√ Pengertian dan Hukum Maskawin dalam Pernikahan.

Posted on

Pengertian dan Hukum Maskawin dalam Pernikahan. – Melalui Risalah singkat kali ini Dutadakwah akan menyampaikan sedikit pentingnya maskawi atau mahar dalam pernikahan.

Pengertian dan Hukum Maskawin dalam Pernikahan.

Maskawin memang bukan rukun nikah tetapi maskawin adalah haknya calon istri yang tentunya wajib dipenuhi oleh calon suami karena setelah berlangsungnya akad nikah, sudah menjadi kepastian istri mempunyai hak untuk minta mahar sesuai permintaan istri yang diajukan kepada calon suami.

Hukum Wajibnya Maskawin (mahar)

Mengenai wajibnya maskawin atau mahar dalam ijab kobul pernikahan adalah sebagaiman dalam firman Subhanahu wa Ta’ala:

أَنْ تَبْتَغُوا بِأَمْوَالِكُمْ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ (النساء : ٢٤)﯁

Artinya: “Kalian mencari istri-istri dengan harta kalian untuk dinikahi bukan untuk berzina.” (QS. An-Nisas : 24)

وَآتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً (النساء : ٤)﯁

Loading...

Artinya: “Berikanlah mahar kepada wanita-wanita yang kalian nikahi sebagai pemberian dengan penuh kerelaan.” (QS. An-Nisaa : 4)

Dan dalam ayat lain juga disebutkan:

وَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ أَنْ تَنْكِحُوهُنَّ إِذَا آتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ (الممتحنة : ١٠)﯁

Artinya: “Dan tidak ada dosa bagi kalian menikahi mereka apabila kalian membayar kepada mereka mahar-mahar mereka.” (QS. Al-Mumtahanah: 10)

Dalam Penafsiran ayat ini diterangkan dalam Tafsir Ibnu Katsir sebagai berikut: “Yaitu apabila kamu telah membayar kepada mereka maharnya, maka kamu boleh mengawininya. Tetapi dengan persyaratannya, yaitu habisnya masa idah, memakai wali, dan lain sebagainya”.

Dari sini nampak terang bahwa maskawin itu benar-benar wajib, dan lebih luas lagi diterangkan dalam ilmu fiqih.

Dalam Kitab Fiqih Fathul-qorib tertulis satu pasal mengenai maskawin namun di sini kami kutip mengenai maskawin sunah menyebutkannya sebagaimana diterangkan dalam Fathul-qorib yang kutipannya sebagai berikut:

Sunnah Menyebutkan Mahar

(وَيُسْتَحَبُّ تَسْمِيَّةُ الْمَهْرِ فِيْ) عَقْدِ (النِّكَاحِ) وَلَوْ فِيْ نِكَاحِ عَبْدِ السَّيِّدِ أَمَتَهُ، وَيَكْفِيْ تَسْمِيَّةُ أَيِّ شَيْءٍ كَانَ وَلَكِنْ يُسَنُّ عَدَمُ النَّقْصِ عَنْ عَشْرَةِ دَرَاهِمَ، وَعَدَمُ الزِّيَادَةِ عَلَى خَمْسِمِائَةِ دِرْهِمٍ خَالِصَةٍ، وَأَشْعَرَ قَوْلُهُ يُسْتَحَبُّ بِجَوَّازِ إِخْلَاءِ النِّكَاحِ عَنِ الْمَهْرِ، وَهُوَ كَذَلِكَ

Disunnahkan untuk menyebutkan Mahar (maskawin di dalam akad nikah, sekalipun dalam perkawinan budaknya sayyid (tuan) dengan Amatnya, Dan cukuplah menyebutkan apa saja yang ada, tetapi disunnahkan tidak kurang dari 10 dirham dan tidak lebih dari 500 dirham dengan dirham murni.

Baca Juga :  √ 111 Ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1440 H 2019 M.

