Pengertian Thaharah, Tata Cara dan Macamnya

Pengertian Thaharah, Tata Cara dan Macamnya – Islam merupakan agama yang suci dan syarat akan tauhid yakni suci atau bersuci. Dalam pada ini Dutdakwah akan menerangkannya. Secara terperinci kami akan tulis pada lembaran ini. Silahkan baca selengkapnya di bawah ini.

Pengertian Thaharah, Tata Cara dan Macamnya

Mungkin masih banyak diantara kita yang belum mengetahui apasih thaharah itu? dan seberapa penting thaharah itu. Thaharah sangat penting karena merupakan salah satu syarat untuk melaksanakan ibadah seperti shalat, haji, berpuasa, membaca ayat suci Al-Qur’an.

Nah untuk mengetahui penjelasan mengenai thaharah, baik tata caranya maupun macam-macamnya akan dijelaskan berikut ini:

Pengertian Thaharah

Kata thaharah berasal dari bahasa arab yakni “At-Thaharu” yang berarti suci, bersuci atau kebersihan. Sedangkan menurut istilah syara’ thaharah merupakan suatu kegiatan bersuci dari hadats dan najis baik itu hadats besar maupun hadats kecil sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh syariat Islam. Kegiatan bersuci ini bersuci dari pakaian dan tempat.

Thaharah

Thaharah merupakan salah satu kedudukan yang paling utama dalam Islam untuk beribadah. Jika ia sudah memahami tentang thaharah maka mudah baginya untuk beribadah kepada Allah SWT. Seperti melaksanakan shalat harus bersuci terlebih dahulu dengan wudhu atau mandi ataupun tayammum. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Q.S Al-Maidah ayat 6:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فاغْسِلُواْ وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُواْ بِرُؤُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَينِ وَإِن كُنتُمْ جُنُباً فَاطَّهَّرُواْ وَإِن كُنتُم مَّرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاء أَحَدٌ مَّنكُم مِّنَ الْغَائِطِ أَوْ لاَمَسْتُمُ النِّسَاء فَلَمْ تَجِدُواْ مَاء فَتَيَمَّمُواْ صَعِيداً طَيِّباً فَامْسَحُواْ بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُم مِّنْهُ مَا يُرِيدُ اللّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُم مِّنْ حَرَجٍ وَلَـكِن يُرِيدُ لِيُطَهَّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Artinya: ” Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.” (Q.S Al-Maidah:6)

Shalat harus Suci

لَايَقْبَلُ اللهُ الصَّلَاةَ بِغَيْرِ طَهُوْرٍ

Artinya: ” Allah tidak akan pernah menerima shalat yang tidak dengan bersuci.” (H.R Muslim)

Adapun cara melakukan thaharah adalah sebagai berikut:

1. Mandi

Mandi adalah mensucikan diri dari hadats besar dengan membasuh secara merata keseluruh tubuh dengan menggunakan air.

2. Istinja

Istinja adalah membersihkan dan membasuh dubur dan qubul dari najis (kotoran) dengan menggunakan air yang suci lagi mensucikan atau batu yang suci dan benda lainnya yang menempati kedudukan air dan batu, dilakukan ketika kita sudah buang air. Air adalah seutama-utamanya alat bersuci dibandingkan dengan benda lainnya, akan tetapi jika tidak ada air maka boleh menggunakan yang telah disebutkan tersebut.

Batu boleh buat Istinja

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam membolehkan istinja’ dengan menggunakan batu dan benda-benda lain yang dapat membersihkan najis yang keluar dari dubur dan qubul. Seseorang dikatakan suci dengan menggunakan batu dan benda lain yang suci apabila telah hilang najis dan basahnya tempat disebabkan najis, dan batu terakhir atau yang selainnya keluar dalam keadaan suci, tidak ada bekas najis bersamanya.

Beristinja dengan menggunakan batu dan selainnya tidaklah mencukupi kecuali dengan menggunakan tiga batu. Salman al Farizi radhiallahu ‘anhu berkata:

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam melarang kami dari istinja’ dengan menggunakan tangan kanan atau kurang dari tiga batu.” (HR. Muslim)

3. Berwudhu

Wudhu merupakan cara untuk menghilangkan hadats kecil ketika kita akan menunaikan ibadah, seperti shalat, membaca ayat suci Al-Qur’an.

Tata Cara Thaharah

Thaharaoh dalam hukum fiqih itu ada tata caranya. Adapun Tata cara Thoharoh adalah sebagai berikut:

Bersuci Dari Hadats

Hadats adalah suatu kondisi yang menunjukkan badan seorang muslim yang tidak boleh baginya melaksanakan shalat, thawaf, ataupun menyentuh Al-Qur’an. Hadast dibagi menjadi dua macam yakni hadats besar dan hadats kecil.

Hadats besar merupakan suatu kondisi seorang muslim setelah mengeluarkan air mani baik itu karena hubungan badan maupun tidak, berhentinya arah haid atau nifas dan lain sebagainya. Cara bersucinya adalah dengan mandi junub. Sedangkan perbedaan mandi junub dan mandi biasa adalah terletak pada niatnya.

Hadats kecil adalah ketika seseorang tersebut buang air kecil, buang air besar, kentut, dan lain sebagainya. Cara membersihkannya adalah dengan berwudhu ataupun tayammum (bagi yang sedang udzur).

Bersuci Dari Najis

Najis merupakan suatu benda atau zat yang dihukumi kotor dalam pandangan Islam yang biasanya nempel di badan, pakaian, dan tempat. Adapun benda yang tergolong najis adalah kotoran manusia dan hewan, darah nifas, darah haid, air liur anjing, dan lain sebagainya. Cara mensucikannya dengan air yang mengalir dan apabila dalam satu kali basuhan najis tersebut hilang, maka tiedak perlu mengulangnya. Akan tetapi membersihkan air liur anjing terdapat pengecualian, yaitu membasuhnya 7 kali dengan air dan satu kali dengan tanah.

Nah bagi seorang muslim yang telah membersihkan najis tersebut, hendaknya berwudhu jika akan melakukan suatu ibadah, karena dikhawatirkan akan menempelnajis tersebut ketika membersihkannya.

Macam-Macam Thaharah

Adapun macam-macam thaharah adalah sebagai berikut

Macam-Macam Air

a. Air yang suci lagi mensucikan yaitu air yang halal untuk diminum, dan sah digunakan untuk bersuci. Contoh air hujan, air laut, air salju, air embun dan air sungai air mata air dan air telaga.

b. Air suci tapi tidak menyucikan yaitu air halal yang untuk diminum akan tetapi tidak sah untuk bersuci. Contoh air kopi, air teh, air kelapa, dan air yang keluar dari pepohonan.

c. Air Mutanajis adalah air yang terkena najis, contoh air yang sudah berubah warnannya, baunya, dan rasanya, karena terkena najis. atau air yang kurang dari dua kulah sudah terkenal najis, walaupun tidak berubah warna, bau dan rasanya, akan tetapi air tersebut tetap dikatakan air mutanajis.

d. Air Musyammas adalah air yang terjemur atau terkena panas matahari dalam bejana. Selain bejana emas dan perak, air ini makruh dipakai untuk bersuci.

e. Air Mustakmal adalah air yang telah digunakan untuk bersuci walapun tidak berubah warnanya. Akan tetapi airini tidak boleh digunakan untuk bersuci karena dikhawatirkan terkena najis sehingga dapat menganggu kesehatan.

Demikianlah penjelasan mengenai Pengertian Thaharah, Tata Cara dan Macamnya. Semoga dapat bermanfaat. Terimakasih.