√ Kultum Ramadhan Tentang Keutamaan Bersahur Dan Mengakhirkannya

Kultum Ramadhan Tentang Keutamaan Bersahur Dan Mengakhirkannya – Pada Materi Kultum Sebelumnya kami sudah menerangkan: Kultum Ramadhan Dermawan dan melakukan kebaikan dan berikut ini Duta Dakwah akan menyampaikan: Kultum Ramadhan Tentang Keutamaan Bersahur Dan Mengakhirkannya. In Syaa Allah kami sampaikan secara singkat.

Kultum Ramadhan Tentang Keutamaan Bersahur Dan Mengakhirkannya

Untuk lebih jelasnya silahkan baca Kultum Duta Dakwah dibawah ini dengan baik.

Materi Kultum.

بسم الله الرّحمن الرّحيم السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ

الـحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَـمِيْنَ ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ وَالـمُرْسَلِيْنَ ، نَبِيِّنَا وَحَبِيْبِنَا مُـحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْـمَعِيْنَ ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ ، أَمَّا بَعْدُ

Hadhirin wal-Hadhirat sidang jama’ah yang dirahmati Allah SWT, Puji dan Syukur senantiasa kita panjatkan ke hadhirat Allah SWT, shalawatullah wa salamuhu semoga senantiasa tercurahkan ke haribaan nabi agung Muhammad s.a.w.

Ma’asyirol Muslimin Rahimakumullah melalui kesempatan ini kami akan sampai Materi kita adalah tentang Keutamaan Bersahur Dan Mengakhirkannya.

Keutamaan Bersahur

Makan sahur adalah disunahkan dan di dalam makan sahur itu ada keberkahan, dan seseungguhnya makan sahur itu dianjur sebagaimana diterangakan:

عَنْ أَنَسِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ، قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم، تَسَحَّرُوْا فَإِنَّ فِيْ السَّحُوْرِ بَرَكَةٌ، مُتَّفّقٌ عَلَيهِ

Dari Anas r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Bersahurlah engkau semua, kerana sesungguhnya di dalam sahur itu ada keberkahannya.” (Muttafaq ‘alaih)
Selain dari itu, kita disunahkan bersahur pada waktu sudah hampir brakhir yakni sudah hampir Imsak, artinya makan sahur itu sunahnya diakhirkan selama tidak takut menyingsingnya fajar.

Baca Juga :  √ Kultum Ramadhan Tentang Yang Berpuasa Supaya Menjaga Lisan

Mengakhirkan sahur

وَعَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : تَسَحَّرْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قُمْنَا إِلَى الصَّلَاةِ، قِيْلَ: كَمْ كَانَ بَيْنَهُمَا؟ قَالَ: قَدْرُ خَمْسُوْنَ آيَةً. مُتَّفّقٌ عَلَيهِ

Dari Zaid bin Tsabit r.a., katanya: “Kita bersahur bersama Rasulullah s.a.w. kemudian kita berdiri untuk melakukan shalat -yakni shalat Subuh.” Kepadanya ditanyakan: “Berapa jarak waktu antara keduanya itu?” Yakni antara selesainya sahur dengan berdirinya untuk shalat Subuh. ia menjawab: “Sekira cukup membaca lima puluh ayat.” (Muttafaq ‘alaih)

Kemudian Sabdanya lagi:

عَنْ اِبْنِ عُمَرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنهُمَا قَالَ كَانَ لِرَسُوْلِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُؤَذِنَانِ : بِلَالٌ وَابْنُ أُمِّ مَكْتُوْمٍ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ بِلَالاً يُؤَذِنُ بِلَيْلٍ فَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا حَتَّى يُؤَذِنَ اِبْنُ أُمِّ مَكْتُوْمٍ، قَالَ : وَلَمْ يَكُنْ بَيْنَهُمَا إِلَّا أَنْ يَنْزِلَ هَذَا وَيَرْقَى هَذَا. مُتَّفّقٌ عَلَيهِ

Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Rasulullah s.a.w. itu mempunyai dua orang juru adzan, iaitu Bilal dan Ibnu Ummi Maktum. Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya Bilal itu beradzan di waktu masih malam – yakni sebelum menyingsingnya fajar shidik, maka makanlah dan minumlah engkau semua – untuk bersahur – sehingga Ibnu Ummi Maktum beradzan – sebagai tanda masuknya waktu Subuh.” Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma berkata: “Tidak ada jaraknya antara kedua orang juru adzan itu, melainkan kalau yang ini turun -yakni Bilal – lalu yang ini – yakni Ibnu Ummi Maktum – naik.” Maksudnya jarak waktu antara keduanya itu tidak terlalu lama. (Muttafaq ‘alaih)

Makan sahur itu sunah, akan tetapi hal itu sangat penting dikerjakan sekalipun makan sahur itu sunah hukmnya kacuali memang karena ada faktor lain yang menyebabkannya tidak bisa sahur, sebab selain dari ada keberkahan di dalamnya, juga menambah keutamaan ibadah puasanya, juga ada yang tidak kalah pentingnya untuk menjadi perhatian adalah bahwa makan sahur itu merupakan pembeda antara puasanya Ahlul-Kitab yakni Yahudi dan Nasrani dan puasa kita ummat islam yang beriman. Sebagaimana Rasulullah s.a.w. bersabda:

Baca Juga :  √ 30 Materi Kultum Ramadhan Terbaru 2019 M / 1440 H

عَنْ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضيَ اللَّهُ عَنهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَالَ : فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحُرِ. رَوَاهُ مُسلِمٌ.

Dari ‘Amr bin al-‘Ash r.a. bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Pemisahan – yakni perbedaan – antara puasa kita dengan puasanya kaum ahlulkitab -yakni kaum Yahudi dan Nasrani – itu ialah adanya makan sahur.” (Riwayat Muslim)

Kaum Muslimin yang berbahaguia Rahimakumullah. Agar lebih mendapatkan keutamaan sunahnya bersahur sebaiknya niat sunah sahur itu dilafalkan.

Niat makan sahur:

بسم الله الرّحمن الرّحيم : نَوَيْتُ بِأَكْلٍ سُنَّةً سُنَّةَ السَّحُوْرِ
Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Saya niat makan karena sunah yakni untuk mendapatkan sunahnya sahur.

Ma’asyirol Muslimin yang berbahagia. Demikian yang dapat kami sampaikan, terimakasih atas segala perhatian dan mohon ma’af atas segala kekurangan.

بِاللهِ التَّوْفِيْقُ وَالْهِدَايَةُ وَالْعَفْوُ مِنْكُمْ وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ

Demikian ulasan : Kultum Ramadhan Tentang Keutamaan Bersahur Dan Mengakhirkannya Semoga dapat memberikan manfaat untuk kita semua. Kultum ini masih bersambung ke Kultum berikutnnya masih tentang Keistimewaan Puasa silahkan buka di 30 materi Kultum Ramadhan.Terimakasih.

√ Kultum Ramadhan Tentang Keutamaan Bersahur Dan Mengakhirkannya
5 (100%) 13 vote[s]