Kultum Tentang Keikhlasan Dan Menghadirkan Niat kedua

Kultum Tentang Keikhlasan Dan Menghadirkan Niat kedua – Sebelumnya kami sudah sampaikan tentang: Kultum Keikhlasan Dan Menghadhirkan Niat, Pada kesempatan kali ini Dutadakwah akan menyampaikan Kultum Ramadhan Tentang Menghadirkan Niat Bagian kedua dia awali dari masalah Keikhlasan dan menghadirkan Niat.

Kultum Tentang Keikhlasan Dan Menghadirkan Niat kedua

Untuk lebih detailnya silahkan baca ulasan Duta Dakwah dibawah ini dengan seksama.

Materi Kultum Bagian kedua

بسم الله الرّحمن الرّحيم السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ 

الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ أَشْرَافِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ

Segala Puji bagi Allah Tuhan seru sekalian ‘alam, Shalawat dan salamullah semoga tetap terlimpah ruahkan ke haribaan Nabi agung Muhammad saw, keluarga dan shahabatnya semua, Amiin…
Ma’asyirol Muslimin wal-muslimat Rahimakumullah sebagaimana pada materi Kultum pertama sudah disampaikan bahwa: Kita diperintahkan untuk mengabdi kepada Allah dengan niat yang tulus ikhlas dalam menjalankan agama untuk Allah.

Dan Sebagaimana dalam hadits nabi bahwa: barangsiapa yang hijrahnya itu kepada Allah dan RasulNya, maka hijrahnya itupun kepada Allah dan RasulNya. Dan barangsiapa yang hijrahnya itu untuk harta dunia yang hendak diperolehinya, ataupun untuk seorang wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnyapun kepada sesuatu yang dimaksud dalam hijrahnya itu. Itulah arti niat.

Perbuatan yang Niatnya Keliru

Jadi setiap perbuatan yang niatnya keliru, sekalipun pebuatan itu terlihat bagus maka pahala perbuatan tersebut kosong. Lain sekali dengan sahabat-sahabat beliau s.a.w. yang dengan keikhlasan hati bersusah payah menempuh jarak yang demikian jauhnya untuk menyelamatkan keyakinan kalbunya, pahalanya pun besar sekali kerana hijrahnya memang dimaksudkan untuk mengharapkan keridhaan Allah dan RasulNya. Sekalipun datangnya Hadis itu mula-mula tertuju pada manusia yang salah niatnya ketika ia mengikuti hijrah, tetapi sifatnya adalah umum. Para imam mujtahidin berpendapat bahwa sesuatu amal itu dapat sah dan diterima serta dapat dianggap sempurna apabila disertai niat. Niat itu ialah sengaja yang disembunyikan dalam hati, ialah seperti ketika mengambil air sembahyang atau wudhu’, mandi shalat dan lain-lain sebagainya.

Perlu pula kita maklumi bahawa barangsiapa berniat mengerjakan suatu amalan yang bersangkutan dengan ketaatan kepada Allah ia mendapatkan pahala. Demikian pula jikalau seseorang itu berniat hendak melakukan sesuatu yang baik, tetapi tidak jadi dilakukan, maka dalam hal ini orang itupun tetap juga menerima pahala. Ini berdasarkan Hadis yang berbunyi:

“Niat seseorang itu lebih baik daripada amalannya.”

Maksudnya: Berniatkan sesuatu yang tidak jadi dilakukan sebab adanya halangan yang tidak dapat dihindarkan itu adalah lebih baik daripada sesuatu kelakuan yang benar-benar dilaksanakan, tetapi tanpa disertai niat apa-apa.

Perbedaan Menetapkan wajibnya niat

Hanya saja dalam menetapkan wajibnya niat atau tidaknya, agar amalan itu menjadi sah, maka ada perselisihan pendapat para imam mujtahidin. Imam-imam Syafi’i, Maliki dan Hanbali mewajibkan niat itu dalam segala amalan, baik yang berupa wasilah yakni perantaraan seperti wudhu’, tayammum dan mandi wajib, atau dalam amalan yang berupa maqshad (tujuan) seperti shalat, puasa, zakat, haji dan umrah. Tetapi imam Hanafi hanya mewajibkan adanya niat itu dalam amalan yang berupa maqshad atau tujuan saja sedang dalam amalan yang berupa wasilah atau perantaraan tidak diwajibkan dan sudah dianggap sah.

Amalan yang berdiri sendiri

Adapun dalam amalan yang berdiri sendiri, maka semua imam mujtahidin sependapat tidak perlunya niat itu, misalnya dalam membaca al-Quran, menghilangkan najis dan lain-lain.

Selanjutnya dalam amalan yang hukumnya mubah atau jawaz (yakni yang boleh dilakukan dan boleh pula tidak), seperti makan-minum, maka jika disertai niat agar kuat beribadat serta bertaqwa kepada Allah atau agar kuat bekerja untuk bekal dalam melakukan ibadat bagi dirinya sendiri dan keluarganya, tentulah amalan tersebut mendapat pahala, sedangkan kalau tidak disertai niat apa-apa, misalnya hanya supaya kenyang saja, maka kosonglah pahalanya.

