Penyebab Mandi Wajib Dan Penjelasannya (Lengkap Menurut Fiqih)

Penyebab Mandi Wajib Dan Penjelasannya (Lengkap Menurut Fiqih)  – Pada Kesempatan ini Duta Dakwah  Akan Menuliskan Lanjutan Masalah-masalah Penting Seputar Wanita Bagian kesembilan dikutip dari Kitab “HAIDHUN NISAA” Karya M. ASMAWI, ZA. Ini adalah lanjutan dari bagian yang kedelapan ulasan tentang Masalah Haram Sebab Hadats Kecil Dilengkapi Dalilnya.

Penyebab Mandi Wajib Dan Penjelasannya (Lengkap Menurut Fiqih)

Untuk lebih jelasnya sebaiknya silahkan baca Ulasan  Duta Dakwah dibawah ini dengan Seksama.

Penyebab Mandi Wajib

Ada beberapa hal yang menyebabkan wajibnya mendi besar sebagaimana tertulis beikut ini:

 فَصْلٌ)  فِيْ مُوْجِبِ الْغُسْلِ، وَالْغُسْلُ لُغَةً سِيْلَانُ الْمَاءِ عَلَى الشَّيْئِ مُطْلَقًا، وَشَرْعًا سِيْلَانُهُ عَلَى جَمِيْعِ الْبَدَنِ بِنِيَةٍ مَخْصُوْصَةٍ. (وَالَّذِي يُوْجِبُ الْغُسْلَ سِتَةُاَشْيَاءَ) ثَلَاثَةٌ تَشْتَرِكُ فِيْهَاالرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ

P a s a l Menerangkan tentang perkara yang mewajibkan mandi.. Pengertian mandi menurut bahasa ialah mengalirnya air atas sesuatu perkara secara muthlaq. Sedangkan menurut pengertian syara’, mandi ialah mengalirnya air ke seluruh tubuh dengan disertai niat yang sudah ditentukan. Adapun sesuatu yang mewajibkan mandi itu ada 6 (enam) perkara.

Tiga di antaranya ber samaan ada pada beberapa orang laki-laki dan perempuan.

وَهِيَ (اِلْتِقَاءُ الْخِتَانَيْنِ) وَيُعَبَّرُ عَنْ هَذَا الْاِلْتِقَاءِ بِاِيْلَاجٍ حَيٍّ وَاضِحٍ غَيَّبَ خَشَفَةَ الذَّكَرِ مِنْهُ اًوْقَدْرَهَا مِنْ مَقْطُوْعِهَا فِىْ فَرْجٍ وَيَصِيْرُ الْآدَمِيُّ الْمُوْلَجُ فَيْهِ جُنُبًا بِاِيْلَاجٍ مَاذُكِرَ، اَمَّاالْمَيِّتُ فَلَايُعَادُ غَسْلُهُ بِاِيْلَاجٍ فِيْهِ وَاَمَّا الْخُنْثَى الْمُشْكِلُ فَلَاغُسْلَ عَلَيْهِ بِاِ يْلَاجِ خَشَفَتِهِ وَلَا بِاِيْلَاجٍ فِى قُبُلِهِ. (وَ)مِنَ الْمُشْتَرَكِ (اِنْزَالُ) اَيْ خُرُوْجُ (الْمَنِيِّ) مِنْ شَخْصٍ بِغَيْرِ اِيْلَاجٍ وَاِنْ قَلَّ الْمَنِيُّ كَقُطْرَةٍ وَلَوْكَانَتْ عَلَى لَوْنِ الدَّمِ، وَلَوْكَانَ الْخَارِجُ بِجِمَاعٍ اَوْغَيْرِهِ فِى يَقْظَةٍ اَوْنَوْمٍ بِشَهْوَةٍ اَوْغَيْرِهَا مِنْ طِرِيْقِهِ الْمُعْتَادِ اَوْ غَيْرِهِ كَأَنِ انْكَسَرَ صَلْبُهُ فَخَرَجَ مَنِيُّهُ

