Khutbah Jum’at Tentang Islam Mengangkat Derajat Perempuan

Khutbah Jum’at Tentang Islam Mengangkat Derajat Perempuan – Pada kesempatan ini Duta Dakwah akan menjelaskan tetang Perempuan. Yang mana dalam pembahasan kali ini mengenai islam mengangkat derajat perempuan di kemas dalam bentuk khutbah jum’at disertai lafadz khutbah pertama dan kedua dengan singkat dan jelas. Untuk itu silahkan simak ulasan berikut ini.

Khutbah Jum’at Tentang Islam Mengangkat Derajat Perempuan

Laki-laki dan perempuan memiliki kesamaan hak dan kewajiban, meskipun ada beberapa hal yang perempuan tidak bisa lakukan dan laki-laki bisa lakukan, begitupun sebaliknya. Yang membedakan derajat antara laki-laki dan perempuan adalah tingkat ketakwaaannya. Islam sudah jauh mengangkat derajat perempuan. Bisa dikatakan bahwa dalam agama lain tidak ada yang menyamai bahkan melebihi keistimewaan perempuan selain dalam agama islam.

Khutbah Pertama

الحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، الَّذِيْ خَلَقَ الْإِنْسَانَ خَلِيْفَةً فِي الْأَرْضِ  وَالَّذِيْ جَعَلَ كُلَّ شَيْئٍ إِعْتِبَارًا لِلْمُتَّقِيْنَ وَجَعَلَ فِيْ قُلُوْبِ الْمُسْلِمِيْنَ بَهْجَةً وَسُرُوْرًا. أَشْهَدُ أَنْ لاإِلهَ إِلا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُـــلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِ وَ يُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَ بَعْدَهُ. اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ  عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ وَأَفْضَلِ الْأَنْبِيَآءِ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّابَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ اتَّقُوْا اللهَ  حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوُتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: مَنْ عَمِلَ سَيِّئَةً فَلَا يُجْزَىٰ إِلَّا مِثْلَهَا ۖ وَمَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَٰئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ يُرْزَقُونَ فِيهَا بِغَيْرِ حِسَابٍ

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Di antara bentuk penerapan dari prinsip tauhid adalah mengakui kesetaraan di antara manusia, tak hanya dari sudut ragam ras dan asal daerah tapi juga jenis kelamin: laki-laki dan perempuan. Karena yang berhak sombong, merasa lebih tinggi dari yang lain, dan disembah hanya Allah subhanahu wata‘âlâ. Dakwah pertama-tama Rasululah di Makkah banyak tercurahkan pada aspek tauhid atau akidah ini. Ia memberi fondasi bagi perilaku masyarakat Arab waktu itu yang masih diliputi budaya jahiliyah.

Selain penyembahan berhala dan maraknya perang atas dasar sentimen suku, Arab era jahiliyah dipenuhi fenomena diskriminasi dan kesewenang-wenangan, termasuk kepada kaum perempuan yang mereka anggap rendah, lemah, dan sumber rasa malu keluarga. Perempuan pun tidak hanya mendapat perlakuan buruk secara psikologis tapi juga fisik—sampai pada upaya pembunuhan.

Baca Juga :  Khutbah Jum’at Tentang Orang Beriman yang Beruntung

Pada masyarakat Arab zaman pra-Islam, peristiwa wa’dul banât atau pembunuhan bayi perempuan marak. Mengubur bayi hidup-hidup menjadi pemandangan yang lumrah. Mereka memandang perempuang sebagai makhluk yang membawa aib bagi keluarga, tak bisa diandalkan dalam perang, dan sederet penghinaan lain terhadap manusia.

Dalam Surat an-Nahl ayat 58-59, Al-Qur’an memberi informasi bahwa masyarakat jahliyah ketika mendapat kabar kelahiran anak perempuan menunjukkan ketidaksenangan yang luar biasa. Wajah mereka memerah dan seolah-olah hanya dua pilihan bagi mereka: memelihara si jabang bayi dengan rasa hina atau menguburnya ke dalam tanah.

