Ciri Wanita Ahli Neraka dan sebagian dari tanda Ahli Surga

Ciri Wanita Ahli Neraka dan sebagian dari tanda Ahli Surga Selanjutnya Duta Dakwah masih dalam penulisan “Syarah ‘Uqudullujain”, Untuk bacaan Keluarga Bahagia, in syaa allah ini menjadi inspirasi bagi Pasangan suami istri yang mengidamkan dalam rumah tangga yang harmonis.

Ciri Wanita Ahli Neraka dan sebagian dari tanda Ahli Surga

Pembahasan mengenai Tema  ini kami tulis dari Kitab kecil yang bernama “’Uqudullujain”. Tulisan ini adalah lanjutan yang ke 26, Dan untuk lebih jelasnya dalam pembasan ini mari kita sama-sama ikuti uraiannya berikut ini:

Mukodimah

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ أَشْهَدُ أَنْ لآ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، عِبَادَ اللهِ ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَىْ اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ وَأَحُثُّكُمْ وَنَفْسِيْ عَلَى طَاعَةِ اللهِ فِيْ كُلِّ وَقْتِ لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ، أَمَّا بَعْدُ

Puji dan Syukur senantiasa tetap kita panjatkan ke hadhirat Allah SWT. Sholawat dan salamnya semoga tetap tercurahkan ke haribaan Nabi Agung Muhammad s.a.w., keluarga dan shahabatnya semua, Amiin…

Saudara dan saudariku seiman yang dirahmati Allah SWT. Surga dan Neraka adalah hak, kita tidak ada yang tahu dimanakah kita kelak menghini?, namu ada salah satu ciri-ciri menurut yang disabdakan rasulullah s.a.w. siapa yang bakal menjadi penghuni surga dan siapa yang bakal menjadi penghuni surga  untuk lebih jelasnya berikut inilah materinya yang kami sajikan tentang Ciri Wanita Ahli Neraka dan sebagian dari tanda Ahli Surga:

Wanita Itu Aurat

قَالَ النَبِيُّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ) أَيْ يَسْتَقْبِحُ ظُهُوْرُهَا لِلرِّجَالِ (فَإِذَا خَرَجَتْ مِنْ بَيْتِهَا) أيْ خَدْرِهَا (اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ) أيْ رَفَعَ بَصَرَهُ إِلَيْهَا، فَيُوْقِعُ فِيْ الْفِتْنَةِ، أَوِ الْمُرَادُ شَيْطَانُ الْإِنْسِ، سُمِّيَ بِهِ عَلَى التَّشْبِيْهِ (وَأَقْرَبُ مَا تَكُوْنُ الْمَرْأَةُ مِنَ اللهِ إِذَا كَانَتْ فِيْ بَيْتِهَا. وَفِيْ رِوَايَةٍ: الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ) أَيْ غَيْرُ وَثِيْقَةٍ بِهَا فَسَادٌ كَبِيْرٌ (فَاحْبِسُوْهُنَّ فِيْ الْبُيُوْتِ، فَإِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا خَرَجَتْ الطَرِيْقَ) أيْ خَرَجَتْ مِنْ خَدْرِهَا وَأَرَادَتْ أَنْ تَسْلَكَ الطَّرِيْقَ (قَالَ لَهَا أَهْلُهَا أَيْنَ تُرِيْدِيْنَ ؟، قَالَتْ: أَعُوْدُ مَرِيْضًا وَأَشِيْعُ جَنَازَةً، فَلاَ يَزَالُ بِهَا الشَيْطَانُ حَتَّى تُخْرِجَ ذِرَاعَهَا، وَمَا الْتَمَسَتْ) أَيْ طَلَبَتْ (الْمَرْأَةُ وَجْهَ اللهِ) أيْ رِضَاهُ (بِمِثْلِ أَنْ تَقْعُدَ فِيْ بَيْتِهَا وَتَعْبُدَ رَبَّهَا وَتُطِيْعَ بَعْلَهَا) أيْ زَوْجَهَا