Pertama: Yaitu bertemunya dua kemaluan, yakni yang dimaksud ialah masuknya hasyafah ke dalam farji orang yang masih hidup secara sempurna, atau kepala penisnya saja dan atau juga hanya sekedar kira-kira, bagi orang yang buntung penisnya. Maka jadilah anak Adam yang memasukkan hasyafahnya ke dalam farji (dan sewaktu-waktu perempuan kemasukkan hasafah) wajib baginya mandi. Mayit yang disebabkan dimasuki farjinya maka tidak perlu mengulangi mandi lagi. Adapun orang banci yang merepotkan, maka tidak wajib mandi sebab memasukkan hasyafahnya dan demikian juga tidak wajib mandi sebab dimasuki qubulnya.

Kedua: Keluar air mani dan seseorang tanpa sebab kemasukan (hasyafah atau farji) meskipun air mani itu hanya sedikit, seperti satu tetesan saja dan meskipun berupa darah. Juga meskipun air mani yang ke luar itu sebab bersanggama atau lainnya, baik dalam keadaan berjaga atau tidur dengan disertai syahwat atau tanpa syahwat, air mani tersebut ke luar dari jalannya yang dibiasakan atau dari jalan lain, seperti jika pecah tulang rusuknya orang itu, maka menyebabkan ke luar air maninya.

Sebagaiman diterangkan dalam Kifayatul-Akyar :

إِذَا عَرَفْتَ هَذَا فَلِلْغُسْلِ أَسْبَابٌ مِنْهَا اِلْتِقَاءُ الْخِتَانَيْنِ وَيُعْبَرُ عَنْهُ أَيْضًا بِالْجِمَاعِ وَهُوَ عِبَارَةٌ عَنْ تَغْيِيْبِ الْحَشَفَةِ أَوْ قَدْرِهَا فِيْ أَيِّ فَرْجٍ كَانَ سَوَاءٌ غَيْبُ فِيْ قُبُلِ امْرَأَةْ أَوْ بَهِيْمَةٍ أَوْ دُبُرِهِمَا أَوْ دُبُرِ رَجُلٍ صَغِيْرٍ أَوْ كَبِيْرٍ حَيٍّ أَوْ مَيِّتٍ، وَيَجِبُ أَيْضًا عَلَى الْمَرْأَةِ بَأَيِّ ذَكَرٍ دَخَلَ فِيْ فَرْجِهَا حَتَى ذَكَرِ الْبَهِيْمَةِ وَالْمَيِّتِ وَالصَّبِيِّ وَعَلى الذَّكَرِ الْمُوْلِجِ فِيْ دُبُرِهِ، وَلَا يَجِبُ إِعَادَةُ غُسْلِ الْمَيِّتِ الْمُوْلَجُ فِيْهِ عَلَى الْأَصَحِّ وَيَصِيْرُ الصَّبِيُّ وَالْمَجْنُوْنُ الْمُوْلَجُ فِيْهِمَا جُنُبَيْنِ بِلَا خِلَافٍ، فَإِنِ اغْتَسَلَ الصَّبِيُّ، وَهُوَ مُمَيِّزٌ صَحَّ غُسْلُهُ، وَلاَ يَجِبُ عَلَيْهِ إِعَادَتُهُ إِذَا بَلَغَ وَعَلَى الْوَلِيِّ أَنْ يَأْمُرَ الصَّبِيَّ الْمُمَيِّزَ بِالْغُسْلِ فِيْ الْحَالِ كَمَا يَأْمُرُهُ بِالْوُضُوْءِ ثُمَّ لَا فَرْقَ فِيْ ذَلِكَ بَيْنَ أَنْ يَنْزُلَ مِنْهُ مَنِيٌّ أَمْ لَا . وَالْأَصْلُ فِيْ ذَلِكَ حَدِيْثٌ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُوْلَ الله ﷺ  قَالَ:”إِذَا الْتَقَى الْخِتَانَانِ أَوْ مَسَّ الْخِتَانُ الْخِتَانَ وَجَبَ الْغُسْلُ فَعَلْتُهُ أَنَا وَرَسُوْلُ الله ﷺ فَاغْتَسَلْنَا”. رواه ابن ماجه. وَالْمُرَادُ بِالْإِلْتِقَاءِ التِّحَاذِيُّ لِأَنَّهُ لَا يَتَصَوَّرُ تَصَادُمُهُمَا لِأَنَّ خِتَانُ الْمَرْأَةِ أَعْلَى مِنْ مَدْخَلِ الذَّكَرِ وَيُقَالُ اِلْتَقَى الْفَارِسَانِ إِذَا تَحَاذَيَا

