Pengertian dan Dasar Sumber Ilmu Fiqih

Pengertian dan Dasar Sumber Ilmu Fiqih – Duta Dakwah kali ini akan bahas tentang pengertian dan dasar sumber ilmu fiqih. Yang akan dibahas secara lengkap dan jelas sesuai dengan kaidah Islam. Untuk lebih jelasnya silahkan simak ulasan dibawah ini dengan seksama. Selamat membaca.

Pengertian dan Dasar Sumber Ilmu Fiqih

Pengertian Sumber Ilmu fiqih

Semua hukum yang terdapat dalam fiqih Islam kembali kepada empat sumber. Mengenai hal ini, para ulama ahlussunnah bersepakat bahwa, dalil-dalil syar’I yang menjadi dasar dan diakui sebagai dalil dari agama islam adalah al-qur’an, hadist, ijma dan qiyas. Namun mengenai ijma dan qiyas terdapat perselisihan para ulama mengenai rinciannya, ijma dan qiyas yang seperti apakah yang dijadikan dalil, dsb.

Imam syafi’I mengatakan :

Artinya: “sumber ilmu adalah berita yang ada pada al-qur’an, hadist, ijma atau qiyas.” (lihat kitab Arrisalah).

Para ulama pun bersepakat bahwa inti dari keseluruhan dalil yang empat ini adalah al-qur’an dan hadist, dimana kedua hal ini merupakan dasar dari agama dan tiang tegaknya islam.

Imam syafi’I mengatakan

“Diwajibkan untuk berpendapat dengan berdasar kepada al-qur’an dan hadits, adapun selain dari keduanya, maka ia harus mengikuti alquran dan sunnah”. (lihat kitab jimaa’ul ‘ilmi)

Dasar Sumber Ilmu Fiqih

1. Al-Qur’an

Al-Qur’an adalah kitab suci yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad saw yang sampai kepada kita dari sumber-sumber yang terpercaya. Al-qur’an merupakan mukjizat terbesar yang diberikan kepada rasul terakhir Muhammad saw, kitab suci agama islam yang akan terjaga keasliannya hingga akhir zaman. Susunan bahasa dan gaya sastra al-qur’an yang tinggi menjadi bukti kuat jika ayat-ayat dalam al-Qur’an bukanlah buatan manusia melainkan wahyu Allah.

Baca Juga :  Hukum Menikahi Wanita Non Muslim Menurut Islam

2. As-Sunah

Sunah ialah perkataan, perbuatan, dan pengakuan Nabi kita Muhammad saw yang dapat dijadikan dasar hukum Islam. Perkataan Nabi saw adalah sabda beliau saw yang dilantunkan dari lisan beliau sendiri kepada para sahabat. Perbuatan Nabi saw adalah semua tindak tanduk perbuatan beliau yang diriwayatkan oleh para sahabat, misalnya beliau mengajarkan kepada para shahabatnya bagaimana cara sholat.

Pengakuan Nabi saw ialah perbuatan para sahabat di hadapan Nabi saw yang dibiarkan dan tidak dicegah oleh beliau, misalnya diamnya beliau sewaktu menyaksikan shahabat memakan daging biyawak pada suatu masa.

Allah berfirman:

Artinya: “Dan apa yang diberikan rasul kepadamu, terimalah ia, dan apa yang dilarang olehnya atasmu, tinggalkanlah.” (al-Hasyr: 7)

Adapun hadist yang diriwayatkan para sahabat dan dapat diambil sebagai hukum untuk menghalalkan sesuatu atau mengharamkannya adalah hadits shahih, kemudian hadits hasan. Perbedaan hadits shahih dan hasan terletak pada kedhabithannya (kekuatan atau kecermatannya). Jika hadits shahih tingkat dhabithnya harus tinggi, maka hadits hasan tingkat kedhabithannya (kekuatan atau kecermatannya) berada dibawahnya.

Hadits Hasan adalah tingkatan hadits yang ada dibawah hadits shahih. Hadits Hasan juga merupakan hadits yang diriwayatkan oleh rawi terkenal dan disetujui keakuratannya oleh sebagian besar pakar hadits. Sedangkan hadits dhaif (lemah) tidak bisa diambil sebagai keputusan untuk menghukum yang halal dan haram tapi bisa digunakan sebagai pelengkap ibadah.

Rasulullah SAW. bersabda: “Ketahuilah, sesungguhnya aku diberikan Al-Kitab dan yang semisalnya bersamanya,” (HR. Ahmad dan Abu Daud)

3. Al-Ijma’

Ijma’ ialah kesepakatan para mujtahid atau ulama umat nabi Muhammad saw dalam suatu masa setelah wafat beliau atas suatu hukum tertentu. Selanjutnya jika mereka telah mensepakati masalah hukum tersebut, maka hukum itu menjadi aturan agama yang wajib diikuti dan tidak mungkin menghindarinya. Contohnya Ijma’ para shahabat Nabi saw dimasa sayyidina Umar ra dalam menegakkan sholat tarawih.

Baca Juga :  Tidak Boleh Menunda Shalat Hingga Keluar Waktu

Allah berfirman:

Artinya: “Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali.” QS. An-Nisa’ 115

Rasulullah saw bersabda:

“Tidak bersepakat umatku atas kesesatan” (Abu Daud).

4. Al-Qiyas

Qiyas ialah persamaan hukum sesuatu yang tidak ada dalilnya dengan hukum sesuatu yang ada dalilnya dikarnakan hampir bersamaan atau karena adanya persamaan hukum. Jumhur ulama muslimin bersepakat bahwa qiyas merupakan hujjah syar’i dan selanjutnya mejadi sumber hukum, contohnya:

Allah telah mengharamkan Khamr (arak), karena merusak Akal, membinasakan badan, menghabiskan harta , Maka segala minuman yang memabukkan hukumnya haram diqiyaskan dari khamr (arak)

Rasulullah telah mewajibkan zakat ternak unta, sapi dan kambing. Maka segala hewan ternak yang sejenis hewan tersebut diatas maka wajib dizakatkan contonya kerbau wajib dizakatkan dikiyaskan dari sapi

Allah berfirman:

Artinya: “Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan”. (al-Hasyr 2).

Demikian tentang Pengertian dan Dasar Sumber Ilmu Fiqih yang menjadi rujukan syari’at dalam perkara-perkara fiqih Islam, kami sebutkan semoga mendapat manfaat, adapun lebih lengkapnya dapat dilihat di dalam kitab-kitab usul fiqh Islam.

Pengertian dan Dasar Sumber Ilmu Fiqih
Rate this post