَبِيْبِنَا مُـحَمَّدٍ أَرْسَلَهُ اللهُ رَحْـمَةً لِلْعَالَمِيْنَ ، وَعَلَى اَلِهِ أَزْوَاجِهِ الطَّاهِرَاتِ أُمَّهَاتِ الـمُؤْمِنِيْنَ ، وَعَلَى آلِهِ الطَّيِّبِيْنَ وَأَصْحَابِهِ الغُرِّ الـمَيَامِيْنِ ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ ، أَمَّا بَعْدُ

Puji dan Syukur senantiasa tetap kita panjatkan ke hadhirat Allah SWT. Rahmat dan salam-Nya semoga tetap tercurahkan ke haribaan Nabi Agung Muhammad s.a.w., keluarga dan shahabatnya semua, Amiin…

Saudara dan saudariku seiman yang dirahmati Allah SWT. Di bagian penutup kitab syarah uqudullujain ini ada beberapa hal yang tidak kaalh pentingnya untuk kita pelajari bersama, yang pertama mengenai tingkah laku sebagian wanita dan  untuk lebih jelasnya berikut inilah materinya yang kami sajikan:

Loading...

Penutup Kitab Syarah Uqudullujain

Dalam Pentupan Kitab ini menerangkan tentang Hala Ihwal sebagian wanita

خَاتِمَةٌ،  فِيْ ذِكْرِ أَحْوَالِ بَعْضِ النِسَاءِ

BAGIAN PENUTUP KITAB : MENJELASKAN TINGKAH LAKU SEBAGIAN WANITA

اعْلَمْ أَنَّهُ) أَيْ الشَّأْنَ (قَدْ غَلَبَ) أَيْ كَثُرَ (عَلَى النِّسَاءِ فِيْ هَذَا الزَّمَانِ التَّبَرُّجُ) أيْ إِبْرَازُ الزِّيْنَةِ وَإِبْرَازُ الْمَحَاسِنِ لِلرِّجَالِ (وَ قِلَّةُ الْحَيَاءِ) أيْ عَدَمُ الْحَيَاءِ، بِأَنْ تَمْشِيَ بَيْنَ الرِّجَالِ، فَذَلِكَ التَّبَرُّجُ كَمَا قَالَهُ مُجَاهِدٌ (وَالْمَشْيُ بِالتَغَنُّجِ) أيْ التَّدَلُّلِ وَالتَّكَسُّرِ كَمَاقَالَهُ مُجَاهِدٌ وَقَتَادَةٌ فِيْ تَفْسِيْرِ التَّبَرُّجِ (فِيْ جُمُوْعَاتِ الرِّجَالِ وَ الأَسْوَاقِ وَ فِيْ الْمَسَاجِدِ بِيْنَ الصُّفُوْفِ خُصُوْصًا فِيْ النَهَارِ، وَ إِنْ كَانَ) أيْ مَشْيُهَا (لَيْلاً قَرِبَتْ) أيْ الْمَرْأَةُ (الْضَّوْءَ) فقَرِبَ إِنْ كَانَ مِنْ بَابِ سَمِعَ  فَهُوَ مُتَعَدٌّ كَمَا هُنَا، وَإِنْ كَانَ مِنْ بَابِ كَرُمَ فَهُوَ لَازِمٌ كَمَا فِيْ الْقَامُوْسِ (لإِظْهَارِ زِيْنَتِهَا لِلنَّاسِ

Ketahuilah, bahwa sudah menjadi hal yang dipandang biasa dan terjadi di mana-mana,wanita di zaman sekarang ini sangat suka dan gemar “tabarruj” (menampakkan perhiasan dan aurat di depan kaum laki-laki) dan berkurangnya rasa malu dan bahkan tak punya malu dengan berjalan di depan para laki-laki. Tabarruj demikian sebagai mana di katakana oleh Mujahid.

Baca Juga :  √ Suami Wajib Memberi Nafkah Keluarga Dalil & Rinciannya

Dan berjalan dengan penuh kegenitan (lenggak-lenggok dan menal-menel sebagaimana 7ang telah dikatakan oleh al-Mujahid dan Qotadah dalam mentafsirkan “at-Tabarruj”) di kerumunan para laki-laki dan di pasar-pasar dan dalam masjid diantara barisan khusunya di siang hari. Dan jika wanita berjalan di malam hari maka ia memilih tempat yang terang dengan maksud memperlihatkan dirinya (karena di tempat terang pada malam hari bisa dilihat semua orang khususnya lawan jenis) (lafadz “Qoriba” jika itu diambil dari bab “Sami’a” maka itu adalah muta’d sebagaimana yang ada di sini, sedang bila diambil dari bab “Karuma” maka itu adalah Lazim sebagaiman diterangkan dalam Kamus.