Jika kamu sudah mengerti apa yang saya terangkan ini, ketahuilah, bahwa sebab-sebab diwajibkaninya mandi ada banyak sekali. Di antaranya: ialah pertemuan dua kelamin. Terkadang pertemuan dua kelamin ini dikatakan jimak, yaitu memasukkan ujung (hasyafah) kelamin laki-laki atau sekadarnya ke dalam farji apapun, sama saja farjinya perempuan maupun farjinya binatang, atau ke dalam dubur keduanya, atau duburnya laki-laki, baik anak kecil maupun orang dewasa, yang sudah mati ataupun yang masih hidup. Mandi diwajibkan juga bagi perempuan, dengan sebab dzakar yang masuk ke dalam farjinya, sekalipun dzakarnya binatang, atau mayit atau anak kecil. Juga diwajibkan bagi laki-laki yang diwathi’ (disetubuhi) duburnya. Mayit yang farjinya dimasuki dzakar, apabila sudah dimandikan tidak wajib diulangi mandinya menurut qaul yang ashah.

Anak kecil atau orang gila yang dijimak, kedua-duanya menjadi junub. Dan tidak ada khilaf Kemudian jika anak kecil itu mandi dan sudah pandai (mumaiyiz), mandinya dianggap sah. Dan tidak wajib mengulangi mandi sesudah baligh. Walinya wajib memerintah anak-anak kecil yang sudah pandai (mumaiyiz) untuk mandi serta merata, sebagaimana dia diwajibkan memerintah anak-anak kecil untuk berwudhuk. Dalam masalah wajib mandi di atas, tidak ada perbedaan antara keluar mani atau tidak.

Yang menjadi dalil wajibnya mandi ialah Hadis ‘Aisyah r.a., bahwa Rasulullah s.a.w. berkata:

“Jika dua kelamin bertemu, atau satu kelamin bertemu dengan kelamin lain, maka wajiblah mandi. Aku (‘Aisyah) dan Rasulullah s.a. w. pernah melakukan hal yang demikian itu, lalu kami berdua mandi.”  Yang dimaksud iltiqa’ ialah berhadapan. Sebab selamanya tidak akan pernah terjadi dua kelamin itu beradu, karena kelamin wanita tentu selalu berada di atas (di dalam) pintu masuknya kelamin laki-laki ketika kelamin laki-laki masuk ke dalam farji. Dan kadang-kadang dikatakan: iltaqal farisani, artinya ketika dua barisan saling berhadapan.