Nabi SAW bersabda: Wanita adalah aurut, (yakni tidak baik kehadirannya perempuan kepada kaum lelaki), jadi ketika ia keluar dari rumahnya (yaitu dari penutupnya) maka mengelu-elukan syetan padanya. (maksudnya syetan itu memandang tajamkan matanya kepada perempuan tersebut lalu kemudian ia membuatnya ke dalam fitnah, atau yang dimaksudkannya adalah syetan manusia, dinamakan dengan nama ini karena menyerupainya). Dan sedekat-dekatnya jarak antara seorang istri dan Allah ialah berada dalam rumahnya. Dan dalam satu riwayat: Perempuan itu aurat (yakni tidak bisa dipercaya dengan adanya perempuan apa kerusakan yang besar) maka tahanlah mereka untuk tidak keluar rumah, maka sesungguhnya seorang istri jika ia keluar rumah, (yakni ia keluar dari penutupnya dan hendak meniti jalan) dan keluarganya bertanya padanya “Kemana engkau hendak pergi ?” ia menjawab : Aku akan menengok yang sedang sakit, atau Aku akan melayat jenazah. Maka tak henti-hentinya syetan merayu sehingga terbuka dziro’ nya.

Bagi seorang istri tidak ada yang ia lakukan untuk mencari ridh Allah kecuali ia mendiami rumahnya dan beribadah kepada tuhannya dan menta’ati suaminya..

Istri Sholiha Itu Seperti Tiang Dalam Agama

وَكَانَ حَاتِمُ الْأَصَمِ يَقُوْلُ: “الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ عِمَادُ الدِّيْنِ وَعِمَارَةُ الْبَيْتِ وَعَوْنٌ عَلَى الطَّاعَةِ، وَالْمَرْأَةُ الْمُخَالَفَةُ تَذِيْبُ قَلْبَ صَاحِبِهَا وَهِيَ ضَاحِكَةٌ”. وَكَانَ عَبْدُ اللهِ بْنُ عَمْرٍ يَقُوْلُ: “عَلَامَةُ كَوْنِ الْمَرْأَةِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ أَنْ تَضْحَكَ لِزَوْجِهَا إِذَا أَقْبَلَ، وَتَخُوْنُهُ إِذَا أَدْبَرَ”. وَكَانَ حَاتِمُ الْأَصَمِ يَقُوْلُ: “مِنْ عَلَامَةِ الْمَرْأَةِ الصَّالِحَةِ أَنْ يَكُوْنَ حُبُّهَا مُخَافَةَ اللهِ، وَغِنَاهَا الْقَنَاعَةُ بِقِسْمَةِ اللهِ وحُلِيُّهَا السَّخَاوَةُ بِمَا تَمْلِكُ، وَعِبَادَتُهَا حُسْنُ خِدْمَةِ الزَّوْجِ، وَهِمَّتُهَا الْإِسْتِعْدَادُ لِلْمَوْتِ

Berkata Hatim Al-Ashom: Istri yang sholihah laksana tiang dalam agama dan pemakmur rumahnya (dengen menta’ati suaminya) dan bisa menolang dalam keta’atan.

Berkata Abdullah bin Umar: Adapun Tandanya seorang istri yang jadi ahli neraka adalah: istri tersebut ia bisa membuat suaminya tersenyum (bermanis-manis didepan suami) namun di belakang suami ia berkhianat.

Berkata Hatim Al-Ashom: Sebagian dari tanda istri sholihah adalah jika kecintaannya ia tempatkan pada takut kepada Allah. Dan kekayaannya adalah qona’ah. Dan perhiasannya adalah murah hati dengan apa yang ia miliki. Dan ibadahnya adalah melayani suami dengan sebaik-baiknya. Dan Adapun Tujuan dari semua itu adalah ia jadikan bekal menghadapi kematian.