Perkataan Mushannif telah memberikan pengertian, bahwa lafad “Disunnahkan” adalah memberikan pengertian dengan bolehnya meniadakan suatu perkawinan dari adanya maskawin. Adapun hukum yang demikian itu adalah boleh.

Menurut Fiqih Pernikahan itu sah tanpa menyebutkan Maskawin

Sebagaimana tertulis dalam Fathul-qorib pada Pasal Maskawin seperti berikut:

(فَإِنْ لَمْ يُسَمَّ) فِيْ عَقْدِ النِّكَاحِ مَهْرٌ (صَحَّ الْعَقْدُ) وَهَذَا مَعْنَى التَّفْوِيْضِ وَيَصْدُرُ تَارَةً مِنَ الزَّوْجَةِ الْبَالِغَةِ الرَّشِيْدَةِ كَقَوْلِهَا لِوَلِيِّهَا: زَوِّجْنِيْ بِلَا مَهْرٍ أَوْ عَلَى أَنْ لَا مَهْرَ لِيْ، فَيُزَوِّجُهَا الْوَلِيُّ وَيُنْفِيْ الْمَهْرَ أَوْ يَسْكُتُ عَنْهُ، وَكَذَا لَوْ قَالَ سَيِّدُ الْأَمَةِ لِشَخْصٍ زَوَّجْتُكَ أَمَتِيْ وَنَفَى الْمَهْرُ أَوْ سَكَتَ

Apabila Mahar (maskawin) tidak disebutkan dalam akad perkawinan, maka sahlah akad perkawinan itu. Istilah “tidak disebutkan” adalah mempunyai arti “pasrah”. Sedangkan pasrah itu sendiri pada suatu ketika dari pihak istri yang sudah Baligh (dewasa) lagi pula pandai. Seperti ucapan isteri kepada Walinya “Engkau jodohkan aku tanpa memakai mahar, atau jika tidak ada Mahar untuk aku, maka hendaknya si Wali mengawinkan isteri tersebut dengan tanpa Mahar, atau pula si Wali berdiam saja dari soal Mahar. Suatu ketika “pasrah” itu keluar dari pihak Tuan (sayyid ). Sperti ucapannya kepada seseorang: Aku kawinkan engkau dengan Amatku”  dan si Tuan tersebut meniadakan Mahar atau pula berdiam.

Maskawin itu bebas dengan apa saja

Maskawin itu tidak harus berupa uang, emas, perak dan sejenisnya melainkan dengan satu hafalan surat-suratan pun dalam al-quran itu boleh yang terpenting si istri ridho. Dalam hadits diterangkan sebagai berikut:

