√ Allah Mengangkat Derajat Orang Beriman & Berilmu

Allah Mengangkat Derajat Orang Beriman & Berilmu – Pada kesempatan ini Duta Dakwah akan membahas tentang Tingkatan Iman. Yang mana dalm hal ini membahas beberapa tingkatan iman menurut pandangan islam dengan secara singkat dan jelas. Untuk lebih jelasnya silahkan simak ulasan berikut ini dengan seksama.

Allah Mengangkat Derajat Orang Beriman & Berilmu

Orang yang beriman dan orang yang beilmu pasti oleh Allah diangkat derajatnya sebagaimana Allah SWT. berfirman dalam surat Al Mujadalah ayat 11 :

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ 

Artinya: “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”

 

Dalam ayat di atas ditunjukkan bahwa Allah meninggikan orang-orang beriman yang tentunya memiliki ilmu pengetahuan. Orang beriman tentu adalah mereka yang meyakini Allah sebagai Illah dan segala bentuk informasi juga aturannnya tentu menjadi bagian dari keimanan islam. Berikut adalah penjelasan mengenai tingkatan iman dalam islam.

Iman Manusia Turun Naik

Iman seseorang terkadang naik terkadang juga turun, sebagaimana diterangkan kumopulan Salaf dalam Kita Tanqih:

وَقَدْ أَجْمَعَ السَّلَفُ عَلَى أَنَّ الْإِيْمَانَ يَزِيْدُ وَيَنْقُصُ، وَزِيَادَتُهُ بِالطَّاعَاتِ وَنُقْصَانُهُ بِالْمَعَاصِي 

Para Salaf telah ijmak bahwa Iman itu bisa bertambah dan bisa juga berkurang, bertambahnya iman itu sebab tho’at, adapun berkurangnya iman itu karena sebab maksiyat.

Nabi SAW bersabda tertulis dalam Kitab Tanqih:

وَقَالَ صلى الله عليه وسلم: الْإِيْمَانُ لَا يَزِيْدُ وَلَا يَنْقُصُ وَلِكنْ لَهُ حَدٌّ

Dan Nabi SAW bersabda: Iman itu tidak boleh berlebih dan tidak boleh juga berkurang, akan tetapi ia harus tetap ada pada batasannya.

Allah berfirman dalam al-quran surat Yusuf ayat 53:

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلاَّ مَا رَحِمَ رَبِّيَ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Artinya: “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Baca Juga :  √ Pengertian Mukjizat, Karomah, Maunah, Irhas, Contoh & Dalilnya

Dalam ayat di atas dijelaskan bahwa keimanan seseorang dapat naik dan turun. Ayat ini berkenaan dengan sejarah Nabi Yusuf di zaman dulu. Setiap manusia memiliki hawa nafsu yang dapat mendorong pada perbuatan buruk namun juga bisa dikendalikan dengan adanya akal yang bisa mempertimbangkan baik dan buruk.

Adanya hawa nafsu ini membuat keimanan kita tentu bisa fluktuatif, yaitu naik atau turun. Hawa nafsu dan juga bisikan setan terus menerus membisikkan pada manusia, sehingga manusia tidak selalu dalam kondisi ideal. Jika hawa nafsu dan bisikan setan ini diikuti terus menerus maka akan membuat manusia semakin terpuruk, bahkan keimanannya dapat rapuh bahkan hilang.

Tidak ada iman manusia yang selalu stabil dan dalam kondisi yang terus menerus baik. Hakikatnya manusia memiliki hawa nafsu, pasti akan ada dimana iman dalam kondisi lemah. Akan tetapi, orang yang benar-benar beriman akan tau atau sadar bahwa keimanannya sedang menurun dan akan mencari jalan untuk terus menerus memperbaiki keimanannya.

Keimanan sebagaimana tumbuhan yang dapat layu dan berkembang. Tergantung bagaimana kita memupuknya. Untuk itu keimanan harus benar-benar dipupuk. Pupuk dari keimanan adalah pengetahuan, penghayatan, dan pengalaman taqwa kepada Allah SWT.

 Iman Para Rasul Allah adalah Teladan

Rasul adalah teladan bagi umat islam. Untuk itu, mengenai masalah keimanan kita pun juga bisa meneladani rasul, sebab Rasul adalah tuntunan dari umat islam.Bentuk mengikuti dan mengimani Rasul, adalah mengikuti sunnahnya.

Berikut adalah bentuk keimanan dari para Rasul-Rasul Allah sebagaimana Rasul-Rasul Allah selalu mengikuti apa kata Allah melalui wahyu-Nya.

Dalam QS. Al-Anfal ayat 2 Allah berfirman:

 إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, hati mereka gemetar, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabbnya mereka bertawakkal.”

