√ Puasa Tarwiyah, Niat Puasa Hukum dan Pahalanya (Lengkap)

Puasa Tarwiyah, Niat Puasa Hukum dan Pahalanya (Lengkap) – Pada kesempatan kali ini kami Duta Dakwah akan menerangkan tentang Puasa Tarwiyah yakni Puasa tanggal delapan Dzul-Hijjah. Sehubungan dengan perihal tersebut mungkin ada baiknya jika kami terangkan hukum dan pahalnya.

Puasa Tarwiyah, Niat Puasa Hukum dan Pahalanya (Lengkap)

Untuk lebih jelasnya mari kita ikut bersam penjelasan Dutadakwah berikut ini:

Mukodimah

السّلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الْحَمْدُ للهِ الَّذِي عَلَّمَ الْقُرْآنَ , وَ خَلَقَ الْاِنْسَانَ , وَ عَلَّمَهُ الْبَيَانَ اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ،  أَمَّا بَعْدُ

Puji Syukur senantiasa kita panjatka ke hadhirat Allah SWT, Sholawat dan Salam semoga tetap terlipahkan ke haribaan Nabi kita Muhammad SAW.

Hari Tarwiyah

Hari Tarwiyah adalah hari kedelapan DDzul-Hijjah. Hari Tarwiyah berhubungan dengan peristiwa yang dialami Nabi Ibrahim A.S. yang bermimpi diperintah Allah untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail AS. Pada hari itu iatu hari ke-8 DDzul-Hijjah, beliau merenung dan berpikir menganai takwil mimpi menyembelih putra yang menjadi kesayangannya. Asala kata Tarwiyah adalah: (rawwa-yurawwi-Tarwiyahn, Tarwiyahtan) dalam kata “Tarwiyahtan” kemudiann disukun huruf akhir iaitu ta marbuthoh atau Ha Taknits maka menjadi kata: “Tarwiyah”. Lalu kemudiann Pada hari ke-9, beliau mendapatkan takwil mimpi yang membuatnya tahu, (yang dalam bahasa arabnya adalah: ‘arafatun) atau “’Arofah” yakni tau akan makna mimpi tersebut, sehingga disebut dengan Hari Arafah. Kemudiann pada hari kesepuluhnya, beliau melaksanakan perintah dalam mimpi itu, yakni menyembelih putranya, maka disebut hari Nahr.

Hukum Puasa Tarwiyah

Puasa Tarwiayah hukumnya adalah sunnah, sebab hari Tarwiyah itu adalah hari sepuluh pertama dari bulan Dzul-hijjah. Bulan Dzul-hijjah adalah bulan harom yakni bulan yang dimuliakan. Dan pada bulan-bulan harom itu dianjurkan untuk puasa sunah kecuali ada ‘udzur. Adapun beberapa keterangan tentang sunnahnya puasa di bulan-bulan harom adalah sebagai berikut.

Puasa Sunnah Bulan Harom

Puasa pada bulan-bulan harom itu disunahka, apakah yang dimaksudkan dengan bulan harom? bula horom artinya bulan mulia, jadi bulan-bulan muharom maksudnya adalah bulan-bulan yang dimuliakan, misalnya bulan Dzul-qo’dah, Dzul-Hijjah dan bulan Muharom, itu adalah bulan yang dimuliakan, adapun dalil-dalil puasa sunnah pada bulan yang dimuliakan diaantaranya adalah sebagai berikut:

Dalil Puasa di Bulan Harom

Dalil yang menerang sunahnya puasa di bulan-bulan yang mulia (bulan al-Muharrom) itu banyak kita temukan di berbagai kitab hadits dan fiqih secara umum diantaranya adalah:

Dalil Pertama Puasa di Bulan Harom:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ، قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم: أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ ، رَوَاهُ مُسلِمٌ

Artinya: Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Seutama-utama berpuasa sesudah bulan Ramadhan ialah puasa dalam bulan Allah yang dimuliakan – yakni Muharram – dan seutama-utama shalat sesudah shalat wajib ialah sholiatullail – yakni sholat sunnah di waktu malam.” (Riwayat Muslim) Kutipan dari Kitab Riyadhus Sholihin

Baca Juga :  Macam-Macam Ibadah Ditinjau Dari Berbagai Segi Lengkap

Dalil Kedua Puasa di Bulan Harom

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنهَا قَالَتْ: لَمْ يَكُنْ النَّبِيُّ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ، وَفِيْ رِوَايَةٍ: كَانَ يَصُوْمُ شَعْبَانَ إِلَا قَلِيْلاً. مُتَّفّقٌ عَلَيهِ

