Niat Sholat Jum’at : Syarat Wajib, Syarat Sah dan Fardhunya

Niat Sholat Jum’at : Syarat Wajib, Syarat Sah dan Fardhunya   –  Pada Kesempatan kali ini Dutadakwah akan menguraikan tentang Niat Sholat Jum’at, Syarat waji dan Syarat Sahnya.

Tidak sah sholat jum’at apabila syarat sahnya jum’at tidak terpenuhi, demikian juga tidak setiap muslim wajib melaksanakan jum’at jika tidak masuk pada syarat wajibnya jum’at mohon ma’af dalam uraian ini kami dutadakawah tidak menerangkan menurut pandangan dari beberapa madzhab.

Mudah-mudahan pembahasan ini dapat membantu pencerahan pada  Ikhwanul Muslimin yang hendak menunaikan sholat jum’at khususnya yang sefaham dengan uraian ini.

Niat Sholat Jum’at : Syarat Wajib, Syarat Sah dan Fardhunya

Ulasan Materi ini akan kami bahas secara ringkas dan hanya menurut madzhab Syafi’i bukan menurut pandangan beberapa madzhab, karena sudah barang tentu jika kita uraikan secara luas menurut empat madzhab jelas ada perbedaan, olehkarena itu mohon dimaklumi saja apabila uraian ini kurang membantu, in syaa Allah di lain waktu kami akan sampaikan juga menurut empat madzhab.

Mukodimah

بسم الله الرّحمن الرّحيم  السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ

الـحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَـمِيْنَ ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَىَ أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ ؛ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ وَالـمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى آلِهِ الطًّاهِرِيْنَ الطَّيِّبِيْنَ وَجَمِيْعِ أَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَ بَعْدُ

Ikhwaniy Kaum  Muslimin Rahimakumullah, mudah-mudahan kita semua selalu berada dalam Lindungan, Hidayah serta ‘Inayah Allah SWT, Amiin.

Setiap Muslim yang sudah ‘aqil baligh sudah barang tentu mempunyai kewajiban, kewajiban tersebut adalah merupakan kasih sayang Allah kepada Hamba-Nya.  Dengan suatu pekerjaan yang telah Allah perintahkan kepada hamba-Nya sudah pasti Allah akan membalasnya dengan balasan yang setimpal sesuai dengan janji-Nya dan Allah SWT tidak inkar janji.

Adapun perkara yang Allah perintahkan kepada hamba-Nya itu banyak. Dalam pada ini kami akan sampaikan tentang Jum’at, yakni Niat Sholat Jum’at, Syarat waji dan Syarat Sahnya mudah-mudahan uraian ini. bermanfa’at.

Jum’at

Kata “Jum’at” artinya kumpulan atau dikumpulkan, sebagaimana Ta’rif dan ma’na dalam Ma’jam Al-Ma’ani Al-Jami’ disebutkan:

جُمُعَةٌ: اسم

الجمع : جُمَعٌ ، جُمُعَاتٌ

صَلاَةُ الجُمُعَةِ : صَلاَةُ يَوْمِ الجُمُعَةِ الَّتِي يُؤَدِّيهَا الْمُسْلِمُونَ جَمَاعَةً عِنْدَ الظُّهْرِ

يَوْمُ الجُمُعَةِ : اليَوْمُ السَّادِسُ مِنَ الأُسْبُوعِ الجمعة آية 9 إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاَةِ مِنْ يَوْمِ الجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا البَيْعَ : قرآن

Artinya: “Jumu’at” itu adalah kata benda. Jama’nya adalah: “Juma’un, Jumu’atun”.

Sholat Jum’at: adalah sholat pada hari jum’at yang ditunaikan oleh orang-orang islam secara berjam’ah pada waktu dzuhur.