Termasuk dari Dosa Besarnya Seorang Perempuan

  وَمِنَ الْكَبَائِرِ، أيْ كَبَائِرُ الذُّنُوْبِ (خُرُوْجُ الْمَرْأَةِ المْمُزَوّجَةِ مِنْ بَيْتِهَا) أيْ مَحَلِ إِقَامَتِهَا (بِغَيْرِ إِذْنِهِ، وَلَوْ لِمَوْتِ أَحَدِ أَبَوَيْهَا) أيْ لَأَجْلِ جَنَازَتِهِ

Sebagian dari dosa besar adalah keluarnya seorang istri yang sudah bersuami dari rumah tanpa izin suaminya, walaupun disebabkan karena wafatnya salasatu orangtuanya, yakni karena mau melihat jenazahnya.

Dosa Bapaknya Diampuni Karena Ta’atnya Istri Kepada Suami

وَفِيْ الإِحْيَاءِ) لِلْغَزَالِي رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى (خَرَجَ رَجُلٌ فِيْ سَفَرِهِ وَعَهِدَ) بِكَسْرِ الْهَاءِ أَيْ أَوْصَى (إِلَى امْرَأَتِهِ أَنْ لاَ تَنْزِلَ مِنَ الْعُلُوِ إِلَى السُّفُلِ، وَكَانَ أَبُوْهَا فِيْ الأَسْفَلِ فَمَرِضَ) أيْ الْأَبُ (فَأَرْسَلَتْ الْمَرْأَةُ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسْتَأْذِنُ فِيْ النُزُوْلِ إِلَى أَبِيْهَا) أي لِعِيَادَتِهِ (فَقَالَ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “أَطِيْعِيْ زَوْجَكِ”) أيْ وَلَا تَنْزِلِيْ (فَمَاتَ) أيْ الْأَبُ (فَاسْتَأْذَنَتْ) أيْ رَسُوْلَ الله صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي النُّزُوْلِ لِأَجْلِ شُهُوْدِ جَنَازَتِهِ (فَقَالَ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “أَطِيْعِيْ زَوْجَكِ”) فِيْ عَدَمِ النُّزُوْلِ (فَدُفِنَ أَبُوْهَا، فَأَرْسَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيْهَا) أيْ الْمَرْأَةُ يُخْبِرُهَا “أَنَّ اللهَ تَعَالَى قَدْ غَفَرَ لأَبِيْهَا بِطَاعَتِهَا لِزَوْجِهَا

Imam Al-Ghozali menuturkan dalam kitab Ihya: (tersebutlah sebuah keluarga pada zaman rosulullah s.a.w.) seorang suami akan melakukan perjalanan dan ia berwasiat pada istrinya untuk tidak turun dari lantai atas ke lantai bawah yang mana orang tua si istri ini mendiami lantai bawah. Dalam keadaan suami masih dalam perjalanannya si ayah wanita ini sakit, ia ingin menjenguk ayahnya namun ia tidak berani melanggar wasiat suaminya, akhirnya ia mengirim utusan kepada rosulullah untuk mohon di izinkan turun guna menengok orang tuanya, Maka bersabda Rosulukllah s.a.w.: “Ta’atilah suamimu”. (maksudnya: Kamu jangan turun).

Kemudian wafatlah orang tuanya, dan wanita ini ingin menyaksikan jenazah orangtuanya untuk yang terakhir kalinya, kemudian ia mengutus utusan kepada rosulullah untuk memohonkan izin guna melihat jenazah orangtuanya, Nabi bersabda: “Ta’atilah suamimu”.

Maka dikuburkanlah orangtuanya.Tak lama Rosulullah mengirim utusan yang memberi kabar kepada wanita ini, Bahwa: Allah SWT telah mengampuni dosa orang tuanya dengan sebab keta’atannya kepada suaminya.