Artinya: Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Tidak pernah Nabi s.a.w. itu berpuasa dari sesuatu bulan lebih banyak daripada Sya’ban, kerana beliau s.a.w. itu berpuasa dalam bulan Sya’ban itu seluruhnya.” “Dalam suatu riwayat disebutkan: “Beliau s.a.w. itu berpuasa dalam bulan Sya’ban, melainkan sedikit sekali yang tidak – yakni sebahagian besar dalam bulan ini dipuasai.” (Muttafaq ‘alaih) Kutipan dari Kitab Riyadhus Sholihin

Dalil Ketiga Puasa di Bulan Harom

وعن مجِيبَةَ البَاهِلِيَّةِ عَنْ أَبِيهَا أَوْ عمِّها، أَنَّهُ أَتى رَسولَ اللَّه ﷺ، ثُمَّ انطَلَقَ فَأَتَاهُ بعدَ سَنَة، وَقَد تَغَيَّرتْ حَالهُ وَهَيْئَتُه، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَمَا تعْرِفُنِي؟ قَالَ: وَمَنْ أَنتَ؟ قَالَ: أَنَا البَاهِلِيُّ الَّذِي جِئْتُكَ عَامَ الأَوَّلِ. قَالَ: فَمَا غَيَّرَكَ، وقَدْ كُنتَ حَسَنَ الهَيئةِ؟ قَالَ: مَا أَكلتُ طَعَامًا مُنْذُ فَارقْتُكَ إِلاَّ بلَيْلٍ. فَقَال رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: عَذّبْتَ نَفسَكَ، ثُمَّ قَالَ: صُمْ شَهرَ الصَّبرِ، وَيَومًا مِنْ كلِّ شَهر قَالَ: زِدْني، فإِنَّ بِي قوَّةً، قَالَ: صُمْ يَوميْنِ قَالَ: زِدْني، قَالَ: صُمْ ثلاثَةَ أَيَّامٍ قالَ: زِدْني. قَالَ: صُمْ مِنَ الحُرُمِ وَاتْرُكْ، صُمْ مِنَ الحرُم وَاترُكْ، صُمْ مِنَ الحرُمِ وَاتْرُكُ وقالَ بِأَصَابِعِهِ الثَّلاثِ فَضَمَّهَا، ثُمَّ أَرْسَلَهَا. رواه أَبُو داود

Artinya: Dari Mujibah al-Bahiliyah dari ayahnya atau dari pamannya – yakni saudara lelaki dari ayahnya, bahawasanya ia – ayah atau pamannya itu – mendatangi Rasulullah s.a.w. kemudiann pergi lagi. Selanjutnya ia mendatangi Rasulullah s.a.w. lagi sesudah setahun, tetapi hal-ihwal serta keadaan tubuhnya telah berubah. ia lalu berkata: “Ya Rasulullah, apakah Tuan tidak mengenal lagi kepada saya?” Beliau s.a.w. bertanya: “Siapakah engkau?” ia menjawab: “Saya adalah al-Bahili yang datang pada Tuan tahun yang lalu.” Beliau s.a.w. lalu bersabda: “Apakah yang menyebabkan perubahan dirimu, padahal engkau dahulu baik sekali keadaan tubuhmu?” ia menjawab: “Saya tidak pernah makan sesuatu makanan sejak saya berpisah dengan Tuan dahulu, melainkan di waktu malam. Maka Rasulullah s.a.w. lalu bersabda: “Kalau begitu, engkau telah menyiksa dirimu sendiri,” kemudiann beliau s.a.w. melanjutkan sabdanya: “Berpuasalah dalam bulan Shabar – yakni bulan Ramadhan – dan sehari saja dalam setiap bulan lainnya.” ia berkata: “Tambahkanlah itu untuk saya, sebab sesungguhnya saya masih ada kekuatan lebih dari itu.” Beliau s.a.w. bersabda: “Berpuasalah dua hari.” ia berkata: “Tambahkanlah!” Beliau s.a.w. bersabda: “Berpuasalah tiga hari.” ia berkata: “Tambahkanlah!” Beliau s.a.w. bersabda: “Berpuasalah bulan-bulan mulia – iaitu Rajab, Dzulqa’dah, DDzul-Hijjah dan Muharram – dan tinggalkanlah, berpuasalah dari bulan-bulan mulia dan tinggalkanlah, berpuasalah dari bulan-bulan mulia dan tinggalkanlah.” Beliau s.a.w. bersabda demikian dengan menunjukkan tiga buah jari-jarinya lalu mengumpulkannya dan kemudiann membukanya – maksudnya tiga hari puasa lalu tiga hari tidak dan demikian seterusnya. (Riwayat Abu Dawud) Kutipan dari Kitab Riyadhus sholihin

