Kisah Leluhur Walisongo, Awal Mula Wali Tanah Jawa

Kisah Leluhur Walisongo, Awal Mula Wali Tanah Jawa – Pada kesempatan ini akan membahas mengenai Kisah Leluhur Walisongo. Yang mana dalam pembahasan kali ini menjelaskan mengeni kisah leluhur Walisongo, awal mula wali di tanah Jawa. Untuk lebih jelasnya simak artikel DutaDakwah.co.id mengenai Kisaah Leluhur Walisongo berikut ini.

Kisah Leluhur Walisongo, Awal Mula Wali Tanah Jawa

Syekh jumadil Kubra dari Asia Tengah disebut juga dengan leluhur Walisongo. Kiayi tanah Jawa lebih percaya beliau berasal dari Hadramaut.

Di dalam berbagai kitab sejarah dan babad Jawa, Syekh Jumadi Kubra disebut sebagai leluhur Walisongo. Petilasan yang diyakini sebagai makamnya berada dibeberapa tempat yang ada di tanah Jawa. Banyak orang yang datang mengunjungi makam beliau untuk ziarah.

Agus Sunyoto dalam Atlas Walisongo menghimpun berbagai sumber local mengenai Syekh Jumadil Kubra. Dalam Kronika Banten, Syekh Jumadil Kubra digambarkan sebagai nenek moyang dari Sunan Gunung Jati. Dari kisahnya, Ali Nurul Alam, putra Syekh Jumadil Kubra tinggal di Mesir dan memiliki anak bernama Syarif Abdullah. Syarif Abdullah memiliki anak yang bernama Syrif hidayatullah yang selanjutnya menjadi Sunan Gunung Jati.

Dalam babad Cirebon disebutkan bahwa Syekh Jumadil Kubra sebagai leluhur dari Sunan Gunung Jati, Sunan Ampel, Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga.

Kronika Gresik menyebutkan bahwa Syekh Jumadil Kubra memiliki hubungan darah dengan Sunan Ampel dan tinggal di Gresik. Putranya, Maulana Ishaq dikirim ke Blambangan untuk syiar menyebarkan ajaran Islam. Maulana Ishaq merupakan ayah Sunan Giri.

Dalam catatan The History of Java, Thomas Stamford Raffles mencatat bahwa Syekh Jumadil Kubra bukan moyang para wali, namun pembimbing wali pertama. RAden Rahmat yang kelak menjadi Sunan Ampel, datang dari Champak e Palembang. Dari sana, beliau ke Gresik untuk menemui Syekh Maulana Jumadil Kubra, seorang ahli ibadah yang tinggal di Gunung Jali.

Menurut Syekh Mulana jumadil Kubra kedatangan dari Raden Rahmat sudah diramalkan oleh Nabi. Beliau dipilih untuk membawa ajaran Nabi dipelabuhan timur Pulau Jawa. Sebabnya keruntuhan agama kafir sudah dekat.

Babad tanah Jwi menuturkan bahwa Syekh Jumadil Kubra merupakan sepupu Sunan Ampel. Beliau hidup sebagai petapa dihutan dekat Gresik.

Kisah Syekh Jumadil kubra sebagai petapa menjadi legenda yang terkenal di sekitar Gunung Merapi, di utara Yogyakarta. Beliau diyakini sebagai wali tertua yang berasal dari Majapahit, yang hidup bertapa di hutan Lereng Merapi.

Kisah Syekh Jumadil Kubra yang bernuansa perkawinn sedara terdapat dalam Babad Pajajaran. Saudaara Sunan Ampel itu hidup sebagai pertapa yang ada dihutam dekat Gresik. Beliau ditinggal mati istrinya saat melahirkan.

Martin van Bruinessen, seorang Sejarawan Belanda dalam Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat mendapati keanehan dalam namanya. Jumadil lebih mengingatkan kepada nama bulan ketimbang nama manusia. Nama ini adalah versi ingatan orang Jawa dari seorang penyebar Islam asal Asia Tengah.

Jejak Tarekat Kubrawiyah

Kisah Leluhur Walisongo Awal Mula Wali Tanah Jawa

Van bruinessen menerangkan bahwa nam Jumadil Kubra adalah penyimpangan dari Najmuddin al Kubra. Di tanah Jawa, pengucapan namanya berubah menjadi Najumadinil Kubra, lalu penghilangan bunyi suku kata pertama dan penyingkatan suku kata ke empat daan kelima, penyebutan namannya berubah lagi menjadi Jumadil Kubra.

Jumadil Kubra memang terlihat mirip nama Arab namun melanggal tata bahasa Arab. Kata Arab, kubra yaitu kata bersift dalam bentuk muannats (feminism). Bentuk superlative dari kata Kabir yang artinya besar. Sementara bentuk kata mudzakar (maskulin) yang sesuai yaitu akbar.

