Dam Pelanggaran Ihrom Hubungan pribadi Suami Istri 7 

Dam Pelanggaran Ihrom Hubungan pribadi Suami Istri 7 – Pada kesempatan kali ini Duta Dakwah. akan menuliskan tentang Pengertian Dam Fidyah Bayar Fidyah Wathi di luar farji Versi Empat Madzhab  secara Ringkas. Dalam Risalah ini kami hanya membahas tetntang fidyah wathi di luar farji. Adapun Dam yang lainnya akan kami tuliskan pada Risalah selanjutnya.

Dam Pelanggaran Ihrom Hubungan pribadi Suami Istri 7

Untuk lebih jelasnya mengenai Pelanggaran Ihrom Hubungan pribadi Suami Istri, mari kita ikuti uraian berikut ini:

Mukodimah

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ

Segala Puji bagi Allah SWT, Shalawat dan salamnya semoga tetap tercurah ke haribaan Nabi Agung Muhammad saw, keluarga dan shahabatnya semua, Amiin…

Pelanggaran-plelanggaran Ihrom

Larangan-larangan Ihrom itu diterangkan sebagai berikut:

مَحْظُوْرَاتُ الْإِحْرَامِ

مَحْظُوْرَاتُ الْإِحْرَامِ نَوْعَانِ : نَوْعٌ يُوْجِبُ فَسَادَ الْحَجِّ » وَنَوْعٌ لَا يُوْجِبُ فَسَادَهُ

Larangan-larangn ihrom itu ada dua macam, yaitu:

  1. Pelanggaran yang memastikan rusaknya ibadah haji (yakni hajinya batal, ia wajib mengulangi ibadah hajinya di tahun berikutnya).
  2. Pelanggaran yang tidak memastikan rusaknya ibadah haji (yakni hajinya tidak batal)

Pelanggaran yang Membatalkan haji

النَّوْعُ الْأَوَّلُ

الَّذِيْ يُوْجِبُ فَسَادَ الْحَجِّ : هُوَ الْجِمَاعُ . قَالَ اِبْنُ الْمُنْذِرِ : أَجْمَعَ أَهْلُ الْعِلْمِ عَلَى أَن الْحَجَّ لَا يُفْسِدُ بِإِتْيَانِ شَيْءٍ حَالَ الْإِحْرَامِ » إِلَّا الْجِمَاعُ

Pelanggaran yang Pertama ini adalah Pelanggaran yang memastikan rusaknya ibadah haji, (yakni hajinya batal) pelanggaran ini adalah “Hubungan suami istri” Berkata Ibnu Mundzir: Ahli ‘ilmu telah berijmak: bahwasanya ibadah haji itu tidak batal dengan disebabkan melakukan sesuatu pada waktu ihrom, kecuali “bersetubuh” Kutipan dari Fiqhul-haji wal ‘umroh fi mahzdurotil-hrom.

Hubungan Pribadi Dapat Membatalkan Haji Dengan Dua Syarat

وَالْجِمَاعُ يُفْسِدُ الْحَجَّ بِشَرْطَيْنِ اثْنَيْنِ

١ – أَنْ يَكُوْنَ الْجِمَاعُ فِي الْفَرْجِ . فَهَذَا مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ عِنْدَ جُمْهُوْرِ أَهْلِ الْعِلْمِ,» وَمِنْهُمْ الْأَئِمَةُ الْاَرْبَعَةُ. وَعِنْدَ الشَّافِعِيْ وَأَحْمَدَ : لَا فَرْقَ بَيْنَ الْوَطْءِ فِي قُبُلِ الْمَرْأَةِ» أَوْ دُبُرِهَا، أَوْ دُبُرِ الرَّجُلِ » أَوِ الْبَهِيْمَةِ

وَعِنْدَ أَبِيْ حَنِيْفَةَ وَمَالِكٍ » أَنَّ وَطْءَ الْبَهِيْمَةِ لَا يُفْسِدُ الْحَجَّ، لِأَنَّهُ لَا يُوْجِبُ الْحَدّ، فَأَشْبَهَ الْوَطْءَ دُوْنَ الْفَرْجِ

وَعَنْ أَبِيْ حَنِيْفَةَ فِي الْوَطْءِ فِي الدُّبُرِ وَاللِّوَاطِ رِوَايَتَانِ : رِوَايَةٌ : يُفْسِدُ. لِاَنَّهُ مِثْلُ الْوَطْءِ فِيْ الْقُبُلِ فِي قَضَاءِ الشَّهْوَةِ»  وَيُوْجِبُ الْاِغْتِسَالَ مِنْ غَيْرِ إِنْزَالٍ، وَرِوَايَةٌ : لَا يُفْسِدُ. وَقَالَ دَاوُدُ : لَا يُفْسِدُ الْبِهِيْمَةُ وَلَا اللِّوَاطُ

Bersetubuh itu dapat membatalkan haji dengan dua syarat, Pertama: Melakukan persetubhuannya itu melalui farji. Ketentuan ini disepakati oleh jumhur ahli ilmu. Di antaranya yang telah bersepakat adalah beliau para Imam yang empat. Dan menurut Imam As-Syafi’i, dan Imam Ahmad: “Tidak ada perbedaan hukum antara Wathi melalui qubul perempuan maupun duburnya, dubur laki-laki ataupun binatang”

