√ Perbedaan Hadist Shahih, Dhaif, Hasan Beserta Pengertian, Ciri & Jenisnya

Perbedaan Hadist Shahih, Dhaif, Hasan Beserta Pengertian, Ciri & Jenisnya – Sumber hukum dalam Islam ada 2 yakni Al-Qur’an dan Hadits, pada kesempatan kali ini Dutadakwah akan memberikan penjelasan mengenai perbedaan hadits shahih, dhaif, hasan, pengertian, ciri dan jenisnya.

Hadist sendiri merupakan suatu perkataan atau perbuatan Rasulullah Saw yang dapat dijadikan sebagai panutan. Sedangkan hadits dalam Islam dibagi menjadi 3, yakni hadits shahih, dhaif, dan hasan. Untuk itu, langsung saja kita simak penjelasannya sebagai berikut:

Perbedaan Hadist Shahih, Dhaif, Hasan Beserta Pengertian, Ciri & Jenisnya

Berikut ini adalah penjelasan mengenai hadits shahih, dhaif dan hasan:

1. Hadits Shahih

a. Pengertian Hadits Shahih

Hadits shahih berasal dari kata  الصحيخ yang berarti sehat, tanpa cacat. Sehingga hadits shahih merupakan hadits yang berasal dari orang yang dipercaya dan tidak ada keraguan di dalamnya.

هو ما اتصل سنده بنكل العدل الضابط ضبطا كاملا عن مثله وخلا ممن الشذوذ و العلة

hadis yang muttasil (bersambung) sanadnya, diriwayatkan oleh orang adil dan dhobith(kuat daya ingatan) sempurna dari sesamanya, selamat dari kejanggalan (syadz), dan cacat (‘ilat).

b. Syarat Hadits Shahih

Adapun syarat-syarat hadits shahih adalah sebagai berikut:

  • Sanadnya Bersambung
  • Perawinya Bersifat Adil
  • Perowinya Bersifat Dhobith
  • Tidak Syadz
  • Tidak Ber’ilat

c. Ciri Hadits Shahih

Ciri hadits shahih menurut Imam Syafi’i, Bukhori, dan Muslim adalah sebagai berikut:

  • Riwayat perawi harus jujur, terpercaya, baik pengalaman agamanya, dan sempurna ingatan juga hafalannya.
  • Para perawinya yang terdekat dalam sanad harus sejaman.
  • Rangkaian perawi dalam sanad harus bersambung mulai dari perawi pertama hingga perawi terakhir.
  • Para perawi terdiri dari orang-orang yang dikenal siqat dalam arti adil dan dhobith.
Baca Juga :  √ Bacaan Ayat Kursi Arab Indonesia Terjemah Keutamaan (Lengkap)

d. Contoh Hadits Shahih

حَدَّثَنَا عَبْدُاللهِ بْنُ يُوْسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمِ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص.م قَرَأَ فِي الْمَغْرِبِ بِالطُّوْرِ “(رواه البخاري)

“Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin yusuf ia berkata: telah mengkhabarkan kepada kami malik dari ibnu syihab dari Muhammad bin jubair bin math’ami dari ayahnya ia berkata: aku pernah mendengar rasulullah saw membaca dalam shalat maghrib surat at-thur” (HR. Bukhari, Kitab Adzan).

e. Pembagian Hadits Shahih

Hadits shahih dibagi menjadi beberapa bagian diantara lain:

  • Hadits shahih li dzati, yaitu dari kelima syarat tersebut benar-benar telah terbukti adanya, bukan dia itu terputus namun shahih dalam hakikat masalahnya, sebab bolehnya salah dan khilaf bagi orang kepercayaan.
  • Hadits shahih li ghoirihi, yakni hadits tidak terbukti adanya kelima hadits shahih tersebut baik keseluruhan ataupun sebagian. Bukan berarti sama sekali dusta, namun mengingat masih bolehnya berlaku bagi orang yang banyak salah.

2. Hadits Dhaif

Hadits dhaif menurut bahasa berarti lemah. Perbedaan hadits shahih, dhaif dan hasan adalah hadits dhaif adalah hadits yang tidak memuat ataupun menghimpun sifat-sifat hadits shahih dan juga tidak menghimpun sifat-sifat hadits hasan.