وَمِنْهَا إِنْزَالُ الْمَنِيِّ فَمَتَى خَرَجَ الْمَنِيُّ وَجَبَ الْغُسْلُ سَوَاءٌ خَرَجَ مِنَ الْمَخْرَجِ الْمُعْتَادِ أَوْ مِنْ ثَقَبَةٍ فِي الصُّلْبِ أَوْ الْخَصِيَّةِ عَلَى الْمَذْهَبِ. وَالْأَصْلُ فِيْ ذَلِكَ قَوْلُهُ ﷺ “إِنَّمَا الْمَاءُ مِنَ الْمَاءِ، (رواه مسلم) . وَسَوَاءٌ خَرَجَ فِيْ الْيَقْظَةِ أَوْ النَّوْمِ وَسَوَاءٌ كَانَ بِشَهْوَةٍ أَوْ غِيْرِهَا لِإِطْلَاقِ الْخَبَرِ

Di antara perkara yang mewajibkan mandi ialah menurunkan air mani (keluar mani). Jadi jika air mani keluar, maka wajib mandi. Keluarnya sama saja dari jalan yang biasa maupun dari lubang pada tulang iga (rusuk) atau dari buah pelir, menurut mazhab yang kuat. Yang menjadi dalil diwajibkannya mandi tersebab keluar mani ialah sabda Nabi Muhammad s. a.w. :“Kewajiban mandi itu dari sebab air (mani)”. (Hadits Riwayat Muslim).  Dan sama halnya keluarnya pada saat terjaga maupun ketika sedang tidur, dengan syahwat ataupun tidak, sebab melihat kemutlakan Hadis di atas.

Tiga Macam Ciri Mani

ثُمَّ لِلْمَنِيِّ ثَلَاثُ خَوَاصٍ يَتَمَيَزُ بِهَا عَنِ الْمَذِيِّ وَالْوَدِيِّ، أَحَدُهَا لَهُ رَائِحَةٌ كَرَائِحَةِ الْعَجِيْنِ وَالطَّلْعِ مَا دَامَ رَطَبَ فَإِذَا جَفَّ أَشَبَهَتْ رَائِحَتَهُ رَائِحَةَ الْبِيْضِ، الثَّانِيَةُ التَّدَفُقُ بِدَفَعَاتٍ قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿مِنْ مَّاءٍ دَافِقٍ﴾ . الثَّالِثَةُ التَّلَذُذُ بِخُرُوْجِهِ وَاِسْتِعْقَابِهِ فَتَوَرَ الذَّكَرُ وَانْكِسَارُ الشَّهْـوَةِ وَ لَا يُشْتَرَطُ اِجْتِمَاعُ الْخَوَاصِ بَلْ تَكْفِي وَاحِدَةٌ فِيْ كَوْنِهِ مَنِيًّا بِلَا خِلَافٍ، وَالْمَرْأَةُ كَالرَّجُلِ فِيْ ذَلِكَ عَلَى الرَّاجِحِ فِيْ الرَّوْضَةِ. وَقَالَ فِيْ شَرْحِ مُسْلِمٍ: لَا يُشْتَرَطُ التَّدَفُقُ فِيْ حَقِّهَا وَتَبَعَ فِيْهِ ابْنُ الصَّلَاحِ

Kemudian mani itu mempunyai tanda-tanda tiga macam, yang dapat membedakan antara mani, madzi dan wadi. Yaitu:

  1. Mani mempunyai bau seperti baunya adonan roti atau mayang korma yang masih basah. Jika sudah kering baunya seperti bau telur.
  2. Keluarnya memancar dengan agak tersendat. Allah Ta’ala berfirmn: “Dan air yang memancar.” (Ath-Thariq:6)
  3. Terasa enak sewaktu keluar dan sesudahnya, serta menimbulkan kendurnya dzakar dari syahwat menjadi lemah. Tidak disyaratkan adanya ketiga-tiga tanda itu. Akan tetapi bila ada salah satu di antara ketiga tanda itu, cukuplah untuk menetapkan bahwa yang keluar itu adalah mani, tanpa ada Perempuan sama dengan laki-laki dalam hal tanda-tanda tersebut, menurut qaul yang rajih di dalam kitab Ar-Raudhah. Di dalam Syarah Muslim Imam Nawawi berkata: Tidak disyaratkan harus memancar bagi perempuan. Ibnus Shalah, dalam masalah ini mengikuti Imam Nawawi.