Baca Juga :  √ Pengertian Harta dan 10 Jenis Harta Dalam Islam (Lengkap)

Dalil Keempat Puasa di Bulan Harom

عَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ، قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم: مَا مِنْ أَيَّامِ الْعَمَلِ الصَّالِحِ فِيْهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ، يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوْا: يَا رَسُول اللَّهِ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللَّهِ؟ قَالَ: وَلَا الْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللَّهِ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ،  رَوَاهُ البُخَارِيُّ

Artinya: Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:  “Tidak ada hari-hari yang mengerjakan amalan shalih pada hari-hari itu yang lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini,” yakni hari-hari sepuluh – yang pertama dari Dzul-Hijjah. Para sahabat berkata: “Ya Rasulullah, apakah juga tidak lebih dicintai oleh Allah guna mengerjakan jihad fi-sabilillah?” maksudnya: Untuk mengerjakan jihad, apakah tidak lebih dicintai oleh Allah kalau dilakukan dalam hari-hari selain hari-hari pertama dari bulan Dzul-Hijjah itu.  Beliau s.a.w. menjawab: “Tidak lebih dicintai oleh Allah pada hari-hari selain hari-hari sepuluh itu untuk berjihad fi-sabilillah, kecuali seseorang yang keluar dengan dirinya dan hartanya, kemudiann tidak kembali dengan membawa sesuatu apa pun dari yang tersebut – yakni setelah berjihad lalu mati syahid. (Riwayat Bukhari)

Jumlah Bula-bulan Harom

Sebagaiman diterangkan dalam beberapa keterangan perihal bulan al-muharrom yakni bulan yang dimuliakan, seperti yang kami kutip dari kitab Madzahibul-Arba’ah diantaranya adala sebagai berikut:

Diantara puasa yang dianjurkan lainnya adalah puas bulan harom, lalu kemudiann apa yang dimaksudkan dengan bulan harom? Jawabannya kami kutip berikut ini:

أَمَّا الْأَشْهُرُ الْحُرُمِ وَهِيَ أَرْبَعٌ : ثَلَاثَةٌ مُتَوَالِيَّةٌ. وَهِيَ ذُوْ الْقَعْدَةِ  وَذُوْ الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ، وَوَاحِدٌ مُنْفَرِدٌ. وَهُوَ رَجَبُ، فَإِنَّ صِيَامَهَا مَنْدُوْبٌ عِنْدَ ثَلَاثَةِ مِنَ الْأَئِمَةِ. وَخَالَفَ الْحَنَفِيَّةُ

Artinya: Adapun bulan-bulan harom itu adalah yang termasuk bulan yang empat, tiga bulan berturut-turut, iaitu: Dzul-Qo’dah, Dzul-Hijjah dan Muharom. Kemudiann yang satu bulannya lagi itu terpencil iaitu bulan Rajab, Maka sesungguhnya puasa pada bulan tersebut itu dianjurkan menurut tiga Imam (iatu Imam Maliki, Syafi’i dan Hambali) kecuali Hanafi. Kutipan dari Kita Madzahibul Arba’ah Jilid 1 halaman 431 Bab Shaumu Rojab wa Sya’ban wa Baqiyatil-Asyhuril-harom.

Kaum Muslimin saudarku semua yang dirahmati Allah kami tidak pajang lebar membahas perihal ini, pada intinya adalah: “Bagi saudaraku yang mau menunaikanya (puasa Tarwiyah) maka kerjakanlah karena memang itu dianjurkan bagi yang sedang ada ‘udzur, kemudian bagi yang tidak mau, mohon jangan mengganggu saudaranya yang ingin menunaikannya. Mohon untuk tetap dijaga keharmonisan kita ummat islam yang bersaudara”

Pahala Puasa Tarwiyah

Mengenai Pahala puasa Tarwiyah mari kita serahkan saja kepada Allah, dan nanti kita akan terima pahala itu di akhirat, yang pasti kita semua tau bahwa sekecil apapun kebaikan yang kita amalkan pasti ada balasannya, juga sekecil apapun keburukan yang kita lakukan itu juga akan terlihat akibatnya, kita semua bermohon kepada Allah mudah-mudahan dengan kasih sayng-Nya, segala keburukan kita akan ditutupi oleh Allah karena kabaikan kita amiin.

