√ Kewajiban Mengeluarkan Zakat Fitrah Menurut Fiqih

Kewajiban Mengeluarkan Zakat Fithrah Menurut Fiqih. – Pada Materi Kultum Sebelumnya kami sudah sampaikan: Kultum Tentang Dalil Kewajiban Megeluarkan Zakat Fithrah. dan untuk kesempatan kali ini Duta Dakwah akan menyampaikan: Kewajiban Mengeluarkan Zakat Fithrah Menurut Fiqih . Materi ini In Syaa Allah akan kami sampaikan secara ringkas.

Kewajiban Mengeluarkan Zakat Fithrah Menurut Fiqih

Untuk lebih jelasnya sebaiknya silahkan baca Kultum Duta Dakwah dibawah ini dengan Seksama.

Materi Kultum.

بسم الله الرّحمن الرّحيم السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ الْحَمْدُ لِهََِّ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ

Puji dan Syukur senantiasa kita panjatkan ke hadhirat Allah SWT, shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan ke haribaan nabi agung Muhammad s.a.w.   Ma’asyirol-muslimin wal-muslimat Rahimakumullah, pada kesempatan ini kami akan sampaikan: Kewajiban Megeluarkan Zakat Fithrah Menurut Fiqih.

Adapun Dalil-dalil mengnai kewajiban zakat fitrah itu sudah kami sampaika pada kesempatan yang lalu, maka pada kesempatan kali ini kami akan sampaikan menurut fiqih madzhab Syafi’i.
Sebagaimana tertulis dalam Kitab Fathul-Qorib pada Fasal Zakatul-Fithri:

وَتَجِبُ زَكَاةُ الْفِطْرِ وَيُقَالُ لَهَا زَكَاةُ الْفِطْرَةِ أَيْ الْخِلْقَةِ (بِثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ الْإِسْلَامُ) فَلَا فِطْرَةَ عَلَى كَافِرٍ أَصْلِيٍّ إِلَّا فِيْ رَقِيْقِهِ وَقَرِيْبِهِ الْمُسْلِمِيْنِ (وَبِغُرُوْبِ الشَّمْسِ مِنْ آخِرِ يَوْمٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ) وَحِيْنَئِذٍ فَتُخْرَجُ زَكَاةُ الْفِطْرِ عَمَّنْ مَاتَ بَعْدَ الْغُرُوْبِ دُوْنَ مَنْ وُلِدَ بَعْدَهُ (وَوُجُوْدُ الْفَضْلِ) وَهُوَ يَسَارُ الشَّخْصِ بِمَا يَفْضُلُ (عَنْ قُوَّتِهِ وَقُوَّتِ عِيَالِهِ فِيْ ذَلِكَ الْيَوْمِ) أَيْ يَوْمِ عِيْدِ الْفِطْرِ وَكَذَا لَيْلَتَهُ أيْضاً. وَيُزَكِّي الشَّخْصُ (عَنْ نَفْسِهِ وَعَمَّنْ تَلْزُمُهُ نَفَقَتُهُ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ) فَلَا يَلْزَمُ الْمُسْلِمَ فِطْرَةُ عَبْدٍ وَقَرِيْبٍ وَزَوْجَةٍ كُفَّارٍ، وَإِنْ وَجَبَتْ نَفَقَتُهُمْ

Wajib mengeluarkan zakat fitrah dengan tiga syarat. Zakat fitrah diungkapkan dengan bahasa “zakat fithrah” maksudnya zakat badan. Wajibnya mengeluarkan zakat fithraoh itu disebabkan oleh tiga perkara:

Baca Juga :  √ Do’a Haji dan Umroh, Arab Latin & Terjemah (Lengkap) VI
  1. Islam, Maka tidak wajib membayar zakat fitrah bagi orang kafir asli kecuali untuk budak dan keluarganya yang beragama Islam.
  2. Terbenamnya matahari di hari terakhir bulan Romadlon. Kalau demikian, maka wajib membayar zakat fitrah dari orang yang meninggal dunia setelah terbenamnya matahari, tidak dari anak yang dilahirkan setelah terbenamnya matahari.
  3. Adanya kelebihan. Yaitu seseorang memiliki lebihan dari bahan makanan untuk dirinya sendiri dan keluarganya di hari tersebut, maksudnya siang harinya hari raya Idul Fitri, begitu juga untuk malam harinya.