Islam hadir dengan mengutuk praktik keji tersebut. Wahyu yang turun kepada Nabi mempertanyakan kezaliman luar biasa orang-orang Arab kala itu terhadap perempuan. Islam mengancam bahwa pelaku pembantaian atas bayi tanpa dosa itu akan dimintai pertanggungjawaban di hari kiamat kelak. Kecaman ini tertuang antara lain dalam Surat Takwir ayat 8-9 yang diturunkan di Makkah (sebelum hijrah Nabi):

إِذَا الْمَوْءُودَةُ سُئِلَتْ  بِأَيِّ ذَنْبٍ قُتِلَتْ

Artinya: “…Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh.”

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Lebih dari sekadar penghapusan atas praktik pembunuhan bayi, Islam secara bertahap juga mengubah adat atau kebiasaan era jahiliyah yang merugikan kaum hawa. Seperti tradisi melarang perempuan—yang telah dicerai suaminya—untuk menikah lagi.

وَإِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَبَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلَا تَعْضُلُوهُنَّ أَنْ يَنْكِحْنَ أَزْوَاجَهُنَّ إِذَا تَرَاضَوْا بَيْنَهُمْ بِالْمَعْرُوفِ

Artinya: “Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu habis masa iddahnya, maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya, apabila telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang ma’ruf.” (QS al-Baqarah: 232)

Begitu juga dengan tradisi poligami. Masyarakat jahiliyah yang “doyan kawin” kerap bertindak melampaui batas ketika memenuhi gairah seksualnya. Karena sikap yang selalu memposisikan perempuan sebagai objek, kaum laki-laki saat itu bisa menikah nyaris tanpa terikat norma dan jumlah tertentu.

Islam lantas hadir memberikan batasan-batasan sehingga perempuan terentas dari perlakuan buruk masyarakat yang menggenggam kuat budaya patriarki. Islam memang tidak secara revolusioner melarang sama sekali poligami yang sudah sangat mengakar dalam kebudayaan masyarakat Arab pra-Islam. Karena jika itu dilakukan mungkin akan menimbulkan gejolak. Namun, ia memberikan ketentuan jumlah maksimal empat dengan syarat-syarat yang sangat ketat, yakni adil. Sebagian ulama memaknai adil bukan sekadar pada tataran pemenuhan kebutuhan ekonomi tapi juga kebutuhan seksual yang tentu amat relatif.

Baca Juga :  Khutbah Jumat Tentang Qurban dan Aqiqah Lillah

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Selanjutnya, banyak sekali ayat atau hadits yang menggambarkan semangat emasipasi (persamaan hak) antara laki-laki dan perempuan. Allah tak membeda-bedakan derajat hamba menurut jenis kelaminnya melainkan kadar ketakwaannya.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS al-Hujurat: 13).

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً

Artinya: “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. al-Nahl: 97).

Surga di bawah telapak kaki ibu

Dalam konsteks tertentu, Islam mendudukkan perempuan dalam posisi istimewa, seperti melalui hadits Nabi yang berbunyi:

الْجَنَّةُ تَحْتَ أَقْدَامِ الْأُمَّهَاتِ

Artinya : “Surga berada di bawah telapak kaki Ibu.” (HR Muslim)

Kesetaraan antara laki-laki dan perempuan tentu saja tidak lantas membuat Islam mengingkari adanya perbedaan-perbedaan alamiah dan fisik, seperti kemampuan spesifik perempuan untuk menstruasi, mengandung, melahirkan, dan menyusui. Itu semua adalah hal yang kodrati, berbeda dari peran-peran atau kedudukannya secara sosial, semisal memasak, mencuci, mengasuh anak, dan aktivitas lain yang bisa diperankan siapa saja, baik laki-laki maupun perempuan. Bahkan, dalam fiqih, memasak dan mencuci yang secara umum dipandang sebagai kewajiban istri ternyata menjadi tanggung jawab suami dan suami wajib menginformasikannya kepada istri.