Baca Juga :  Inilah Alasan Mengapa Kita Harus Belajar Bahasa Arab

Adapun Motivasinya adalah sebagau berikut

وَفِيْ الْخَبَرِ: مَا مِنْ أَيَّامِ الْعَمَلِ فِيْهِنَّ أَفْضَلُ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مَنْ أَيَّامِ عَشْرِ ذِيْ الْحِجَّةِ إِنَّ صَوْمَ يَوْمٍ مِنْهُ يَعْدِلُ صِيَامَ سَنَةٍ وَقِيَامَ لَيْلَةٍ مِنْهُ تَعْدِلُ قِيَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ، قِيْلَ : وَلَا الْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ تَعَالَى؟ قَالَ : وَلَا الْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ ، إِلَّا مَنْ عَقَرَ جَوَادَهُ وَأَهْرِيْقَ دَمُهُ، أخرجه الترمذي وابن ماجه من حديث أبي هريرة

Artinya: “Tidak ada hari-hari amal yang lebih utama dan lebih dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla dari pada sepuluh hari bulan DDzul-Hijjah. Sesungguhnya puasa satu hari dari padanya itu mengimbangi puasa satu tahun. Dan Mendirikan satu malam dari padanya mengimbangi mendirikan malam Lailatul Qadr. Ditanyakan? Tidak jihad dijalan Allah Ta ‘ala?” Beliau bersabda: “Tidak jihad dijalan Allah “Azza wa jalla kecuali orang yangkudanya terpotong kakinya dan dialirkan darahnya.(HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dari hadits Abu hurairaoh) Kutipan dari  Ihya Ulumuddin Fasal fi Tathowu’i bi shiyam.

Niat Puasa Tarwiyah

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ،  بسم الله الرّحمن الرّحيم، نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ يَوْمَ تَرْوِيَةْ لِلّٰهِ تَعَالَى

A’udzu billahi minasy-syaithonir rojiym. Bismilahir rohmanir rohim. Nawaitu Shauma Ghodin Yauma Tarwiyah Lillahi ta’ala

Artinya: Aku Berlindung kepada Allah dari Godaan Syetan yang terkutuk. Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. “Aku Niat Puasa besok pagi pada hari Tarwiyah karena Allah Ta’ala”

Niat Sahur

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ،  بسم الله الرّحمن الرّحيم، نَوَيْتُ بِأَكْلِيْ سُنَّةً سَحُوْرِ لِلّٰهِ تَعَالَى

A’udzu billahi minasy-syaithonir rojiym. Bismilahir rohmanir rohim. Nawaitu Bi-Akliy Sunatan Sahur Lillahi ta’ala

Artinya: Aku Berlindung kepada Allah dari Godaan Syetan yang terkutuk. Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. “Aku Niat dengan makanku ini untuk mendapatkan sunahnya sahur karena Allah Ta’ala”

 

Doa Buka Puasa Tarwiyah

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ،  بسم الله الرّحمن الرّحيم،  اَللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ

A’udzu billahi minasy-syaithonir rojiym. Bismilahir rohmanir rohim. Allahumma lakasumtu wabika aamantu wa’alaa rizqika afthortu birohmatika yaa arhamar roohimiin

Artinya: Aku Berlindung kepada Allah dari Godaan Syetan yang terkutuk. Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. “Ya Allah keranaMu aku berpuasa, dengan Mu aku beriman, kepadaMu aku berserah dan dengan rezekiMu aku berbuka (puasa Tarwiyah), dengan rahmat Mu, Ya Allah Tuhan yang Maha Pengasih.

Puasa Tarwiyah
Puasa Tarwiyah

Demikian ulasan kami tentang : Puasa Tarwiyah, Niat Puasa Hukum dan Pahalanya (Lengkap) – Semoga dapat memberikan manfaat untuk kita semua. Terimakasih atas kunjungannya.

بِاللهِ التَّوْفِيْقُ وَالْهِدَايَةُ و الرِّضَا وَالْعِنَايَةُ ثُمَّ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