Menurut Abu Hanifah dan Iamam Malik

Menurut Abu Hanifah dan Iamam Malik: Bahwasanya Mensetubuhi Binatang itu tidak mebatalkan haji, sebab mensetubuhi binatang itu tidak mengharuskan Had” (yakni tidak kena hukum ranjam), maka hal itu menyerupai wathi di luar farji (maksudnya menurut pendapat Abu hanifah dan Imam Malik yang dapat membatalkah haji hanya persetubuhan yang melalui kelamin saja, kalau yang melalui dubur dan yang lainnya itu tidak membatalkan haji)

Dan dari Abu Hanifah tentang wathi di dubur dan homo itu terdapa dua riwayat: Pertama: ia dapat membatalkan haji, sebab hal itu sama dengan bersetubuh pada kelamin untuk memenuhi syahwat, dan dapat mewajibkan mandi besar tanpa keluar sperma.

Pelanggaran yang tidak sampai Membatalkan Haji

Kedua: Tidak membatalkan haji, Berkata Daud: Mensetubuhi Binatang dan homo itu tidak membatalkan haji.

2 – أَنْ يَكُوْنَ الْجِمَاعُ قَبْلَ التَّحَلُّلِ الْأَوَّلِ » سَوَاءٌ قَبْلَ الْوُقُوْفِ أَوْ بَعْدَهُ. وَبِذَلِكَ قَالَ جُمْهُوْرُ أَهْلِ الْعِلْمِ

وَعِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ فِيْهِ تَفْصِيْلٌ : إِنْ كَانَ الْجِمَاعُ قَبْلَ الْوُقُوْفِ بِعَرَفَةَ فَسَدَ حَجُّهُ » وَعَلَيْهِ شَاةٌ, وَإِنْ كَانَ بَعْدَ الْوُقُوْفِ بِعَرَفَةَ لَمْ يَفْسُدْ حَجُّهٌ، وَعَلَيْهِ بَدَنَةٌ

وَدَلِيْلُهُمْ فِيْ ذَلِكَ : أَنَّ الرُّكْنَ الْأَصْلِيِّ لِلْحَجِّ هُوَ الْوُقُوْفُ بِعَرَفَةَ. لِقَوْلِ النَّبِيِّ ﷺ،  الْحَجُّ عَرَفَةٌ » أَيْ : الْوُقُوْفُ بِعَرْفَةَ» فَمَنْ وَقَفَ بِعَرَفَةَ فَقَدْ تَمَّ حَجُّهُ. لِأَنَّ الْوُقُوْفَ رُكْنٌ مُسْتَقِلٌ بِنَفْسِهِ» وُجُوْدًا وَصِحَةً،  وَلَا يُتَوَقَفُ وُجُوْدُهُ وَصَحَتُهُ عَلَى الرُّكْنِ الْآخَرِ .

قُلْتُ : وَيَشْهَدُ هُمْ قَوْلُهُ ﷺ كَمَا فِيْ حَدِيْثِ عُرْوَةَ بنِ مُضَرِّسٍ الطَّائِيِّ : مَنْ شَهِدَ صَلاتَنَا هَذِهِ ـ (يَعْنِي بِالْمُزْدَلِفَةِ)ـ فَوقَفَ مَعَنَا حَتَّى نَدْفَعَ، وَقَدْ وَقَفَ بِعَرَفَةَ قَبْلَ ذَلِكَ لَيْلاً أَوْ نَهَاراً، فَقَدْ تَمَّ حَجَّهُ وَقَضَى تَفَثَهُ . رواه أبو داود , والنسائي » واين ماجه . والترمذي . وقال : حسن صحيح

 “Aku berkata:  Dan Menjadi kesaksian kepada mereka Sabda Nabi SAW, Sebagaimana Hadits ‘Urwah bin Mudhorris at-Thi-iy: “Barangsiapa yang menghadiri shalāt kami ini (maksudnya shalāt subuh) di Muzdalifah bersama kami sampai kami meninggalkan Muzdalifah dan sebelumnya dia sudah wuquf di Arafāh malam atau siang maka telah sempurna hajinya dan dia telah menunaikan hajatnya.” (HR. Abu daud, Nasa-i, Ibnu Majah dan Al-Turmudzi, belai mengatakan hadits ini hasan) Kutipan dari Kita Mughni Fqhul-haj wal-umroh, DR. Mushthofa Dib Al-Bugho.