Permasalahan

فَرْعٌ )  لَوْ تَنَبَهَ مِنْ نَّوْمِهِ فَلَمْ يَجِدْ إِلَّا الثَّخَانَةَ وَالْبَيَاضَ فَلَا غُسْلَ لِأَنَّ الْوَدِي شَارِكُ الْمَنِي فِيْ الثَّخَانَةِ وَالْبَيَاضِ بَلْ يَتَخَيَرُ بَيْنَ جَعْلِهِ وَدِيًا أَوْ مَنِيًّا عَلَى الْمَذْهَبِ وَلَوْ اِغْتَسَلَ ثُمَّ خَرَجَتْ مِنْهُ بَقِيَةً وَجَبَ الْغُسْلُ ثَانِيًّا بِلَا خِلَافٍ سَوَاءٌ خَرَجَتْ قَبْلَ الْبَوْلِ أَوْ بَعْدَهُ، وَلَوْ رَأَى الْمَنِيَّ فِيْ ثَوْبِهِ أَوْ فِيْ فِرَاشٍ لَا يَنَامُ فِيْهِ غَيْرُهُ وَلَمْ يَذْكُرْ اِحْتِلَامًا لَزِمَهُ الْغُسْلُ عَلَى الصَّحِيْحِ الْمَنْصُوْصِ الَّذِيْ قَطَعَ بِهِ الْجُمْهُوْرُ. وَقَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: لِهَذَا إِذَا كَانَ الْمَنِيُّ فِيْ بَاطِنِ الثَّوْبِ فَإِنْ كَانَ فِيْ ظَاهِرِهِ فَلَا غُسْلَ عَلَيْهِ لِإِحْتِمَالِ إِصَابَتِهِ مِنْ غَيْرِهِ، وَلَوْ أَحَسَّ بِاِنْتِقَالِ الْمَنِيِّ وَنُزُوْلِهِ فَأَمْسَكَ ذَكَرَهُ فَلَمْ يَخْرُجْ مِنْهُ شَيْءٌ فِيْ الْحَالِ وَلَا عُلِمَ خُرُوْجُهُ بَعْدَهُ فَلَا غُسْلَ عَلَيْهِ وَاللهُ أعْلَمُ

Cabang Permasalahan.

Andaikata orang itu bangun dari tidurnya, lalu menemukan cairan putih, kental, dia tidak wajib mandi. Sebab wadi itu sama dengan mani dalam hal kentalnya dan putihnya. Akan tetapi dia boleh memilih antara menganggap cairan itu wadi, lalu mencucinya, atau menganggapnya mani lalu mandi, menurut mazhab yang kuat. Andaikata orang itu mandi janabah, lalu ia mengeluarkan sisa air maninya, wajib mengulangi mandinya, tanpa ada khilaf. Baik keluarnya sebelum kencing maupun sesudahnya. Andaikata orang itu melihat mani pada sarungnya atau di tempat tidur yang tidak ada orang lain yang menidurinya kecuali dirinya, dan dia tidak ingat adanya mimpi keluar mani, maka wajib mandi menurut qaul shahih yang sudah dinash, yang dipastikan oleh sebagian banyak dari para Ulama.

Al-Mawardi berkata: Demikian itu apabila maninya ada di bagian dalam sarung. Apabila ada di bagian luarnya, maka tidak wajib mandi. Sebab boleh jadi mani itu dari mani orang lain. Andaikata orang itu terasa akan kelur mani, lalu ia menahan dzakarnya supaya maninya tidak keluar seketika itu, dan ia tidak melihat keluarnya mani itu, maka tidak wajib mandi. Wallahu-a’lam.