Tiga Ciri Wanita Yang Masuk Kategori Pelacur

وَقَدْ قِيْلَ: إِذَا ظَهَرَ فِيْ امْرَأَةٍ ثَلاَثُ خِصَالٍ تُسَمَّى) تِلْكَ الْمَرْأَةُ (قَحْبَةً) أيْ مُغْنِيَّةٌ فَاسِقَةٌ زَانِيَّةٌ، الْأُوْلَى (خُرُوْجُهَا فِيْ النَهَار مُتَبَرِّجَةً) أَيْ مُبَرِّزَةٌ لِلْزِيْنَةِ وَالْمَحَاسِنِ مَاشِيَّةً بَيْنَ الرِّجَالِ (وَ) الثَّانِيَّةُ (نَظَرُهَا إِلَى) الرِّجَالِ (الأَجَانِبِ، وَ) الثَّالِثَةُ (رَفْعُ صَوْتِهَا حَيْثُ تُسْمِعَ) أيْ الْمَرْأَةُ الرِّجَالَ (الأَجَانِبَ) ذَلِكَ الصَّوْتَ (وَلَوْ كَانَتْ صَالِحَةً) أيْ عَفِيْفَةً (لأَنَّهَا شَبَّهَتْ نَفْسَهَا الْخَبِيْثَةَ) أيْ الْفَاجِرَةَ، وَلَا يُرَادُ بِذَلِكَ الْإِسْمِ الشَّتْمُ، لِأًنَّهَا جُعِلَ كَاللَّقَبِ.

Dan dikatakan: Ketika telah Nampak terangnya tiga perkara pada wanita, maka pantas dikatakan wanita “pelacur” (maaf saudaraku, makna “Qohbah” adalah: ditafsirkan dalam kamus, yaitu wanita penyanyi, fasiq dan melakukan zina). Jadi yang masuk kategori Wanita Qhbah (pelacur) itu apa bila telah Nampak padanya tiga cirri yaitu:

Pertama, Ia keluar rumah di siang hari dengan tabarruj.

Kedua, memandang laki-laki lain yang bukan mahrom.

Ketiga, mengeraskan suaranya hingga dapat terdengar laki-laki lain. Walaupun wanita itu sholihah karena ia telah menserupakan diri dengan wanita yang berperilaku buruk.

Baca Juga :  √ Memberi Nasehat yang Terbaik Kepada Kelurga

Larangan Menyerupai sesuatu yang tidak baik

(وَلِذَلِكَ  قَالَ الْمُصْطَفَى) صلى الله عليه وسلم (مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ) أيْ فِيْ لَبْسِهِمْ وَبَعْضِ أَفْعَالِهِمْ (فَهُوَ مِنْهُمْ) أيْ مَنْ تَشَبَّهَ بِالصَّالِحِيْنَ يُكْرَمُ كَمَا يُكْرَمُوْنَ، وَمَنْ تَشَبَّهَ بِالْفُسَاقِ لَمْ يُكْرَمْ. وَفِيْ هَذَا الْحَدِيْثِ إِشَارَةٌ إِلَى أَنَّ مَنْ تَشَبَّهَ مِنَ الْجَانِّ بِالْحَيَاتِ الْمُؤْذِيَاتِ وَظَهَرَ لَنَا فَإِنَّهُ يُقْتَلُ، وَأَنَّهُ لَا يَجُوْزُ فِيْ زَمَانِنَا لَبْسُ الْعَمَامَةِ الصَّفْرَاءِ أَوْ الزُّرْقَاءِ إِذَا كَانَ مُسْلِمًا. رَوَاهُ اِبْنُ رُسْلَانَ وَأَبُوْدَاوُدَ عَنْ اِبْنِ عُمَرٍ، وَالطَّبْرَانِيْ عَنْ حُذَيْفَةَ.

Dan karena itu, Rosulullah s.a.w. bersabda: Barang siapa yang menyerupai suatu kaum (dalam pakaian dan perilakunya) Maka ia bagian dari kaum itu.