Sulaiman Al-Jamal dalam Hasyiyatul Jamal menyatakan:

وَقَعَ سُؤَالُ فِيْ الدَّارْسِ هَلْ يَجِبُ الرَّجُلُ  إِعْلَامُ زَوْجَتِهِ بِأَنَّهَا لَاتَجِبُ عَلَيْهَا خِدْمَةٌ مِمَّا جَرَتْ بِهِ الْعَادَةُ مِنَ الطَّبْخِ وَالْكَنْسِ وَنَحْوِهِمَا مِمَّا جَرَتْ بِهِ عَادَتُهُنَّ أَمْ لَا وَأَوْجَبَنَا بِأَنَّ الظَّاهِرَ  الْأَوَّلَ لِأَنَّهَا إِذَا لَمْ تَعْلَمْ بِعَدَمِ وُجُوْبِ ذَلِكَ ظَنَّتْ أَنَّهُ وَاجِبٌ وَأَنَّهَا لَا تَسْتَحِقُّ نَفَقَةً وَلَا كِسْوَةً إِنْ لَمْ تَفْعَلْهُ فَصَارَتْ كَأَنَّهَا مَكْرُهَةٌ عَلَى الْفِعْلِ

 

Artinya : “Wajib atau tidakkah bagi suami memberitahu istrinya bahwa sang sitri tidak wajib membantu memasak, mencuci dan sebagainya sebagaimana yang berlaku selama ini? Jawabnya adalah wajib bagi suami memberitahukan hal tersebut, karena jika tidak diberitahu seorang istri bisa menyangka hal itu sebagai kewajiban bahkan istri akan menyangka pula bahwa dirinya tidak mendapatkan nafkah bila tidak membantu (mencuci, memasak dan lainnya). Hal ini akan manjadikan istri merasa menjadi orang yang terpaksa.” Wallahu a’lam.

Baca Juga :  Khutbah Tangan di Bawah dan Mereka Yang Suka Dilayani

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْأَنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْأَيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمِ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوُهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لله حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا اَمَرَ. اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ اِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ وَ كَفَرَ. وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ وَ حَبِيْبُهُ وَ خَلِيْلُهُ سَيِّدُ الْإِنْسِ وَ الْبَشَرِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَ اَصْحَابِهِ وَ سَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. اَمَّا بَعْدُ

فَيَااَ يُّهَاالنَّاسُ !! اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهَوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ  أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَأَيَّدَ بِالْمُؤْمِنِيْنَ مِنْ عِبَادِهِ، وَقَالَ تَعَالَى: اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىْ يٰآيُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوْاصَلُّوْاعَلَيْهِ وَسَلِّمُوْاتَسْلِيْمًا. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ اَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ﷺ، وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيَآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَائِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَآءِ الرَّاشِدِيْنَ سَيِّدِنَا أَبِيْ بَكْرٍ وَعًمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِى وَعَنْ بَاقِيَةِ الصَّحَابَةِ وَ التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِى التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللَّهُمَّ اَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَ الْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتْنَةِ وَالْمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا خَآصَّةً وَسَائِرِ الْبُلْدَنِ الْمُسْلِمِيْنَ عَآمَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ، رَبَّنَااَتِنَافِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلاَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَالله اِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْىِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ فَاذْكُرُوااللهَ الْعَظِيْمِ وَاشْكُرُوهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُاللهِ اَكْبَرُ

 

Demikian ulasan tentang Khutbah Jum’at Tentang Islam Mengangkat Derajat Perempuan. Semoga dapat bermanfaat dan memberikan ilmu pengetahuan untuk kita semua. Terimakasih.

Khutbah Jum’at Tentang Islam Mengangkat Derajat Perempuan
5 (100%) 2 vote[s]