وَنَقَلَ اِبْنُ حَزْمٍ فِيْ الْمُحَلَّى» عَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ. قَوْلُهُ : لَا يَبْطُلُ الْحَجُّ بِالْوَطْءِ بَعْدَ عَرَفَةَ . وَأَيْضًا رُوِيَ عَنْ مَالِكٍ مِثْلُ هَذَا،  وَعِنْدَ الْجُمْهُوْرِ. كَمَا أَسْلَفْنَا : لَيْسَ هَذَا بِشَرْطٍ، فَالْجِمَاعُ يُفْسِدُ الْحَجَّ سَوَاءٌ قَبْلَ الْوُقُوْفِ. أَوْ بَعْدَهُ. وَهُوَ مُفْسِدٌ لِلْحَجِّ. لِكَوْنِهِ مُفْسِداً لِلْإِحْرَامِ. وَالْإِحْرَامُ بَعْدَ الْوُقُوْفِ بَاقٍ. لِبَقَاءِ رُكْنِ الْحَجِّ. وَهُوَ طَوَافُ الْإِفَاضَةِ. وَلَا يُتَصَوَّرُ بَقَاءُ الرُّكْنِ بِدُوْنِ إِحْرَامٍ ؛ فَصَارَ الْحَالُ بَعْدَ الْوُقُوْفِ. كَالْحَالِ قَبْلَهَا» وَأَنَّ قَوْلَ النَّبِىِّي  ﷺ : إِنَّ مَنْ وَقَفَ بِعَرَفَةَ فَقَدْ تَمَّ حَجُّهُ، مِثْلُ قَوْلِهِ : مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الصَّلَاةِ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلَاةَ » أَيْ : أَدْرَكَ فَضْلَ الصَّلَاةِ » وَلَمْ تَفُتْهُ » وَيَدُلُّ عَلَيْهِ أَنَّ مَنِ اكْتَفَى بِالْوُقُوْفِ بِعَرَفَةَ» وَلَمْ يَطُفْ لِلْإِفَاضَةِ » لَمْ يَتِمَّ حَجُّهُ بِالْاِتِفَاقِ

Ibnu Hazm telah mengalihkan dalam al-Muhalla mengutip dari Ibnu Abbas RA. Adapun perkataan: “Haji tidak batal sebab bersettubuh setelah wukuf di Aroafah”. Sama seperti ini juga yang diriwayatkan dari Imam malik, dan menurut Jumhur sbagaimana yang telah kami sampaikan: Ini bukan suatu kondisi. Maka Jimak itu tetap membtalkan haji baik berjimaknya sebelum wuquf atau pun sesudah wuquf, Jimak adalah membatalkan haji, sebab karena adanya jimak itu dapat merusakan ihrom,Sedangkan Ihrom setelah wuquf itu masih tetap ihrom karena masih adanya rukun haji yaitu Towaf Iafdhoh tidak dapat berlansung sisanya rukun dengan tanpa ihrom. Maka terjadinya hal ini sesudah wuquf itu sam seperti terjadi sebelumnya, Dan bahwasanya sabda Nabi SAW. “Bahwa siapa orang yang telah berwuquf di Arofah maka sungguh telah sempurna hajinya” itu sama dengan sabda beliau: “Siapa yang mendapatkan satu raka’at, maka ia mendapatkan sholat jama’ah”. Maksudnya mendapatkan keutamaan sholat, dan baginya tidak telambat, dan manjadi dalil atasnya bahwa: Barang siapa yang sudah merasa cukup dengan wuquf di Arofah, padahal dia tidak melaksanakan Towaf Ifadhoh, maka hajiny tidak sempurna menurut kesapakatan para ulama.

Dam Pelanggaran Ihrom Hubungan Intim Suami Istri
Dam Pelanggaran Ihrom Hubungan pribadi Suami Istri

Kesimpulan:

Dalam kesimpulan ini kami hanya mengambil dari madzhab Syafi’i, secara ringkas:

  1. Hubungan suami istri melalui kelamin bagi Jama’ah haji yang masih dalam keadan ihrom, Sepakat semua imam madzhab, bahwa perbuatan tersebut mebatalkan Ibadah hajinya.
  2. Mdzhab Syafi’i dan Hambali sepakat bahwa bersetubuh dalam keadaan masih ihrom itu membatalkan ibadah haji, sama saja persetubuhan tersebut melalui qubul, dubur ataupun dilakukan dengan binatang.
  3. Selain Batal hajinya, juga pelaku, masing-masing suami istri harus bayar dam memotong satu ekor unta, jika tidak ada atau tidak menadapatkan unta maka ia menggantinya dengan seekor sapi atau tujuh ekor kambing bila tidak mampu menyembelih hewan, bisa diganti dengan memberi makan fakir miskin senilai harga satu ekor unta, jika masih tidak mampu, diganti dengan puasa sebanyak hitungan 1 mud setiap hari.
  4. Jumlah puasa yang harus dijalankan disesuaikan dengan harga makanan yang senilai dengan satu ekor unta. Dam ini harus dikerjakan sejak pelanggaran dilakukan
  5. Hajinya masih harus mengulang di tahun berikutnya. Wallahu ‘alam

Demikian ulasan tentang : Dam Pelanggaran Ihrom Hubungan pribadi Suami Istri 7 Mohon ma’af keterangan ini kami hanya mengutip sebagiannya saja,   Kami Duta Dakwah Mengucapkan Terimakasih atas Kunjungannya. Jazakumullahu Khoiran Katsiro.

بِاللهِ التَّوْفِيْقُ وَالْهِدَايَةُ و الرِّضَا وَالْعِنَايَةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