Hari Jum’at

Hari Jum’at adalah hari yang ke enam dari sepekan. Dalam Al-Qur’an pada Surat Al-Jum’at ayat sembilan Allah berfirman yang Artinya: “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sholat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli . Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Syarat Wajib Jum’at

Adapun Syarat Wajib Jum’at itu ada 7 perkara sebagaiman diterangkan dalam kitab Fathul-qorib:

وَشَرَائِطُ وُجُوْبِ الْجُمْعَةِ سَبْعَةُ أَشْيَاءَ الْإِسْلَامُ وَالْبُلُوْغُ وِالْعَقْلُ. وَهَذِهِ شُرُوْطُ أَيْضاً لِغَيْرِ الْجُمْعَةِ مِنَ الصَّلَوَاتِ (وَالْحُرِّيَةُ وَالذُّكُوْرِيَّةُ وَالصِّحَةُ وَالْاِسْتِيْطَانُ) فَلَا تَجِبُ الْجُمْعَةُ عَلَى كَافِرٍ أَصْلِيٍّ وَصَبِيٍّ وَمَجْنُوْنٍ، وَرَقِيْقٍ وَأُنْثَى وَمَرِيْضٍ وَنَحْوِهِ وَمُسَافِرٍ

Syarat-syarat wajib melaksanakan sholat Jum’at itu ada tujuh perkara.

  1. Yaitu Islam
  2. baligh
  3. berakal. (berakal, ini juga syarat-syarat kewajiban melakukan sholat-sholat selain sholat Jum’at).
  4. Merdeka
  5. laki-laki
  6. sehat
  7. bertempat tinggal tetap. (Mukimin)

Maka sholat Jum’at itu tidak wajib bagi orang kafir asli, anak kecil, orang gila, budak, wanita, orang sakit dan sesamanya, dan seorang musafir.

Syarat Sah Jum’at

Adapun syarat shanya menunaikan sholat jum’at itu ada 7 perkara juga sebagaimana diterangkan dalam Fathul-qorib:

وَشَرَائِطُ صَحَةِ (فِعْلِهَا ثَلَاثَةٌ) الْأَوَّلُ دَارَ اْلإقَامَةِ الَّتِيْ يَسْتَوْطِنُهَا الْعَدَدُ الْمَجْمُعُوْنَ سَوَاءٌ فِيْ ذَلِكَ الْمَدَنُ وَالْقُرَى الَّتِيْ تَتَخِذُ وَطَناً، وَعَبَرَ الْمُصَنِّفُ عَنْ ذَلِكَ بِقَوْلِهِ (أَنْ تَكُوْنَ الْبَلَدُ مِصْراً) كَانَتِ الْبَلَدُ (أَوْ قَرْيَةً وَ) الثَّانِيْ (أَنْ يَكُوْنَ الْعَدَدُ) فِيْ جَمَاعَةِ الْجُمْعَةِ (أَرْبَعِيْنَ) رَجُلاً (مِنَ أَهْلِ الْجُمْعَةِ) وَهُمْ الْمُكَلَّفُوْنَ الذُّكُوْرُ الْأَحْرَارُ الْمُسْتَوْطِنُوْنَ بِحَيْثُ لَا يَظْعُنُوْنَ عَمَا اِسْتَوْطِنُوْهُ شِتَاءً، وَلَا صَيْفاً إِلَّا لِحَاجَةٍ. (وَ) الثَّالِثُ (أَنْ يَكُوْنَ الْوَقْتُ بَاقِياً) وَهُوَ وَقْتُ الظُّهْرِ فَيُشْتَرَطُ أَنْ تَقَعَ الْجُمْعَةُ كُلُّهَا فِيْ الْوَقْتِ، فَلَوْ ضَاقَ وَقْتُ الظُّهْرِ عَنْهَا بِأَنْ لَّمْ يَبْقَ مِنْهُ مَا يَسَعُ الَّذِيْ لَا بُدَ مِنْهُ فِيْهَا مِنْ خُطْبَتَيْـهَا وَرَكْعَتَيْـهَا صُلِيَتْ ظَهْراً

Dan Adapun syarat-syarat sahnya pelaksanaan sholat Jum’at ada tiga.

Pertama, tempat tinggal yang dihuni oleh sejumlah orang yang melakukan sholat Jum’at, baik berupa kota ataupun pedesaan yang dijadikan tempat tinggal tetap. Hal itu diungkapkan oleh mushannif dengan perkataan beliau, “daerah tersebut adalah kota ataupun desa.”

Kedua, jumlah jamaah sholat Jum’at mencapai empat puluh orang laki-laki dari golongan ahli Jum’at. Mereka adalah orang-orang mukallaf laki-laki yang merdeka dan bertempat tinggal tetap, sekira tidak berpindah dari tempat tinggalnya baik di musim dingin atau kemarau kecuali karena hajat.

