Sebab Lemahnya Iman Dalam Diri Seorang Muslim

Sebab Lemahnya Iman Dalam Diri Seorang Muslim – Pada kesempatan ini Duta Dakwah akan membahas tentang Iman. Yang mana dalam pembahasan kali ini mengenai sebab lemahnya iman dalam diri seorang muslim dengan secara singkat dan jelas. Untuk itu silahkan simak ulasan berikut ini.

Sebab Lemahnya Iman Dalam Diri Seorang Muslim

Ada banyak hal yang jika dilakukan oleh seorang yang beriman, itu akan berakibat melemahkan iman yang telah ada dalam diri. Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid menyebutkan beberapa sebab lemahnya iman, antara lain,

Jauh dari Nuansa Iman

Jauhnya seorang mukmin dari nuansa iman dalam durasi waktu yang cukup panjang dapat menjadi sebab lemahnya iman. Allah berfirman,

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

Artinya:     “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hadid Ayat 16)

Nuansa iman yang paling mudah didapat adalah dengan banyak bergaul dengan ikhwah fillah, teman beriman yang senang menasehati dan menyemangati dalam ketaatan. Ketika seorang mukmin jauh dari pergaulan dengan ikhwah fillahbaik karena sedang safar dalam waktu yang lama, pindah rumah sehingga pindah ke lingkungan yang jauh dari nuansa iman, dan semisalnya, maka sedikit-demi sedikit nuansa iman dalam dirinya akan meredup.

Baca Juga :  √ Sifat Wajib, Mustahil dan Jaiz Bagi Nabi & Rasul serta Artinya

Jauh dari Keteladanan yang Baik dan Jauh dari Thalabul Ilmi

Seorang mukmin yang belajar ilmu kepada seorang guru yang shalih akan terkumpul pada dirinya ilmu yang bermanfaat, amal shalih, dan keimanan yang kuat. Maka tatkala orang mukmin tersebut berpisah dari gurunya dalam waktu tertentu, itu dapat menimbulkan kerasnya hati dan menjadi sebab lemahnya iman.

Seperti itulah yang dirasakan para sahabat ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat. Mereka kehilangan sosok panutan terbaik sepanjang zaman. Rasa kehilangan itu membekaskan kelemahan hati dan penyusutan iman pada diri para sahabat.

Demikian pula, ketika seorang mukmin jauh dari aktivitas thalabul ilmi dan interaksi dengan kitab-kitab turats, maka itu akan menjadikan iman seorang mukmin melemah. Sebab, interaksi dengan ilmu syar’i akan membuahkan keimanan pada diri seseorang.

Tenggelam dalam Kesibukan Duniawi

Kesibukan duniawi telah banyak membuat lalai pribadi-pribadi insan beriman. Bahkan, kesibukan duniawi telah berhasil memaksa hati untuk tunduk menjadi budak dunia. Kesibukan terhadap dunia telah menjadi sebab lemahnya iman.

رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَوْ أَنَّ لِابْنِ آدَمَ مِثْلَ وَادٍ مَالًا لَأَحَبَّ أَنَّ لَهُ إِلَيْهِ مِثْلَهُ وَلَا يَمْلَأُ عَيْنَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ

Artinya:     Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sekiranya anak Adam memiliki harta kekayaan sebanyak satu bukit, niscaya ia akan mengharapkan satu bukit lagi yang seperti itu, dan tidaklah mata anak Adam itu dipenuhi melainkan dengan tanah, dan Allah akan menerima taubat siapa saja yang bertaubat.” (Hadits Bukhari Nomor 5957)

Oleh sebab itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat kepada umatnya agar tidak berlebihan dalam ambil bagian dalam urusan dunia sehingga menyibukkan dirinya kemudian lalai dengan Rabb-Nya.

Baca Juga :  7 Dasar dan Prinsip Kepemimpinan Dalam Islam

Allah berfirman,

وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

Artinya:     “Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah lah pahala yang besar.” (QS. Al-Anfal Ayat 28)

Dalam ayat lain, Allah ‘azza wajalla berfirman,

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ

Artinya:     “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang.” (QS. Ali Imran Ayat 14)

Ayat di atas bermakna bahwa apabila cinta terhadap wanita (istri), anak, dan harta didahulukan daripada ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya, maka rasa cinta tersebut akan mendatangkan cela bagi dirinya. Namun jika rasa cintanya kepada hal-hal tersebut dibangun di atas aturan syar’i dan untuk ketaatan kepada Allah, maka ini adalah perbuatan terpuji.

Panjang Angan-angan

Obsesi untuk menguasai apa yang ada di dunia, angan-angan yang terlampau jauh melebihi kemampuan yang dimiliki menjadi sala satu sebab lemahnya iman seorang Muslim.

Allah berfirman dalam QS. Al-Hijr Ayat 3 yaitu,

ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ ۖ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ

Artinya:     “Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka).”

rasulullah SAW juga bersabda,

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ

Artinya:     “Orang yang cerdas adalah orang yang menghitung-hitung dirinya dan beramal untuk setelah kematian, sebaliknya orang yang lemah adalah orang yang mengikuti jiwanya dengan hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah.” (Hadits Ahmad Nomor 16501)

Baca Juga :  √ 20 Sifat Allah Beserta Arti dan Penjelasannya (Terlengkap)

Porsi Makan, Tidur, dan Perkataan yang Berlebihan

Porsi makan yang berlebihan itu ternyata dapat menumpulkan akal dan memberatkan badan dari ketaatan. Sedangkan berlebihan dalam berbicara itu akan merapuhkan hati. Berlebihan dalam bergaul akan menyibukkan diri dengan manusia sehingga waktu untuk berkhalwat dengan Allah menjadi terkikis dan kesempatan muhasabah menjadi berkurang. Sementara berlebihan dalam tertawa dapat mematikan hati. Tindakan-tindakan berlebihan tersebut menjadi salah satu sebab lemahnya iman seorang Muslim.

Sebagaimana Rasulullah telah bersabda,

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُكْثِرُوا الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ

Artinya:     “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian banyak tertawa, karena banyak tertawa akan mematikan hati.” (Hadits Ibnu Majah Nomor 4183).

Demikian ulasan singkat tentang Sebab Lemahnya Iman Dalam Diri Seorang Muslim. Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan untuk kita semua. Terimakasih.

Sebab Lemahnya Iman Dalam Diri Seorang Muslim
5 (100%) 3 vote[s]