وَعَنْ أُمِّ الْمُؤْمِنِيْنَ أُمُّ عَبْدِ اللهِ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ‏:‏ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏:‏ ‏”‏يَغْزُوْ جَيْشٌ الْكَعْبَةَ فَإِذَا كَانُوْا بِبَيْدَاءٍ مِنَ الْأَرْضِ يُخْسَفُ بِأَوَّلِهِمْ وَآخِرِهِمْ‏”‏‏. قَالَتْ‏:‏ قُلْتُ‏:‏ يَارَسُوْلَ اللهِ، كَيْفَ يُخْسَفُ بِأَوَّلِهِمْ وَآخِرِهِمْ وَفِيْهِمْ أَسْوَاقُهُمْ وَمَنْ لَيْسَ مِنْهُمْ‏‏؟‏ قَالَ‏:‏ ‏”‏يُخْسَفُ بِأَوَّلِهِمْ وَآخِرِهِمْ، ثُمَّ يُبْعَثُوْنَ عَلَى نِيَاتِهِمْ‏”‏ ‏(‏‏(‏متفق عليه‏.‏ هذا لفظ البخاري‏)‏‏)‏‏.‏

Dari Ummul mu’minin iaitu ibunya – sebenarnya adalah bibinya – Abdullah yakni Aisyah radhiallahu ‘anha, berkata: Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Ada sepasukan tentera yang hendak memerangi – menghancurkan – Ka’bah, kemudian setelah mereka berada di suatu padang dari tanah lapang lalu dibenamkan-dalam tanah tadi -dengan yang pertama sampai yang terakhir dari mereka semuanya.”

Aisyah bertanya: “Saya berkata, wahai Rasulullah, bagaimanakah semuanya dibenamkan dari yang pertama sampai yang terakhir, sedang di antara mereka itu ada yang ahli pasaran – maksudnya para pedagang – serta ada pula orang yang tidak termasuk golongan mereka tadi – yakni tidak berniat ikut menggempur Ka’bah?” Rasulullah s.a.w. menjawab: “Ya, semuanya dibenamkan dari yang pertama sampai yang terakhir, kemudian nantinya mereka itu akan  dibangkitkan dari masing-masing kuburnya – sesuai niatnya sendiri-sendiri untuk diterapkan dosa atau tidaknya.

Disepakati atas Hadis ini (Muttafaq ‘alaih) – yakni disepakati keshahihannya oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim – Lafaz di atas adalah menurut Imam Bukhari.

Gelar Ummul mu’minin

Keterangan: Sayyidah Aisyah diberi gelar Ummul mu’minin, yakni ibunya sekalian orang mu’min sebab beliau adalah isteri Rasulullah s.a.w., jadi sudah sepatutnya. Beliau juga diberi nama ibu Abdullah oleh Nabi s.a.w., sebenarnya Abdullah itu bukan puteranya sendiri, tetapi putera saudarinya yang bernama Asma’. Jadi dengan Sayidah Aisyah, Abdullah itu adalah anak tiri nya. Adapun beliau ini sendiri tidak mempunyai seorang putera pun.

Kesimpulan:

Dari uraian yang tersebut dalam Hadis ini, dapat diambil kesimpulan bahawa seseorang yang shalih, jika berdiam di lingkungan suatu golongan yang selalu berkecimpung dalam kemaksiatan dan kemungkaran, maka apabila Allah Ta’ala mendatangkan adzab atau siksa kepada kaum itu, orang shalih itu pun pasti akan terkena pula. Jadi Hadits ini mengingatkan kita semua agar jangan sekali-kali bergaul dengan kaum yang ahli kemaksiatan, kemungkaran dan kezaliman.

Namun demikian perihal amal perbuatannya tentulah dinilai sesuai dengan niat yang terkandung dalam hati orang yang melakukannya itu.

Mengenai gelar Ummul mu’minin itu bukan hanya khusus diberikan kepada Sayidah Aisyah radhiallahu ‘anha belaka, tetapi juga diberikan kepada para isteri Rasulullah s.a.w. yang lain-lain.

Hadirin Hadirot yang berbahagia, materi kita masih bersambung ke materi Kultum berikutnya, namun pada akhir materi di kesempatan kali ini untuk lebih memaksimalkan niat dalam hati kita, maka alangkah baiknya niat itu diucapkan tidak cukup dalam hati saja apalagi seperti Puasa Ramadhan dan bahkan dalam madzhab Syafi’i melafadzkan niat itu hukumnya sunnah.

Dan inilah contoh lafadz niat puasa Ramdhan :

بسم الله الرّحمن الرّحيم: نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ الشَّهْرِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَّةِ فَرْضًا لِلَّهِ تَعَالى

Artinya: Dengan Nama Allah yang maha Pengasih lagi maha Penyayang : Saya niat berpuasa besok untuk menunaikan puasa fardu bulan ini yaitu bulan ramadhan tahun ini fardhu karena Allah ta’ala.

Demikian yang dapat kami sampaikan semoga berman fa’at. Kurang dan lebihnya saya mohon ma’af kepada hadhirin sekalian, di akhir Kultum ini kami ucapkan:

وَالْعَفْوُ مِنْكُمْ ثُمَّ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ

Demikian ulasan : Kultum Tentang Keikhlasan Dan Menghadirkan Niat kedua Semoga dapat memberikan manfaat untuk kita dan para hadirin sekalian. Kultum ini masih bersambung ke Kultum Tentang Mengerjakan taubat itu hukumnya wajib di Bagian Tiga .Terimakasih.