(فَإِنْ لَمْ يُسَمَّ) فِيْ عَقْدِ النِّكَاحِ مَهْرٌ (صَحَّ الْعَقْدُ) وَهَذَا مَعْنَى التَّفْوِيْضِ وَيَصْدُرُ تَارَةً مِنَوَعَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ اَلسَّاعِدِيِّ – رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ : ( جَاءَتِ امْرَأَةٌ إِلَى رَسُولِ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَتْ : يَا رَسُولَ اَللَّهِ ! جِئْتُ أَهَبُ لَكَ نَفْسِي , فَنَظَرَ إِلَيْهَا رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَصَعَّدَ اَلنَّظَرَ فِيهَا , وَصَوَّبَهُ , ثُمَّ طَأْطَأَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم رَأْسَهُ , فَلَمَّا رَأَتْ اَلْمَرْأَةُ أَنَّهُ لَمْ يَقْضِ فِيهَا شَيْئًا جَلَسَتْ , فَقَامَ رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِهِ. فَقَالَ : يَا رَسُولَ اَللَّهِ ! إِنْ لَمْ يَكُنْ لَكَ بِهَا حَاجَةٌ فَزَوِّجْنِيهَا. قَالَ : فَهَلْ عِنْدكَ مِنْ شَيْءٍ ? فَقَالَ : لَا , وَاَللَّهِ يَا رَسُولَ اَللَّهِ. فَقَالَ : اِذْهَبْ إِلَى أَهْلِكَ , فَانْظُرْ هَلْ تَجِدُ شَيْئًا ? فَذَهَبَ , ثُمَّ رَجَعَ ? فَقَالَ : لَا , وَاَللَّهِ يَا رَسُولَ اَللَّهِ، مَا وَجَدْتُ شَيْئًا. فَقَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم انْظُرْ وَلَوْ خَاتَمًا مِنْ حَدِيدٍ، فَذَهَبَ، ثُمَّ رَجَعَ. فَقَالَ : لَا وَاَللَّهِ , يَا رَسُولَ اَللَّهِ , وَلَا خَاتَمًا مِنْ حَدِيدٍ , وَلَكِنْ هَذَا إِزَارِي – قَالَ سَهْلٌ : مَالُهُ رِدَاءٌ – فَلَهَا نِصْفُهُ. فَقَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم مَا تَصْنَعُ بِإِزَارِكَ ? إِنْ لَبِسْتَهُ لَمْ يَكُنْ عَلَيْهَا مِنْهُ شَيْءٌ، وَإِنْ لَبِسَتْهُ لَمْ يَكُنْ عَلَيْكَ شَيْءٌ فَجَلَسَ اَلرَّجُلُ , وَحَتَّى إِذَا طَالَ مَجْلِسُهُ قَامَ ; فَرَآهُ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم مُوَلِّيًا , فَأَمَرَ بِهِ , فَدُعِيَ لَهُ , فَلَمَّا جَاءَ. قَالَ : مَاذَا مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ ? قَالَ : مَعِي سُورَةُ كَذَا , وَسُورَةُ كَذَا , عَدَّدَهَا فَقَالَ : تَقْرَؤُهُنَّ عَنْ ظَهْرِ قَلْبِكَ ? قَالَ : نَعَمْ , قَالَ : اِذْهَبْ , فَقَدَ مَلَّكْتُكَهَا بِمَا مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ , وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ وَفِي رِوَايَةٍ لَهُ : ( اِنْطَلِقْ , فَقَدْ زَوَّجْتُكَهَا , فَعَلِّمْهَا مِنَ الْقُرْآنِ ) وَفِي رِوَايَةٍ لِلْبُخَارِيِّ : ( أَمْكَنَّاكَهَا بِمَا مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ )﯁

Artinya: Dari Sahal bin Sa’ad Assa’idy r.a. ia berkata: Seorang perempuan : telah menghadap kepada Rasulullah s.a.w. dan berkata: ”Ya Ra sulultah, saya datang untuk menyerahkan diri saya kepada engkau Kemudian Rasulullah melihat wanita itu – dengan perhatian yang sungguh-sungguh, kemudian beliau menundukkan kepalanya. Maka setelah perempuan itu melihat bahwa beliau tidak memberi kepu tusan apa-apa kepadanya, ia duduk. Maka seorang laki-laki dari antara shahabatnya berdiri lalu berkata: “Ya Rasulullah, apabila engkau tidak ada hajat kepadanya, maka kawinkanlah saya kepadanya”. Beliau bersabda: ”Adakah engkau mempunyai sesuatu ?” Jawabnya: “Tidak, demi Allah Ya Rasulullah”. Beliau bersabda: “Pergilah kepada ahlimu, dan lihatlah barangkali engkau mendapatkan sesuatu”. Lalu ia pergi kemudian kembali lagi dan berkata: ”’Demi Allah saya tidak mendapatkan apa-apa”. Maka Rasulullah bersabda: ”Ambillah walaupun cincin besi”. Lalu ia pergi kemudian datang kembali dan berkata: ”Tidak ada Ya Rasulullah demi Allah walaupun cincin besi: tapi inilah kain saya”. Sahal berkata: “Dia tidak mempunyai rida’ (selendang) Untuk perempuan itu separuh dari kain itu”, Maka Rasulullah s.a.w, bersabda: “Apa yang kau lakukan dengan kainmu itu? Kalau kaupakai kain itu, maka bagi wanita itu tidak ada bagian sedikitpun, dan kalau ia memakainya, maka bagimu tidak ada bagian sedikitpun?” Orang itu lalu duduk, dan setelah lama ia duduk kemudian berdiri, dan terlihat oleh Rasulullah ia pergi. Beliau menyuruh memanggilnya, dan ketika ia datang, beliau bersabda: “Apakah yang ada padamu (yang kamu hafal) dari Our’an?” Jawabnya : ‘ Surat Anu dan surat anu”, ia menghitungnya. Beliau bersabda lagi: Apakah kamu hafal akan surat-surat itu?” Jawabnya: ”Ya,” Beliau bersabda: “Pergilah, dia telah kujadikan milikmu dengan apa yang ada padamu dari Our’an”. Muttafaq’alaih, dan lafadh ini dalam riwayat Muslim. Dan dalam sebuah riwayat: Beliau bersabda kepadanya: “Pergilah dan aku telah mengawinkan kamu kepadanya, dan ajarlah ia dari Qur’an itu. Dan dalam riwayat Bukhari: “Dia jadikan milikmu dengan apa yang ada padamu dari Our’an.”