“Aneh, menjumpai kata al-Kubra, ‘yang maha besar’, sebagai bagian nama seorang laki-laki,” tulis Van Bruinessen.

Dalam sejarah keilmuan Islam, Najmuddin al Kubra merupakan salah satu tokoh terkemuka yang diberi gelar Kubra. Ia mendirikan tarekat Kubrawiyah yang berkembang di Iran dan Asia Tengah pada abad ke 13 – 17.

“Ia sering kali hanya disebut dengan nama Kubra, menyebarkan ajarannya di Khwarizm (Asia Tengah), dan wafat di sana pada 1221,” tulis Van Bruinessen.

Tarekat kubrawiyah selanjutnya menjadi salah satu dari aliran tasawuf paling awal yang masuk di Nusantara.

Aliran tasawuf yang berkembang paling awal yaitu Akmaliyah dan Syathariyah yang selanjutnya disusul Kubrawiyah, Haqmaliyah, Samaniyah, Rifa’iyah, Khalwatiyah, Naqsyabandiyah, Qadiriyah, dan lain-lain.

Walaupun demikian keberadaan Kubrawiyah tak tercatat di Indonesia, Syekh Jumadil Kubra menjadi jejak meyakinkan adanya pengaruh tarekat pada awal perkembangan Islam di tanah Jawa. Nama Najmuddin Kubra dan silsilah tokoh Kubrawiyah lainnya disebut dalam beberapa abad, terutama sejarah Banten Rante-Rante, sebagai guru dan teman seperguruan Sunan Gunung Jati saat belajar di Makkah.

Peng-Arab-an Jumadil Kubra

Menurut versi lain menyebutkan para sayid (keturunan Nabi) dari Hadramaut memiliki pengaruh besar akan Islam di Indonesia. Mereka datang ke Nusantara dalam jumlah besar baru pada abad ke 19. Akan tetapi, para pedagang dan ulama sudah sampai dan menetap di tanah Jawa selama beberapa abad.

Menurut mereka, para wali yang meng-Islamkan Jawa dan wilayah lain di Asia Tenggara yaitu pada keturunan sayid dari Hadramaut. Orang yang dianggap sebagai leluhur bersama mereka bernama Jamaluddin Husain al Akbar.

Kisah Jamaluddin al Akbar banyak memiliki persamaannya dengan Jumadil Kubra yang dikisahkan dalam babad, kendati demikian, menurut Van Bruinessen, versi babad lebih asli daripada versi para sayid. Cerita Jamaluddin al Akbar versi para sayid merupakan bentuk upaya pada abad ke 20 awal untuk ‘mengoreksi’ legenda Jwa. Dalam hal ini mereka mengganti nama Jumadil Kubra, yang sudah lebih dahulu populer sebagai leluhur para wali, dengan nama Jamaluddin al Akbar.

Kata sifat kubra diganti dengn kata Arab yang lebih tepat ykni al Akbr. Nama Jumadi diganti dengan nama Arab yang paling mirip ykni Jamaluddin.

Begitu pun berbagai legenda yang berbeda dan tak sesui dengan lainnya mengenai Jumadil Kubra digabungkan ke dalam keseluruhan kisah yang dibuat lebih koheren. Unsur yang tidak seusi dengan Islam, seperti perkawinan sedara juga dibuang.

Menurut Van Bruinessen, upaya dalam merevisi kisah mengenai Jumadil Kubra merupakan perumpamaan bagi perubahan sejarah Islam Indonesia. Perubahan nama Najmuddin al Kubra menjadi Jumadil Kubra, kemudian berubah lagi menjadi Jamaluddin al Akbar bukan sekedar soal perubahan bahasa.

Sebagai seorang sufi Asia Tengah berbahasa Persia, Jumadil Kubra mewarisi tradisi spiritual Iran. Mungkin saja ia dipengaruhi oleh amalan Tantrisme. Hal ini yang membuat ajarannya menarik bagi orang Jawa, sebab mudah diterapkan kepada peninggalan berbagai tradisi Tantrik pra Islam.

“Karena itu memudahkannya diterima ke dalam ajaran tasawuf batiniah Islam,” tulis Van Bruinessen. “Perubahan namanya menjadi Jamaluddin al-Akbar menunjukkan perhatian yang meningkat pada peng-Arab-an secara bertahap Islam Jawa secara umum.”

Pendapat itu memang sekadar hipotesis. Jejak Najmuddin al-Kubra dan ajaran yang dibawanya di Nusantara pun masih samar. Ia sendiri tak pernah datang ke Nusantara, karena hidup jauh sebelum orang-orang di Nusantara mulai naik haji.

Demikian penjelasan mengenai Kisah Leluhur Walisongo, Awal Mula Wali Tanah Jawa, semoga dapat bermanfaat dan menambah wawasan Anda.