Seseorang wajib mengeluarkan zakat untuk dirinya sendiri dan orang-orang yang wajib ia nafkahi yang beragama Islam. Maka bagi orang muslim tidak wajib mengeluarkan zakat fitrah untuk budak, kerabat dan istrinya yang beragama kafir, walaupun wajib ia nafkahi.

Takaran Satu Fithrah

Sebagaimana yang sudah kami ungkapkan pada materi sebelumnya iaitu Dalil tentang kewajiban mengeluarkan zakat fithrah, dan berikut ini dalam ilmu fiqihnya:

وَإِذَا وَجَبَتِ الْفِطْرَةُ عَلَى الشَّخْصِ فَيُخْرَجُ (صَاعاً مِنْ قُوَّتِ بَلَدِهِ) إِنْ كَانَ بَلَدِياً فَإِنْ كَانَ فِي الْبَلَدِ أَقْوَاتٌ غَلَبَ بَعْضُهَا، وَجَبَ الْإِخْرَاجُ مِنْهُ، وَلَوْ كَانَ الشَّخْصُ فِيْ بَادِيَةٍ لَا قُوَّتَ فِيْهَا أَخْرَجَ مِنْ قُوَّتِ أَقْرَبِ الْبَلَادِ إِلَيْهِ، وَمَنْ لَمْ يُوْسِرْ بِصَاعٍ بَلْ بِبَعْضِهِ لَزِمَهُ ذَلِكَ الْبَعْضُ (وَقَدْرُهُ) أَيْ الصَّاعِ (خَمْسَةُ أَرْطَالٍ وَثُلُثُ بِالْعِرَاقِيِّ) وَسَبَقَ بَيَانُ الرِّطْلِ الْعِرَاقِيِّ فِيْ نِصَابِ الزُّرُوْعِ

Ketika seseorang wajib membayar zakat fitrah, maka ia harus mengeluarkan satu sha’ makanan pokok daerahnya, jika ia adalah orang yang bertempat tinggal di suatu negara. Jika di daerahnya terdapat beberapa makanan pokok, namun ada sebagiannya yang lebih dominan, maka wajib mengeluarkan dari jenis sebagian makanan tersebut. Seandainya seseorang bertempat tinggal di hutan yang tidak memiliki makanan pokok, maka ia wajib mengeluarkan zakat berupa makanan pokok daerah yang terdekat darinya. Orang yang tidak memiliki lebihan satu sho’, akan tetapi hanya sebagian sho’ saja, maka ia wajib mengeluarkan sebagian tersebut. Ukuran satu sho’ adalah lima rithl lebih sepertiga rithl negara Iraq. Rithl negara Iraq telah dijelaskan di dalam bab “Nishabnya Zuru’

Baca Juga :  Niat Puasa Asyura 10 Muharram dan Keutamaannya

Adapun untuk ukura atau takaran Indonesia untuk satu sho’, menurut yang saya abaca dalam kitya Al-Tadzhib, di sana diterangkan bahwa satu sho’ jika ditimbang dengan menggunakan kilo gram maka di sana tertulis pada halaman 100 : ( وَتُسَاوِي بِالْوَزْنِ 2400 غَرَمًا تَقْرِيْبًا ) artinya sama dengan 2.400 gram atau 24 ons, atau 2,4 kg. maka dibulatkan saja menjadi 2,5 kg. beras.

Ma’asyirol-muslimin wal-muslimat rohimakumullah, mungkin hanya ini yang dapat kami sampiakan, kurang dan lebihnya kami mohon ma’af. Terimakasih ata segala perhatian dan mohon ma’af atas segala khilaf dan kekurangan.

بِاللهِ التَّوْفِيْقُ وَالْهِدَايَةُ و الرِّضَا وَالْعِنَايَةُ ثُمَّ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ

Demikian ulasan : Kewajiban Mengeluarkan Zakat Fithrah Menurut Fiqih. Semoga dapat memberikan manfaat untuk kita semua.Terimakasih