Wasiat Ibu Kepada Putrinya

فَائِدَةٌ: أَوْصَتْ اِمْرَأَةٌ بِنْتَهَا، فَقَالَتْ: اِحْفَظِيْ لِزَوْجِكِ خِصَالًا عَشْرًا يَكُنْ لَكِ ذُخْرًا، الْأَوَّلُ وَالثَّانِيَّةُ: الْقَنَاعَةُ وَحُسْنُ السَّمْعِ لَهُ وَالطَّاعَةُ. وَالثَّالِثَةُ وَالرَّابِعَةُ: التَّفَقُدُ لِمَوَاقِعِ عَيْنِهِ وَأَنْفِهِ، فَلَاتَقَعُ عَيْنَهُ مِنْكِ عَلَى قَبِيْحِ، وَلَا يَشُمُّ أَنْفَهُ مِنْكِ إِلَّا طَيِّبَ الرَّيْحِ. وَالْخَامِسَةُ وَالسَّادِسَةُ: التَّفَقُدُ لِوَقْتِ طَعَامِهِ وَمَنَامِهِ، فَإِنَّ شَدَّةَ الْجُوْعِ مُلْهِبَةٌ، وَتَنْغِصُ النَّوْمِ مَغْضُبَةٌ. وَالسَّابِعَةُ وَالثَّامِنَةُ: الْإِحْرَازُ لِمَالِهِ وَالرِعَايَةِ إِلَى حَشَمِهِ وَعِيَالِهِ. وَالتَّاسِعَةُ وَالْعَاشِرَةُ: لَا تَعْصِيْنَ لَهُ أَمْرًا وَلَا تُفْشِيْنَ لَهُ سِرًّا، فَإِنَّكِ إِنْ خَالَفْتِ أَمْرَهُ  أوْغِرْتِ صَدْرَهُ، وَإِنْ أَفْشِيْتِ سِرَّهُ لَمْ تَأْمَنِيْ غَدْرَهُ، وَإِيَّاكِ ثُمَّ إِيَّاكِ وَالْفَرْحَ بَيْنَ يَدَيْهِ إِذَا كَانَ مُهْتِمًا، وَالْكآبَةَ لَدَيْهِ  إِنْ كَانَ فَرْحًا.

Ini adalah Suatu Faidah Dengan kejadian tersebut wanita inipun berwasiat kepada puterinya maka ia berkata: “Peliharalah sepuluh perkara yang menjadi hak suamimu, niscaya itu akan jadi bekal kebaikan buatmu.

  1. Qona’ah
  2. mendengar baik-baik ucapan suami serta ta’atilah.
  3. Perhatikan dan periksalah penglihaatn dan penciuman suamimu,
  4. Jangan biarkan suami memandangmu dengan pandangan tidak suka.Dan jangan biarkan suamimu ketika ia mencium aromamu kecuali harum.
  5. Periksa dan perhatikan waktu makan suamimu
  6. Periksa dan perhatikan waktu tidur suamimu.
  7. Menjaga harta suami
  8. dan jangan berbuat tidak senonoh terhadap suami dan keluarga suami.
  9. Jangan bantah perkataannya
  10. dan jangan bicarakan apa yang jadi rahasiannya.
Ciri Wanita Ahli Neraka dan sebagian dari tanda Ahli Surga
Ciri Wanita Ahli Neraka dan sebagian dari tanda Ahli Surga

Sungguh jika engkau melawan perintahnya dan ada rasa cemburu di dadanya juga membicarakan rahasianya….Maka engkau jangan merasa aman karena telah berkhianat paadanya.

Jagalah…Jagalah berikan kebahagian ketika ia sedang bersedih/bingung/terpuruk. Dan berilah masukan (agar tidak berlebihan ) ketika ia sedang gembira.

Demikian Uraian kami tentang Ciri Wanita Ahli Neraka dan sebagian dari tanda Ahli Surga – Semoga dapat bermanfaat dan memberikan tambahan ilmu pengetahuan untuk kita semua sebagai Pasangan Suami Istri yang ingin membina rumah tangganya untuk mecapai mardhotillah. Abaikan saja uraian kami ini jika pembaca tidak sependapat.Terima kasih atas kunjungannya.

بِاللهِ التَّوْفِيْقُ وَالْهِدَايَةُ و الرِّضَا وَالْعِنَايَةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