Tidak ada Batasan nilai kecilnya Maskawin (mahar)

Mengenai besar kecilnya Maskawi itu tidak ada batasan sbagaimana yang dapat kami fahami dari haits tersebut di atas termasuk juga dalam pan fiqih dalam Fathul-qorib sebagi berikut:

Baca Juga :  √ Kultum Ramadhan Tentang Sunah Berbuka dengan Ruthob atau Kurma

  وَلَيْسَ لِأَقَلِّ الصَّدَاقِ) حَدٌّ مُعَيَّنٌ فِيْ الْقِلَّةِ (وَلَا لِأَكْثِرِهِ حَدٌّ) مُعَيَّنٌ فِيْ الْكَثْرَةِ بَلْ الضَّابِطُ فِيْ ذَلِكَ أَنَّ كُلَّ شَيْءٍ صَحَّ جَعْلُهُ ثَمَناً مِنْ عَيْنٍ أَوْ مَنْفَعَةٍ صَحَّ جَعْلُهُ صَدَاقاً،﯁

Tidaklah ada batasan yang tegas mengenai nilai Mahar yang paling sedikit. Demikian pula dalam hal nilai Mahar yang paling banyak, akan tetapi pedoman dalam hal masalah Mahar (maskawin) itu adalah tiap-tiap sesuatu yang hukumnya sah menjadikannya sebagai pembayaran, baik berupa benda atau kemanfaatan, maka sahlah menjadikannya sebagai Mahar.

Pengertian dan Hukum Maskawin dalam Pernikahan
Pengertian dan Hukum Maskawin dalam Pernikahan

Maskawin yang baik

Maskawin atau ahar itu tidak boleh sampai memberatkan carilah maskawin yang paling mudah disiapkan namun sebaiknya sebagaiman keterangan diatas ialah jangan kurang dari 10 dirham dan tidak lebih dari 500 dirham.

Mengenai maskawin yang paling mudah sebagaiman diterangkan dalab sabda Rsulullah sebagai beirkut:

وَعَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( خَيْرُ اَلصَّدَاقِ أَيْسَرُهُ )  أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ , وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ

Dari Uqbah Ibnu Amir Radliyallaahu ‘anhu beliau berkata Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sebaik-baik maskawin adalah yang paling mudah.” HR. Abu Dawud dan Hakim Menshohekan hadits ini

Demikian Uraian ringkas kami mengenai : Pengertian dan Hukum Maskawin dalam Pernikahan. – mudah-mudahan materi yang kami buat ini bisa menjadi inspirasi bagi para pembaca. Terimakasih atas kunjungnnya.

بِاللهِ التَّوْفِيْقُ وَالْهِدَايَةُ و الرِّضَا وَالْعِنَايَةُ ثُمَّ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