1.  Macam-Macam Hadits Dhaif

a. Hadits Dhaif Karena Gugurnya Rawi

Artinya hadits ini tidak memiliki satu atau beberapa perawi yang seharusnya ada di dalamnya. Hadits ini terbagi ke dalam beberapa jenis lagi yakni:

  • Hadits Mursal, yaitu suatu hadits yang gugur rawinya di akhir sanad.
  • Hadits Munqathi’, yaitu suatu hadits yang gugur satu atau dua orang rawi tanpa beriringan menjelang akhir sanadnya.
  • Hadits Mu’dhal, yaitu hadits yang gugur dua orang perawinya atau lebih, secara beriringan dalam sanadnya.
  • Hadits Mu’allaq, yaitu hadits yang gugur satu rawi atau lebih di awal sanad atau bisa juga bila semua rawinya di gugurkan (tidak disebutkan).
Baca Juga :  √ Kultum Ramadhan Tentang Puasa 6 Hari dari Bulan Syawwal
b. Hadits Dhaif Karena Cacat Pada Matan atau Rawi

Artinya hadits yang menjadi dhaif karena rawinya bisa saja adalah pendusta, fasiq, tidak dikenal, atau juga berbuat bid’ah. adapun contoh dari hadits dhaif jenis ini adalah sebagai berikut:

  • Hadits Maudhu’, yaitu  suatu hadits yang bukan berasal dari Rasulullah Saw.
  • Hadits Matruk atau Hadits Mathruh, yakni suatu hadits yang telah diriwayatkan oleh orang-orang yang pernah dituduh berdusta, baik yang berkaitan dengan hadits ataupun yang lainnya, atau pernah lalai, atau pernah berbuat maksiat, atau banyak wahamnya.
  • Hadits Munkar, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang lemah dan menyalahi perawi yang kuat.
  • Hadits Mu’allal, yaitu hadits yang mengandung sebab-sebab tersembunyi serta illat yang menjatuhkan itu terdapat pada sanad, matan ataupun keduanya.
  • Hadits Mudraj, yaitu hadits yang dimasuki sisipan, yang sebenarnya bukan bagian dari hadits tersebut.
  • Hadits Maqlub, yaitu hadits yang terdapat pemutabalikkan pada matannya atau pada nama rawi dalam sanadnya atau penukaran suatu sanad untuk matan yang lain.
  • Hadits Syadz, yaitu suatu hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang dipercaya, akan tetapi hadits itu berlainan dengan hadits-hadits yang diriwayatkan oleh sejumlah rawi yang juga dipercaya.

3. Hadits Hasan

Hadits hasan menurut bahasa berarti al-jamal, yaitu indah. Adapun beberapa pengertian hadits hasan menurut para ahli, diantaranya adalah sebagai berikut:

  • Menurut Tirmidzi

Semua hadis yang diriwayatkan, dimana dalam sanadnya tidak ada yang dituduh berdusta, serta tidak ada syadz (kejangalan), dan diriwatkan dari selain jalan seperti demikian, maka dia menurut kami adalah hadis hasan.

  • Menurut al- Chatabi

Hadits hasan adalah hadis yang diketahui tempat keluarnya, dan telah mashur rawi-rawi sanadnya, dan kepadanya tempat berputar kebanyakan hadis, dan yang diterima kebanyakan ulama, dan yang dipakai oleh umumnya fukoha’

  • Menurut Ibnu Hajar
Baca Juga :  Pengertian Ghibah Hukum Pembagian Dan Contohnya

Hadis ahad yang diriwayatkan oleh yang adil, sempurna ke-dhabit-annya, bersanbung sanadnya, tidak cacat, dan tidak syadz (janggal) maka dia adalah hadis shahih li-dzatihi, lalu jika ringan ke-dhabit-annya maka dia adalah hadis hasan li dszatihi.

Macam-Macam Hadits Hasan

Adapun macam-macam hadits hasan terbagi menjadi dua bagian, diantaranya adalah sebagai berikut:

a. Hadits hasan  Li-Dzatih, yakni suatu hadits yang telah memenuhi persyaratan hadits hasan yang telah ditentukan.

Perbedaan Hadist Shahih, Dhaif, Hasan Beserta Pengertian, Ciri & Jenisnya
Perbedaan Hadist Shahih, Dhaif, Hasan Beserta Pengertian, Ciri & Jenisnya

b. Hasan Li-Ghairih, yakni hadits yang tidak memenuhi persyaratan secara sempurna. Dalam artian hadits tersebut pada dasarnya adalah hadits dhaif, namun karena adanya sanad atau matan lain yang menguatkannya (syahid atau muttabi’), maka kedudukan hadis dha’if tersebut naik derajatnya menjadi hadis hasan li-ghairih.

Nah itulah tadi penjelasan mengenai Perbedaan Hadist Shahih, Dhaif, Hasan Beserta Pengertian, Ciri & Jenisnya. Semoga dapat bermanfaat dan menambah wawasan. Terimakasih 🙂

Rate this post