Ke tiga, waktu pelaksanaannya masih tersisa, yaitu waktu sholat Dhuhur.

Maka seluruh bagian sholat Jum’at harus terlaksana di dalam waktu. Sehingga, seandainya waktu sholat Dhuhur mepet, (sempit) yaitu waktu yang tersisa tidak cukup untuk melaksanakan bagian-bagian wajib di dalam sholat Jum’at yaitu dua khutbah dan dua rakaatnya, maka yang harus dilaksanakan adalah sholat Dzuhur sebagai ganti dari sholat Jum’at tersebut.

(فَإِنْ خَرَجَ الْوَقْتُ أَوْ عَدَمَتْ الشُّرُوْطُ) أَيْ جَمِيْعُ وَقْتِ الظُّهْرِ يَقِيْناً أَوْ ظَناً وَهُمْ فِيْهَا (صُلِّيَتْ ظُهْراً) بِنَاءً عَلَى مَا فُعِلَ مِنْهَا، وَفَاتَتِ الْجُمْعَةُ سَوَاءٌ أَدْرَكُوْا مِنْهَا رَكْعَةً أَمْ لَا، وَلَوْ شَكُّوْا فِيْ خُرُوْجِ وَقْتِهَا وَهُمْ فِيْهَا أَتِمُّوْهَا جُمْعَةً عَلَى الصَّحِيْحِ

Jadi jika waktu sholat Dzuhur telah habis, atau syarat-syarat sholat Jum’at tidak terpenuhi, maksudnya selama waktu Dzuhur baik secara yaqin atau dugaan saja, dan para jama’ah dalam keadaan melaksanakan sholat Jum’at, maka yang dilakukan adalah sholat Dhuhur dengan meneruskan apa yang telah dilaksanakan dari sholat Jum’at, dan sholat Jum’at tersebut dianggap keluar baik telah melakukan satu rakaat darinya ataupun tidak.

Seandainya para jama’ah ragu terhadap habisnya waktu dan mereka berada di dalam sholat, maka mereka menyempurnakan sholat tersebut sebagai sholat Jum’at menurut pendapat al-Ashoh.

Fardhu-Fardhu Sholat Jum’at

Fardlu-fardhunya sholat Jum’at ada tiga. Sebagian ulama’ mengungkapkan dengan bahasa “syarat-syarat”.

Pertama dan kedua adalah dua khutbah yang dilakukan seorang khotib dengan berdiri dan duduk di antara keduanya. Imam al Mutawalli berkata, “yaitu dengan ukuran thuma’ninah di antara dua sujud.”

Seandainya khotib tidak mampu berdiri dan ia melakukan sholat dengan duduk atau tidur miring, maka hukumnya sah dan diperkenankan mengikutinya walaupun tidak tahu dengan keadaan sang khotib yang sebenarnya.

Ketika seorang khotib melaksanakan khutbah dengan cara duduk, maka ia memisah antara kedua khutbah dengan diam sejenak tidak dengan tidur miring. (Kutipan dari Fathul-qorib)

Tentang Niat

Perlu diketahui bahwa niat itu ada dalam hati tidak terucap dalam lisan, namun untuk menghadirkan niat dalam hati agar lebih istigdhor maka ulama Syafi’iyah mensunahkan untuk melafadzkannya bahkan ada diantaranya yang mewajibkan dalam pengucapan  niat, demikian ini dikatakan dalam beberapa ilmu fiqih syafi’iyah dan syarah hadits tentang niat seperti diterangkan dalam Kitab “Al-Wafi”, dengan demikian maka kami akan menuliskan lafadz niat sholat jum’at.

Lafadz Niat Sholat Jum’at Jadi Imam Tulisan Arab

اُصَلِّى فَرْضَ الْجُمْعَةِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أدَاءً إمَامًا لِّلّٰهِ تَعَالَى اللهُ اَكْبَرَ

Artinya: Saya niat sholat Fardhu Jum’at dua roka’at menghadap qiblat tunai sebagai Imam karena Allah ta’ala Allahu Akbar.