Yakni barang siapa yang telah menyerupai dengan orang-orasng Sholih maka ian akan dimuliaka sebagaimana orang-orang sholih dimuliakan, dan barang siapa yanmg telah menyerupai dengan orang-orang fasik maka dia tidak akan dimuliakan.

Dalam Hadits ini adalah mengandung isyarat bahwasanya barang siapa yang telah menyerupai dari golongan jin dan ular yang menyakitkan lalu kemudian ia telah nampak jelas pada kita maka tentu itu dibunuh, maka sesungguhnya tidak diperkenankan di zaman kita sekarang ini memakai surban warna kuning dan kelabu jika memang dia itu muslim. HR. Ibnu Ruslan dan Abu Daud dari Ibnu Umar, kemudia Tabrani dati Hudzaifah.

Tingkah laku sebagian Perempuan
Tingkah laku sebagian Perempuan

Perempuan yang punya rasa malu tidak akan ridho mendapat julukan Pelacur

حَاشَا) مَصْدَرٌ مَنْصُوْبٌ بِفِعْلٍ مَخْذُوْفٍ، وَالتَّقْدِيْرُ أُحَاشِي حَاشًا  كَمَا قَالَهُ الشَّيْخُ خَالِدٍ أَيْ أَنْزَهُ تَنْزِيْهًا (أَنْ تَرْضَى امْرَأَةٌ ذَاتُ حَيَاءٍ وَ دِيْنٍ بِهَذَا الاِسْمِ) أَيْ الَّذِيْ هُوَ قَحْبَةٌ (عَلَى نَفْسِهَا، فَيَنْبَغِى) أيْ يَجِبُ (لِمَنْ يَخَافُ اللهَ وَرَسُوْلَهُ وَمَنْ لَهُ مُرُوْءَةٌ) بِفَتْحِ الْمِيْمِ وَضَمِّهَا بِالْهَمْزِ وَتَرْكِهِ مَعَ إِبْدَالِهَا وَاوًا، وَهِيَ آدَابُ نَفْسَانِيَّةٍ تَحْمِلُ مُرَاعَاتَهَا الْإِنْسَانُ عَلَى الْوُقُوْفِ عِنْدَ مَحَاسِنِ الْأَخْلَاقِ وَجَمِيْلِ الْعَادَاتِ (اَنْ يَمْنَعَ أَهْلَهُ) أَيْ زَوْجَتِهِ وَبَنَاتِهِ (مِنَ الْخُرُوْجِ مِنَ الْبُيُوْتِ مُتَبَرِّجَاتٍ) أيْ مُظْهِرَاتِ لِلزِّيْنَةِ وَالْمَحَاسِنِ لِلرِّجَالِ

Kalimat “Hasya” adalah msadar yang dinasbkan oleh fi’il yang dibuang, takdirnya adlah: “A, Hasyia Hasan” artinya: Aku telah menghindarinya betul-betul menghindari, sebagaimana yang dikatakan oleh Syekh Kholid yaitu: akau telah membersihkannya dengan betul-betul bersih.

Baca Juga :  √ Kisah Perempuan Penjual Samin

Seorang wanita yang punya rasa malu dan punya agama ia tidak akan ridho dengan sebutan nama ini, (“Quhbah” artinya dia Lacur ) jika disematkan pada dirinya. Maka seyogyanya kepada laki-laki (suami) yang beriman kepada Allah dan rosulNya  dan baginya mempunyai rasa kemanusiaan mesti harus Mencegah ahlinya (istri dan anak perempuannya) untuk keluar rumah dalam keadaan tabarruj (Menor / berhias yang berlebihan tidak umum)

Kalimat “Muru-ah” mimnya dibaca dhomah atau dibaca fathah dengan memakai hamzah atau meninggalkannya serta menggantikannya pada wawu, iaitu adalah Adab Nafsaniyah yakni adab pribadi yang membawa pada pemeliharaan jiwa manusia untuk menetapi pada baiknya akhlak dan baiknya adat, artinya mempunyai rasa kemanusiaan.

Demikian Uraian kami tentang Tingkah laku sebagian Perempuan – Semoga dapat bermanfaat dan bisa dipelajari secara seksama selanjutnya dapat mengamalaknnya untuk menuju mardhotillah. Namun apabila uraian ini tidak sependapat ata pembaca merasa kurang nyaman, maka abaikan saja uraian ini. Terima kasih atas kunjungannya.

بِاللهِ التَّوْفِيْقُ وَالْهِدَايَةُ و الرِّضَا وَالْعِنَايَةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