وَ) مِنَ الْمُشُتَرَكِ (الْمَوْتُ) اِلَّافِى الشَّهِيْدِ (وَثَلَاثَةٌتُخْتَصُ بِهَا النِّسَاءُ وَهِيَ الْحَيْضُ) اَيْ دَمُ الْخَارِجُ مِنْ إِمْرَأَةٍ بَلَغَتْ تِسْعَ سِنِيْنَ. (وَالنِّفَاسُ) وَهُوَ الدَّمُ الْخَارِجُ عَقِبَ الْوِلَادَةِ فَاِنَّهُ مُوْجِبُ لِلْغُسْلِ قَطْعًا. (وَالْوِلَادَةُ) الْمَصْحُوْبَةُ بِالْبَلَلِ مُوْجِبَةٌ لِلْغُسْلِ قَطْعًا وَالْمُجَرَدَةُ عَنِ الْبَلَلِ مُوْجِبَةٌ لِلْغُسْلِ فِى الْاَصَحِ

Ketiga: Setengah dari perkara yang sama-sama ada (laki-laki dan perempuan) yang mewajibkan mandi yaitu mati, kecuali mati syahid. Sedangkan 3 perkara lagi adalah khusus ada pada orang perempuan yaitu :

Pertama: Keluar darah Haidh, yakni darah yang keluar dan seorang perempuan yang telah sampai umur 9 tahun.

Kedua: Keluar darah Nifas, yakni darah yang keluar dari orang perempuan mengiringi keluarnya anak, maka keluarnya darah Nifas itu menyebabkan wajib mandi secara pasti.

Ketiga: Ketika melahirkan (beranak) yang dibarengi dengan adanya basah-basah, maka pasti wajib mandi. Adapun beranak yang tidak dibarengi adanya basah-basah yang keluar, maka tetap wajib mandi. Demikian menurut pendapat yang lebih shaheh.

 

Dalam Kifayatul-Akyar tertulis :

وَمِنْهَا الْمَوْتُ. وَهُوَ يُوْجَبُ الغُسْلُ، لِمَا رُوِيَ عَنْ اِبْنَ عَبَّاسْ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَ رَسُوْلَ اللهِ ﷺ، قَالَ : فِيْ الْمُحْرِمِ الَّذِيْ وَقَصَتْهُ نَاقَتُهُ: اِغْسِلُوْا بِمَاءٍ وَسِدْرٍ. (رواه البخاري) وَظَاهِرُهُ وَالْوُجُوْبُ وَالْوَقَصُ كَسْرُ الْعُنُقِ

Di antara perkara yang mewajibkan mandi ialah mati. Mati itu menyebabkan wajib mandi. Sebab Hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a., bahwa Rasulullah s.a.w. berkata mengenai seorang yang sedang ihram mati karena tersepak oleh untanya: “Mandikanlah orang ini dengan air dan daun salam. (daun bidara)(Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)

Menurut lahirnya Hadits, memandikan orang mati itu hukumnya wajib.

[Yang tiga perkara, di antara hal-hal yang mewajibkan mandi, itu khusus untuk perempuan. Yaitu haidh, nifas dan bersalin].

Di antara sebab-sebab yang mewajib-kan mandi ialah haidh. Allah Ta’ala berfirman:

﴾وَلاَ تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىَ يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللّهُ : البقرة : 222﴿ 

janganlah kamu mendekati perempuanperempun yang sedang haidh, hingga mereka suci. Apabila sudah suci, bolehlah kamu mendatangi mereka menurut apa-apa yang telah diperintahkan oleh Allah kepadamu.” (Al-Baqarah: 222)

Di dalam ayat tersebut, Allah melarang kepada kita mendekati wanita-wanita yang dalam keadaan haidh hingga batas-batas waktu yang ditentukan, yaitu apabila mereka telah suci.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah r.a., bahwa Rasulullah s.a.w. telah bersabda:

(فَإِذَا أَقْبَلَتِ الْحَيْضَةُ فَدَعِّي الصَّلَاةَ فَإِذَا ذَهَبَ قَدْرُهَا فَاغْسِلِي عَنْكِ الدَّمَ (رواه البخاري ومسلم