Lafadz Niat Sholat Jum’at Jadi Makmum Tulisan Arab

اُصَلِّى فَرْضَ الْجُمْعَةِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أدَاءً مَأْمُوْمًا لِّلّٰهِ تَعَالَى اللهُ اَكْبَرَ

Artinya: Saya niat sholat Fardhu Jum’at dua roka’at menghadap qiblat tunai sebagai makmum karena Allah ta’ala Allahu Akbar.

Lafadz Niat Sholat Jum’at Jadi Iamam Tulisan Indonesia

Usholi Fardhol-Jum’ati rok’ataini Mustaqbilal-qiblati ada-an imaman lillahi Ta’ala Allahu Akbar.

Lafadz Niat Sholat Jum’at Jadi Makmum Tulisan Indonesia

Usholi Fardhol-Jum’ati rok’ataini Mustaqbilal-qiblati ada-an makmumal lillahi Ta’ala Allahu Akbar.

Tata Cara Sholat Jum’at

Adapaun tata cara sholat hajat adalah sebagai berikut:

Pertama: Sebelum Shoalat

  1. Sebelum Bilal mengiqomatin untuk sholat jum’at maka Khothib berkhuthbah dua kali Khuthbah
  2. Selesai Khuthbah ke dua maka Bilal Iqomat
  3. Setelah Iqomat, Imam Maju ke Pengimaman untuk menjadi Imam

Ke dua: Cara Pelaksanaan Sholat Jum’at:

  1. Berdiri menghadap qiblat
  2. Mengucapkan niat sebelum Takbirotul-ihrom
  3. Takbirotul ihram  dengan mengucapkan “Allahu Akbar” berbarengan dengan niat dalam hati
  4. Membaca doa iftitah
  5. Imam Membaca surat Al-Fatihah, Makmum mendengarkan bacaan Imam
  6. Selesai Imam membaca Fatihah ia semestinya diam sejenak, dan Makmum membaca Fatihah
  7. Imam membaca Surat yang dikehendaki dan makmum menyimak bacaan Imam
  8. Imam Ruku’ secara tuma’ninah diikuti makmum
  9. I’tidal dengan tuma’ninah
  10. Sujud besrta tuma’ninah
  11. Duduk diantara dua sujud dengan tuma’ninah
  12. Sujud kedua dengan tuma’ninah
  13. Bangkit dari sujud, yakni Berdeiri untuk roka’at yang kedua
  14. Takbirotul-qiyam dengan mengucapkan “Allahu Akbar”
  15. Imam Membaca surat Al-Fatihah, Makmum mendengarkan bacaan Imam
  16. Selesai Imam membaca Fatihah ia semestinya diam sejenak, dan Makmum membaca Fatihah
  17. Imam membaca Surat yang dikehendaki dan makmum menyimak bacaan Imam
  18. Ruku’ dengan tuma’ninah
  19. I’tidal dengan tuma’ninah
  20. Sujud beserta tuma’ninah
  21. Duduk diantara dua sujud dengan tuma’ninah
  22. Sujud kedua dengan tuma’ninah
  23. Duduk terakhir
  24. Tasyahud akhir (memabaca Tahiyat akhir)
  25. Salam
Niat Sholat Jum’at

Amalan Setelah Sholat Jum’at

Ada banyak macam amalan yang dibaca setelah sholat jum’at disesuaikan dengan yang sudah terbiasa di masing-masing daerah misalnya:

  1. Baca Fatihah 7 kali
  2. Baca Al-Ikhlas 7 kali
  3. Baca Falq binas 1 kali
  4. Baca Ayat Kursi 1 kali
  5. Doa Sesuai Kebutuhan dan kebiasaan
  6. Baca Ilahi Lastu lil-firdasi ahla wa la aqwa ‘ala naril- jahimi …. s/d selesai 7 kali

Adapun yang diamalkan setelah Sholat Jum’at bagi yang mau setidak-tidaknya adalah:

  1. Baca fatihah 1 kali
  2. Doa selamat

Demikian ulasan Tentang : Niat Sholat Jum’at : Syarat Wajib, Syarat Sah dan Fardhunya – Semoga dapat memberikan manfaat untuk kita semua.Terimakasih

بِاللهِ التَّوْفِيْقُ وَالْهِدَايَةُ و الرِّضَا وَالْعِنَايَةُ ثُمَّ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