Rasul-rasul Allah senantiasa mengikuti apa yang Allah berikan perintah-Nya. Untuk itu, keimanannya diwujudkan dengan meneriman dan mengamalkan aturan islam tanpa terkecuali. Baik susah ataupun bahagia perintah Allah dijalankan dengan keikhlasan.

Baca Juga :  Cabang Iman Dan Cabang Kekufuran Dalam Akidah

Mengenai masalah keimanan, umat islam dapat juga mengetahui tentang hal-hal berikut ini, agar semakin memperkuat keimanan.

Berjuang Menegakkan Aturan Allah

Sebagaimana dalam QS. Al-Hujurat ayat 15 yaitu:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُوْلَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ 

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah orang-orang yang hanya beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.”

Rasul-Rasul Allah senantiasa mengikuti aturan Allah bahkan memperjuangkannya untuk dapat tegak islam di muka bumi. Bentuk keimanan mereka dilakukan dengan berjihad dengan harta dan jiwa agar bisa memberikan yang terbaik untuk islam.

Mau Berkorban Demi Tegaknya Islam dengan Harta dan Jiwa

Dalam hadits Nabi menjelaskan yaitu,

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ فَإِذَا فَعَلُوا عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّهَا وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ

Artinya: Bersabda Rasulullah SAW “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Allah dan bahwa Muhammad utusan Allah, mereka mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Maka apabila mereka melakukan hal tersebut, maka sungguh mereka telah menjaga harta dan jiwanya dari (seranganku), kecuali disebabkan hak Islam. Dan hisab mereka diserahkan kepada Allah.” (Hadits Muslim Nomor 33)

Berkorban demi islam harta dan jiwa adalah bentuk keimanan yang tertinggi. Artinya pernyataan keimanan bukan hanya berhenti di ucapan melainkan sampai bentuk pengorbanan dan perjuangan islam di muka bumi. Untuk itu, tingkatan iman seseorang yang sudah sampai seperti itu sangat kuat jika dilakukan konsisten hingga akhir hayat. Tentu saja dengan cataran motifnya lurus karena Allah semata.

Orang Beriman Mencintai Akhirat

Sebagaimana dijelaskan dalam Surat Al-An’am Ayat 32 yaitu,

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَلَلدَّارُ الآخِرَةُ خَيْرٌ لِّلَّذِينَ يَتَّقُونَ أَفَلاَ تَعْقِلُونَ

Artinya: “Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?.”

Orang-orang yang beriman akan senantiasa mencintai akhirat daripada dunia. Untuk itu, bentuk perilakunya adalah mereka senantiasa menjaga diri agar tidak terlena dengan gemerlap dan kebahagiaan di dunia. Sedangkan fokus mereka adalah untuk menuju akhirat. Namun bukan berarti dalam kehidupannya di dunia ia dalam kesulitan atau kemiskinan, namun ia menjadikan potensi diri, harta atau apapun yang dimiliki adalah sebagai langkah menuju akhirat.

Baca Juga :  Sebab Lemahnya Iman Dalam Diri Seorang Muslim

وَمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

Artinya: “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (QS. Al-Ankabut ayat 64)

Untuk itu, tujuan dari kehidupan orang-orang yang beriman adalah kembali ke akhirat dengan bekal pahala dan segudang karya saat di dunia. Hal ini yang ia persembahkan sebagai bukti perjuangan-nya, kelak dimintai pertanggungjawbaan di akhirat.

إِنَّمَا الحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَإِن تُؤْمِنُوا وَتَتَّقُوا يُؤْتِكُمْ أُجُورَكُمْ وَلَا يَسْأَلْكُمْ أَمْوَالَكُمْ

Artinya : “Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman serta bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu.” (QS. Muhammad Ayat 36)

Sebagaimana ayat diatas, maka kehidupan orang beriman akan menjadikan hartanya yang tunduk kepada mereka bukan malah sebaliknya mereka yang tunduk kepada harta.

Untuk menghitung kualitas iman, tentu manusia akan sulit bahkan hampir tidak bisa. Apalagi menghitung keimanan orang lain. Untuk itu, hanya Allah sajalah yang mengetahui kualitasnya. Manusia hanya bisa mengevaluasi dirinya, saling mengingatkan, bukan menjudge atau bahkan memberikan penghakiman atas keimanan seorang muslim. Kecuali bagi mereka yang jelas-jelas mengklaim dirinya sebagai seorang kafir dan tidak percaya akan Allah SWT.

Demikian ulasan tentang Tingkatan Iman Menurut Pandangan Islam. Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan untuk kita semua. Terimakasih.