“Maka jika telah datang darah haidh, maka tinggalkanlah shalat. Dan jika telah hilang hitungan haidh, bersihkanlah darah itu dari badanmu dan shalatlah.” (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)

وَالنِّفَاسِ كَالْحَيْضِ فِيْ ذَلِكَ، وَفِيْ مُعْظِمِ الْأَحْكَامِ، وَمِنَ الْأَسْبَابِ الْمُوْجِبَةِ لِلْغُسْلِ الْوِلَادَةُ وَلَهُ عِلَتَانِ إِحْدَاهُمَا أَنَّ الْوَلَادَةَ مُظِنَّةٌ خُرُوْجُ الدَّمِ وَالْحُكْمُ يَتَعَلَّقُ بِالْمُظَانِ أَلَا تَرَى أَنَّ النَّوْمَ يَنْقُضُ الْوُضُوْءَ لِأَنَّهُ مُظِنَّةٌ الْحَدِثْ، وَالْعِلَةُ الثَّانِيَةُ وَهِيَ الَّتِيْ قَالَهَا الْجُمْهُوْرُ أَنَّ الْوَلَدَ مَنِيٌّ مُنْعَقِدٌ، وَتَظْهُرُ فَائِدَةُ الْخِلَافِ فِيْمَا إِذَا وَلَدَتْ وَلَدًا وَلَمْ تَرَ بِلَلًا، فَعَلَى الْأَوَّلِ لَا يَجِبُ الْغُسْلُ وَعَلَى الْعِلَةِ الثَّانِيَّةِ وَهُوَ أَنَّهُ مَنِيٌّ مُنْعَقِدٌ، يَجِبُ الْغُسْلُ وَهُوَ الرَّاجِحُ، وَكَذَا يَجِبُ الْغُسْلُ بِوَضْعِ الْعَلَقَةِ وَالْمُضْغَةِ عَلَى الرَّاجِحِ، وَمِنْهُمْ مَنْ قَطَعَ بِالْوُجُوْبِ بِوَضْعِ الْمُضْغَةِ واللهُ أَعْلَمُ.

Dan Nifas sama dengan haidh dalam hal mewajibkan mandi, dalam pada kebanyakan hukum-hukumnya. Di antara perkara yang mewajibkan mandi lagi ialah wiladah (melahirkan anak). Kewajiban mandi bagi perempuan yang melahirkan ini terdapat dua illat.

Pertama: Wiladah. itu tempat diduga keluarnya darah. Sedangkan hukum itu boleh berhubungan dengan hal yang diduga. Buktinya, tidur boleh membatalkan wudhu, karena tidur itu tempat yang diduga adanya hadas. Kedua: Yaitu yang dikatakan oleh Jumhur ‘Ulama, bahwa anak itu adalah mani yang telah bergumpal.  Khilaf dalam masalah ini akan tampak faedahnya apabila seorang wanita yang melahirkan bayi tidak melihat adanya basah-basah.

Menurut qaul yang pertama, dia tidak wajib mandi. Menurut illat yang kedua, yaitu yang mengatakan bahwa anak itu adalah mani yang bergumpal, wanita itu wajib mandi. Qaul yang kedua ini yang rajih. Juga diwajibkan mandi sebab pengguguran/keguguran (mengeluarkan) gumpalan darah atau gumpalan daging menurut qaul yang rajih. Sebagian Ulama ada yang menetapkan wajib mandi dengan pasti, (artinya tidak ada khilaf), sebabmengeluarkan gumpalan daging. Wallahu-a’lam.

Demikian ulasan : Penyebab Mandi Wajib Dan Penjelasannya (Lengkap Menurut Fiqih) (Kutipan dari Haidhun Nisaa) Ulasan ini masih bersambung pada: Fardhu-fardhunya mandi besar  (Menurut Fiqih)Semoga dapat memberikan manfaat untuk kita semua.Terimakasih